
"Mas Al.." seseorang itu kini berdiri tepat di sampingnya, sekaligus di hadapan mama Ressa.
Suasana berubah menegangkan. Hal yang Al takuti selama inipun terjadi. Dan lihatlah reaksi mama Ressa, saat ada perempuan yang memanggil putranya dengan sebutan 'Mas'. Jangan tanyakan seberapa paniknya Al saat ini, pria itu tentunya tidak bisa berbuat apapun lagi. Lantaran istrinya kembali melanjutkan kalimatnya.
"Ini pasti mamanya mas Al, kan? Apa kbar, mah? Akhirnya kita bisa ketemu juga," tanpa aba-aba, perempuan itu langsung saja memeluk tubuh wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
Tentu saja hal itu membuat mama Ressa tercengang sekaligus terkejut. Beliau kini mulai bertanya-tanya, siapa perempuan ini. Sementra Amera sama sekali tidak terkejut saat lertama kali melihat mama Ressa. Lantaran dia sudah melihat foto di dalam figuran berukuran besar yang terpampang di ruang keluarga.
Tanpa membalas pelukan Amera, mama Ressa justru melepaskan tangan itu dari tubuhnya.
"Kamu siapa? Al, dia siapa?" kali ini giliran Amera yang terkejut, hatinya sekaligus merasa hancur oleh pertanyaan yang di lontarkan mama Ressa barusan.
Amera menoleh ke arah suaminya yang terlihat gugup, dia semakin di buat bingung.
"Aku, Amera. Memangnya kamu gak pernah cerita sama mama kamu, mas? Kalau kita sudah menikah," sontak mama Ressa membulatkan matanya dan shock mendemgarnya. Ekspresi wajah bingungnya berubah terkejut, tidak percaya, kecewa, serta merasa sangat hancur.
"MENIKAH?" wanita itu bertanya dengan bibir gemetar.
Amera dan mama Ressa sama-sama kecewa terhadap Al yang menyembunyikan perihal pernikahannya terhadap mama Ressa. Al tidak menyangka hal tersebut akan terbongkar secepat ini. Tentunya hal ini menimbulkan masalah baru.
"Al ini maksudnya apa? Jelasin sama mama, Al!" mama Ressa pun akhirnya tak kuasa menahan tangis yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Al menghembuskan napas panjang seraya memejamkan kedua matanya.
"Iya, mah. Aku udah menikah dan ini istri aku," wanita paruh baya itu lebih di buat shok lagi oleh pengakuan putranya. Terlebih Amera pun yang baru tau kalau suaminya ternyata tidak menceritakan soal ini kepada mamanya. Amera semakin yakin kalau ada sesuatu yang membuat Al menikahi dirinya.
"Jadi kamu gak pernah sama mama kamu, mas. Soal pernikahan kita." tanyanya sambil terisak.
"Why, Al? Kenapa kamu sembunyikan ini dari mama?" Al yang mendapat pertanyaan dari keduanya merasa tesudutkan. Ia bingung harus menjelaskan kepada siapa lebih dulu, dan harus darimana memulainya.
"Mama kecewa sama kamu, Al. SANGAT!" setelah mengucapkan kalimatbbarusan, mama Ressa beranjak pergi.
"Mah.." Al yang hendak pergi mengejar mamanya menghentikan langkah, saat Amera menarik lengannya.
"Mas, kamu jelasin sama aku. Kenapa kamu gak ceritain pernikahan kita ke mama kamu? Sebenarnya apa alasan kamu nikahin aku itu apa, mas? Tolong jujur kali ini sama aku , aku mohon."
"Maaf, Amera. Saya harus kejar mama dulu buat jelasin ini semua," Al melepaskan tangan Amera yang berusaha menahannya, kemudian bergegas pergi menyusul mama Ressa.
"Mali, buka gerbang!" satpam itu langsung lari saat mendapat terikan dari sang majikan. Ia mengerutkan dahi heran melihat mama Ressa pergi lagi dalam keadaan menangis.
"Bu Ressa mau kemana lagi, bu?" pertanyaan itu di abaikan olehnya, namun saat melihat Al ikut menyusul, Mali mulai mengerti bahwa di antara mereka ada masalah.
"Mah, tunggu mah! Aku bisa jelasin semuanya. Maah.." Al berusaha menahan kepergian mama Ressa dan mencoba untuk memberikan pernjelasan. Namun sayangnya wanita itu terlanjur kecewa dan nekad pergi bersama taksi yang baru saja ia berhentikan.
