TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 56


Arsen sampai di rumah sakit Puja Medika. Ia langsung menuju ke bagian data pasien.


"Permisi, sus!"


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya suster begitu antusias.


"Ya. Saya mau menanyakan pasien yang bernama Indah Arandita yang dilarikan ke sini pada saat kecelakaan sembilan belas tahun lalu."


"Sebentar ya, Pak. Saya cek dulu!" Arsen pun mengangguk.


"Baik, sus."


Suster pun segera mencari data nama pasien tersebut dengan teliti lantaran tidak mau ada kesalahan nantinya.


"Pasien yang bernama Indah Arandita memang pernah dirawat di rumah sakit ini, Pak."


Arsen pun merasa sangat lega, setidaknya ada titik terang di sana.


"Tapi sayangnya pasien tersebut tidak dapat diselamatkan!" Sambung suster tersebut.


"Kalau Boleh saya tahu, dokter yang menangani pasien tersebut siapa ya, sus?" Tanya Arsen lagi.


"Namanya dokter Handoko Wijaya. Dia sudah tidak lagi bertugas di rumah sakit ini."


"Pindah atau bagaimana?"


"Kalau itu Saya kurang tahu pak."Jawab Suster itu lagi.


"Suster tahu alamat dokter Handoko itu di mana? "


"Wah kalau itu saya tidak bisa kasih tahu, Pak. Karena itu merupakan privasi."


"Saya mohon, sus! Saya ada perlu penting dengan dokter Handoko."


"Maaf ya Pak. Tidak bisa. Kecuali, Bapak adalah pihak keluarga dari pasien."


"Begitu ya, sus. Ya udah kalau begitu terima kasih atas informasinya, sus."


"Iya Pak, sama-sama."


Arsen melangkah pergi dari sana kemudian kembali ke dalam mobil.


"Gimana caranya ya supaya bisa mendapatkan alamat dokter Handoko?" Arsen tampak sedang berpikir keras.


"Apa saya kasih tahu Pak Al dulu ya?" Kemudian Arsen merogoh ponsel di balik saku jas hitamnya, lalu mendial nomor Al di sana.


Al saat ini berada di taman belakang rumahnya. Hari ini dia tidak pergi ke kantor lantaran masalah Disa tadi pagi yang membuat Mama Ressa murka sampai tidak mau bicara dengan siapapun termasuk dengan dirinya.


Disa udah benar-benar keterlaluan. Dia udah bikin Mama sangat kecewa. Gue gak pernah lihat mama semarah dan sekecewa ini. Mama sampai gak mau ketemu sama siapapun. Gue takut kalau mama sakit dan stress lagi.


Al menghembuskan napas sambil mengusap wajahnya sedikit kasar. Tiba-tiba dering ponsel yang berasal dari ponselnya mengalihkan perhatiannya. Dia segera mengangkat telepon tersebut.


"Ya, Sen?"


"Iya, Pak. Saya mau lapor soal perkembangannya, Pak. Jadi, saya sudah menghubungi pak Sugandi. Beliau bilang kalau Putri Pak Abdi dengan Bu Anna itu dilarikan ke rumah sakit Puja Medika saat kecelakaan. "


"Terus kamu udah ke rumah sakit itu?"


"Iya, Pak. Barusan saya sudah tanyakan ke suster bagian data pasien. Kalau anak itu memang sempat dilarikan ke sini tapi, nyawanya tidak dapat diselamatkan."


"Apa Data itu benar-benar akurat, Sen?" Tanya Al lantaran masih ragu.


"Tentu, pak. Barusan saya juga menanyakan dokter yang menangani anak itu, tapi dokter itu sayangnya sudah tidak lagi bekerja di rumah sakit ini, pak."


"Kamu udah minta alamat dokternya?"


"Itu dia, Pak. Suster itu tidak bisa memberikan alamat dokter yang menangani anak itu, lantaran hal itu melanggar privasi. Kecuali pihak dari keluarga pasien."


Al terdiam sejenak sambil berpikir.


Pihak rumah sakit hanya akan memberikan alamat dokter itu ke pihak keluarganya. Gak mungkin juga kan kalau gue suruh Arsen buat mengaku keluarga Amera. Takutnya pihak rumah sakit menghubungi pihak keluarga aslinya. Semuanya akan berantakan.


"Sen?"


"Iya, Pak?"


"Nama dokter yang menangani Indah Arandita itu siapa?"


