
Amera naik ke atas ranjang tidur. Lalu duduk di samping suaminya yang tengah duduk bersandar sambil memejamkan kedua matanya. Perempuan itu baru saja mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna ungu muda.
"Mas ..." panggilnya lirih seraya menyentuh bahu suaminya, pria itu pun membuka mata.
"Apa?" tanya Al sambil membenarkan posisi duduknya ke posisi lebih nyaman.
"Tadi pagi kamu kemana? "
"Kenapa emangnya?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, pria itu justru bertanya balik.
"Ya aku cuma mau tahu aja, Mas. Kamu pergi ke mana, sama siapa, emangnya nggak boleh aku nanya gitu ke kamu?"
"Bukan urusan kamu!" Jawab pria itu membuat Amera seketika diam.
"Kenapa sih, Mas, jadi setiap kali aku pergi aku harus izin sama kamu tapi kamu sendiri gak pernah izin sama aku. Sebenarnya kamu anggap aku itu apa?" Tanya perempuan itu dengan nada bicara yang terdengar parau. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, namun dia berusaha menahan air matanya agar tidak menangis di depan suaminya.
Al menatap istrinya yang kini tertunduk. Seketika dia teringat pembicaraannya dengan Amera beberapa waktu lalu.
Bayangan on
"Dulu, sebelum kita ketemu. Hidup aku memang sudah berantakan. Mama, orang yang aku pikir adalah ibu kandung aku membenci aku, ketika dia pikir aku yang sudah membuat adik aku celaka sampai meninggal. Dia bilang, kalau aku bukan putri kandungnya.
Bayangan off
Hal tersebut bersahut-sahutan dengan ucapan Arsen tadi pagi di kantor.
Bayangan on
"Bahkan mereka sampai nanya-nanya orang tua anak yang mengalami luka ringan itu dari nama sampai ciri-cirinya. Dan waktu saya tanya seperti yang mereka tanyakan, dokter Handoko mengatakan ciri-ciri orang itu yang pasti laki-laki dan mempunyai tahi lalat di bagian ujung batang hidung laki-laki tersebut. "
Bayangan off
Kalau Disa beneran putri Papa Abdi sama mama Anna. Berarti apa yang sudah Papa lakukan selama ini ternyata membuat pihak lain tersakiti. Dan Amera yang menjadi korban semua ini. Dia sampai dibenci Mama Anna karena dituduh sebagai penyebab kematian putrinya. Bukan cuma itu, Amera juga kehilangan kasih sayang seorang ibu. Gue benar-benar jadi ngerasa bersalah banget atas semua ini.
Al menghela napas berat. Perlahan tangannya bergerak meraih buah tangan Amera. Perempuan itu mendongakkan wajahnya saat tangan Al menyentuh buah tangannya. Pria itu menatap lekat istrinya.
"Saya minta maaf sama kamu, karena tadi pagi gak izin dulu. Lain kali saya pasti akan izin sama kamu. Kemanapun saya pergi!" Ucapnya lembut, membuat kedua sudut bibir Amera mulai terangkat menciptakan sebuah senyuman. Ia tidak menyangka, Al bisa bersikap manis seperti ini padanya.
"Beneran?" Tanya perempuan itu manja.
"Iya." Jawab pria itu. Senyum Amera semakin mengembang dengan sempurna.
"Makasih ya, Mas."
"Iya." jawab pria itu lagi.
Entah kenapa, melihat Amera tersenyum seperti ini membuat hati pria itu terasa hangat. Tanpa sadar, satu sudut bibirnya terangkat ikut tersenyum.
Al sontak membulatkan matanya sempurna mendapat pertanyaan barusan dari Amera. Sasana berubah menegangkan.
"Ketemu dimana?" Tanya pria itu.
"Jadi aku sama Mama tadi habis dari salon, terus gak sengaja ketemu di sana. Awalnya dia maki-maki aku karena dia gak terima kalau aku nikah sama kamu. Dia juga maki-maki mama sampai akhirnya dia bilang gitu ke mama." Jelas Amera panjang lebar.
Hal tersebut tentunya memantik emosi Al.
Tante Marina mamanya Revan. Kenapa orang itu bisa tahu masa lalu mama ya? Pikir Al.
Al menghela napas berusaha mengontrol dirinya. Sambil berusaha tenang agar Amera tidak curiga.
"Kamu ingat sama saya pernah bilang kalau mama pernah melakukan operasi pengangkatan rahim?"
Amera mengangguk. "Ya, aku ingat."
"Itu dilakukan setelah Mama melahirkan Disa. Dan mungkin orang itu nggak tahu kalau Mama kehilangan rahimnya setelah mama punya anak lagi selain saya." Kata Al berusaha meyakinkan Amera.
"Iya juga kali ya? Tapi Emangnya Mama beneran sampai stress ya waktu kehilangan rahimnya?" Tanya Amera lagi, membuat Al kembali menghela napas berat.
"Perempuan mana yang akan baik-baik saja ketika tahu rahimnya harus diangkat?"
"Iya juga, mas. Maafin aku ya kalau pertanyaan aku barusan sampai menyinggung perasaan kamu." Amera menetap lekat suaminya.
"Iya. Udah sekarang kamu tidur!" Ujar pria itu seraya mengedikkan dagunya ke arah bantal Amera.
"Iya, mas. Kamu juga tidur ya. Good night!" Ucapnya sebelum kemudian membaringkan tubuhnya. Sementara Al di buat gugup dan tidak bisa berkata-kata. Yang mampu dia lakukan hanyalah mengusap wajahnya seraya menghembuskan napas panjang.
Al ikut membaringkan tubuhnya menoleh ke arah Amera yang sudah lebih dulu memejamkan mata. Sepertinya dia sudah tertidur pulas. Kemudian kembali menatap langit-langit kosong seraya berpikir.
Gue harus temui orang itu. Jangan sampai mereka ketemu lagi dan membahas soal itu. Ujarnya dalam hati.
***
Pagi harinya di kamar unit apartemen Disa. Perempuan itu tengah duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Ia tampak mengecek sesuatu di dalam ponsel yang saat ini ia genggam.
"Kenapa gue belum juga haid, ya? Harusnya kan dari kemarin gue udah haid." Ujarnya pada diri sendiri.
"Aku jangan-jangan gue hamil?" Pikirnya lagi.
"Kalau beneran gue hamil, itu artinya bentar lagi Revan bakal jadi milik gue dan rencana gue berhasil." Ekspresi wajah Disa berubah bahagia.
"Gue harus pastiin ini semua," ujarnya lagi kemudian beranjak setelah menyambar tas yang ada di atas nakas.
_Bersambung_