"Jalan, pak!" pinta mama Ressa pada supir taksi. Beliau sama sekali tidak menghiraukan Al yang sedari tadi mengetuk-ngetuk kaca pintu samping mobil. Sampai akhirnya mobil itupun melaju dari sana.
Al pun segera lari ke mobilnya, guna mengejar ketertinggalan dari mamanya. Namun sayangnya, dia kehilanga jejak.
"Gue harus cari mama dan jelasin yang sebenarnya!" mata pria itu mulai berkaca-kaca. Ia takut terjadi sesuatu buruk pada mamanya di luar sana. Terlebih kondisinya yang sedang tidak baik.
Mama Ressa yang saat ini berada di dalam taksi terus saja menangis. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Al bisa setega ini pada dirinya. Memang apa alasan Al menyembunyikan perihal pernikahannya terhadap dirinya.
Harusnya kepulangannya dari Singapur menjadi momen yang bahagia. Ini justru sebaliknya. Menjadi momen yang tak terduga. Bukannya Al dan Disa yang mendapatkan surprise atas kepulangannya. Justru dia yang di buat terkejut akan hal ini.
Mama Ressa mengusap air matanya, lalu memberitahukan alamat tujuan kepada sang supir.
***
Amera menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. Sialnya, air matanya turun sejak dari dan seolah tidak mau berhenti.
Sebenarnya apa tujuan kamu nikahin aku, mas? Kenapa kamu gak jujur sama aku?
Perempuan itu menghirup banyak-banyak oksigen seraya memejamkan kedua matanya. Kemudian menghembuskan napas panjang secara perlahan.
"Gimana kalo papa sampai tau soal ini? Papa pasti akan marah sama mas Al. Papa pasti akan berpikir kalau mas Al ternyata tidak sebaik yang papa pikir," Amera pun kini cemas.
Sementara di tempat mama Anna dan papa Abdi yang menginap di Hotel Pelabuhan Ratu. Pria bertubuh besar itu tengah gelisah dan kepikiran soal putrinya. Mungkin ikatan di antara mereka terlalu kuat, sehingga pada saat Amera di terpa masalah pun beliau bisa merasakannya.
Kenapa aku terus kepikiran Amera? Apa dia baik-baik aja di sana?
Papa Abdi merogoh ponsel di saku kemejanya, lalu mendial nomer putrinya di sana. Tidak berapa lama, sambungan telpon pun terhubung.
"Assalamu'alaikum, pah. Ada apa, pah?" papa Abdi mendengar suara putrinya sedikit sumbang langsung khawatir.
"Walaikumussalaam warrahmatullahi wabarokaatuh, nak. Kamu baik-baik aja kan, sayang? Papa khawatir sekali sama kamu," tanya pria itu memburu.
"Aku baik-baik aja kok, pah. Oh ya, papa sama mama gimana, udah nyampe Sukabumi?"
"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Papa gak tau kenapa kepikiran kamu terus daribtadi. Emm, papa sama mama sekarang lagi nginep di Hotel Pelabuhan Ratu, kita nginep untuk malam ini. Rencananya besok kita baru ketemu sama partner bisnis kita."
"Oh, gitu. Yaudah kalo gitu papa sama mama istirahat ya. Jangan sampe kecapean apalagi sakit!"
"Iya, nak. Kamu juga, ya. Assalamu-alaikum warrahmatullahi wabarokaatuh."
"Walaikun salam, pah."
Setelah menutup telponnya, papa Abdi merasa bersalah lantaran telah berbohong ke putrinya soal tujuannya pergi ke Sukabumi.
Maafin papa ya, nak! Papa belum bisa kasih tau soal ini dulu sama kamu. Takutnya kmau akan sama berharapnya seperti mama. Berharap kalau Indah memang masih hidup, namun nyatanya itu sebuah kebetulan dalam bentuk kemiripan.
Sama halnya seperti papa Abdi, Amera pun merasa bersalah saat sambungan terlpon dia antara mereka terputus.
"
Maafin aku, pah. Aku gak kasih tau papa soal masalah aku sekarang. Aku takut papa cemas.
___
Jangan lupa dukung karya aku dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE, dan beri hadiah ❤❤❤
Tambahkan juga ke rak buku favorit kalian. Dan follow ig @wind.rahma