"Dokter Handoko Wijaya, Pak. "


Al tertegun.


"Nanti saya kasih tahu lagi apa yang harus kamu lakukan selanjutnya, Sen."


"Baik, Pak."


Setelah sambungan teleponnya dimatikan, Al segera mencari nomor kontak dokter Mario. Ia berharap kalau nomor itu masih aktif. Dan ketika ia coba telepon, nomornya memang masih aktif. Tapi sayangnya dokter Mario sedang berada dalam panggilan lain.


"Gue coba chat aja kali ya?" Pikirnya.


Selamat siang, dokter Mario. Saya Alan Permadi, putra dari Permadi. Saya ingin bertanya apakah anda mengetahui alamat dokter Handoko Wijaya yang bertugas di rumah sakit Puja Medika? Saya ada kepentingan dengan beliau. Terima kasih.


Al menggenggam ponselnya setelah mengirimkan pesan tersebut guna menunggu balasan dari dokter Mario.


Dari kejauhan, Amera melihat suaminya tengah duduk di bangku besi putih taman belakang rumah. Ia menyipitkan kedua matanya guna memastikan apakah itu benar suaminya.


"Itu, mas Al. Ngapain dia di sana?" Pikirnya.


"Aku samperin aja deh." Ujarnya lagi kemudian melangkahkan kaki guna menghampiri suaminya.


Suara notifikasi pesan masuk ke ponsel Al. Pria itu segera membukanya.


Siang.


Kalau tidak salah dokter Handoko tinggal di Jampang-Sukabumi, Jalan xx nomor xx. By the way, Saya turut berduka cita atas meninggalnya Pak Permadi. Saya minta maaf waktu itu tidak bisa datang karena ada urusan di luar negeri.


Jampang-sukabumi? Lumayan jauh juga dari sini. Gue harus kasih tahu arsen secepatnya.


Sebelum menelpon Arsen, Al kembali mengetikkan balasan untuk dokter Mario.


Iya dokter. Tidak apa-apa. Saya mengerti. Terima kasih banyak atas informasinya.


Setelah itu ia menelepon asisten pribadinya.


"Halo, Sen. Saya sudah mendapatkan alamat dokter itu. Hari ini juga kamu pergi ke Sukabumi. Nanti saya kirim alamat lengkapnya."


Setelah itu sambungan telepon pun kembali dimatikan.


"Sukabumi?"


Al terlonjak kaget ketika ada seseorang yang mendengar pembicaraannya dengan Arsen. Begitu menoleh, Amera berdiri di hadapannya saat ini.


"Siapa yang mau ke Sukabumi, Mas?" Tanya Amera lagi, membuat pria di hadapannya gugup namun dia berusaha menutupi kegugupannya itu.


Tanpa disuruh, Amera mendaratkan tubuhnya duduk di samping suaminya.


"Bukan urusan kamu!"


"Aku ini istri kamu, Mas. Aku berhak tahu urusan suami aku sendiri." Amera menatap lekat suaminya yang sama sekali tidak ingin menatapnya balik. Perempuan itu menghela nafas.


"Beberapa hari lalu mama sama papa aku juga sempat pergi ke Sukabumi."


Seketika Al menoleh dan sontak tertarik dengan pembicaraan istrinya.


"Ke Sukabumi? "


Amera mengangguk.


"Ngapain?"


"Bukan urusan kamu, Mas." Ujarnya. Menciptakan kemarahan tertahan di raut wajah suaminya.


"Saya ini suami kamu. Harusnya kalau kamu tahu sesuatu, cerita sama suami kamu!"


Amira mengulum senyum melihat ekspresi wajah suaminya.


"Ngapain senyum-senyum? Balas dendam sama saya karena tadi saya gak jawab pertanyaan kamu? Iya?"


"Ya ampun, Mas Al. Siapa sih yang balas dendam? Kamu aja kali yang pikirannya negatif terus sama aku."


"Ya terus itu apa kalau bukan balas dendam? Kalau suami lagi nanya itu dijawab!"


"Iya, Mas, Iya. Jadi mama sama papa ke Sukabumi Katanya urusan bisnis. Itu aja kok mas."


"Itu aja jawabannya susah." gerutu Al sebelum kemudian pergi.


Amera hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala menatap kepergian suaminya yang membawa raut wajah kesal.


Mas, Mas. Terkadang kamu lucu juga kalau lagi kesel kayak gitu.


_ Bersambung_