Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
8. Tiran Nggak Punya Hati


Wanita yang tadi sudah berniat menyerahkan dirinya kini hanya tertunduk malu sambil meremat ujung dress yang ia pakai. Dia sangat malu mengingat kejadian tadi, bagaimana dia bisa bertindak seperti ja**Ng. Apalagi saat laki-laki itu tertawa dengan senangnya setelah membiarkan sang wanita gemetaran hampir pingsan. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika mereka benar-benar melakukan hal itu, mungkin wanita yang pura-pura berani itu akan benar-benar pingsan.


"Peefftt!!" Axel tidak bisa berhenti tertawa mengingat kejadian tadi saat wajah perempuan itu pucat pasi.


Aaa aku sangat malu, pria itu pasti sedang menertawakanku dalam hatinya kan. Tapi aku juga takut, bagaimana kalau dia membatalkan rencananya untuk membeliku. Gelisah Alesya dalam keadaan seperti itu, tetap saja mencemaskan sang ibunda.


Ah ya, ngomong-ngomong dia belum tau bagaimana kabar ibunya. Karena memikirkan laki-laki itu, dia jadi lupa.


"Emmm tu--tuan, apa saya boleh tau bagaimana keadaan ibu saya saat ini. Apakah anda benar-benar sudah membayarkan biaya operasinya?" tanya wanita itu penuh kecemasan. Matanya yang indah menatap laki-laki yang berdiri di belakang Axel untuk mencari jawaban.


"Kau bahkan belum melakukan tugasmu tapi sudah meminta bayaran lebih dulu." Suara tegas seseorang membuat Alesya menciut, tapi bukankah semalam pria itu sudah berjanji akan membayarkan biaya rumah sakit di awal.


"Maafkan saya, tapi saya hanya minta sedikit dari bayaran yang anda janjikan. Nyawa ibu saya bisa saja dalam bahaya kalau tidak segera dioperasi. Saya mohon Tuan, selamatkan ibu saya. Saya janji akan menepati janji saya untuk menyerahkan tubuh saya pada anda." Mata yang tadi menatap penuh harap saat ini barkaca-kaca. Menunjukkan kalau sang ibu adalah kelemahan terbesarnya. Dia tidak bisa sok kuat dan berani jika itu menyangkut wanita yang telah melahirkannya.


"Siaall!!" Pria berdarah dingin itu hampir saja tersihir oleh sorot mata penuh iba milik Alesya. Seolah-olah dia juga bisa merasakan kesedihan wanita itu. Padahal selama ini Axel adalah pria yang sama sekali tidak pernah merasa iba. Dia segera memalingkan wajahnya dari wanita itu.


"Tenang saja Nona, Tuan selalu menepati janjinya. Semua biaya operasi dan perawatan termasuk fasilitas yang terbaik sudah selesai diurus. Tuan juga sudah memerintahkan seseorang untuk berjaga di sana untuk melihat bagaimana kondisi ibu anda. Jika sesuai jadwal maka pagi ini ibu anda akan menjalani operasi cangkok sumsum tulang belakang."


Dunia seakan memberikan setitik cahaya bagi Alesya yang sempat pesimis. Benarkah sang ibu bisa menjalani operasi, apa artinya dia bisa segera berkumpul dengan ibunya nanti. Betapa beruntungnya dia bertemu dengan laki-laki berwajah dingin itu. Bagi Alesya saat ini, Axel seperti malaikat yang datang diwaktu yang tepat.


Wanita itu tiba-tiba berdiri, membuat Axel dan Ken sedikit menyerngitkan keningnya.


"Terimakasih Tuan, terimakasih anda sudah menolong ibu saya. Terimakasih banyak ...." Begitu terharunya Alesya sampai tidak bisa meneruskan ucapannya. Dia hanya membungkuk berulang kali.


Anda jangan senang dulu Nona, Tuan tidak sebaik itu jika tidak ada imbalannya. Ken bergumam dalam hati.


"Tuan ... bolehkah saya melihat ibu saya," pinta Alesya memberanikan diri. Ia pikir laki-laki itu begitu baik, pasti akan memberinya ijin.


Pria yang menggunakan stelan jas hitam itu mengangkat sudut bibirnya. Jika wanita itu mengira kalau seorang Axel adalah malaikat tanpa sayap. Maka itu salah besar, bahkan pria itu sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuat wanita itu berpikir ulang karena sudah menganggap Axel bak malaikat tanpa sayap.


"Aku sudah menepati janjiku, bukankah seharusnya kau juga," ujarnya kemudian. Seraya mengetuk-ngetukkan jarinya pada lututnya yang terangkat.


"Saya tau Tuan, saya tidak akan kabur. Saya pasti kembali untuk menepati janji," jawab Alesya sangat yakin.


"Ohh iya, apa kamu tau janji seperti apa itu?"


"Ya itu benar, tapi aku tidak mau terburu-buru. Sepertinya kau perlu waktu untuk menghilangkan rasa takutmu."


"Tidak Tuan, saya tidak masalah. Anda bisa segera melakukannya agar semuanya cepat selesai," sahut Alesya.


"Apanya yang cepat selesai? Sepertinya kamu sudah salah paham. Aku membelimu bukan hanya untuk melampiaskan hasrat semalam tapi untuk memilikimu. Sekarang kamu adalah milikku, tubuhmu dan semuanya yang ada dalam dirimu adalah milikku." Axel memandangi wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"A--apa maksud anda Tuan? Saya tidak mengerti. Bukankah saya hanya akan menyerahkan kesucian saya bukan berarti saya akan menjadi milik anda." Alesya sungguh tidak mengerti dengan situasi itu, apa dia sudah masuk dalam permainan sang tiran.


"Apa kamu aku akan menghargai kesucianmu itu seharga satu miliar? Perlu kamu tau, banyak wanita yang bahkan dengan suka rela naik ke ranjangku. Aku membelimu untuk aku miliki, suka atau tidak kau harus menerimanya karena kau sudah menggunakan uangku. Atau kau mau aku menghentikan operasi ibumu sekarang. Saat bahkan tubuhnya baru sedang di belah, kau akan menghentikannya?" Menyeringai.


"Tidak! Bagaimana mungkin anda seperti ini, saya tidak menjual diri untuk dijadikan budak. Saya tidak mau dan tidak sudi ... hiks." Alesya sangat geram serasa dipermainkan. Dia tidak menyangka kalau pria di depannya akan sangat berbahaya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Itu terserah padamu. Aku hanya perlu menghentikan operasi ibumu saat ini dan kau juga harus mengganti uang yang sudah kamu pakai untuk membayar biaya operasi dan semua fasilitas yang aku berikan." Pria itu sungguh tidak berperasaan. Dia berkata seperti itu tanpa rasa iba sedikitpun. "Ken, suruh mereka menghentikannya!" serunya pada sang asisten.


"Baik." Ken tidak bisa berbuat apa-apa selain mematuhi perintah atasannya. Dia mengangkat teleponnya dan melakukan panggilan ke rumah sakit.


"Hallo, apa operasi sudah di mulai?" tanya Ken. Dia sengaja menggunakan pengeras suara agar wanita yang sedang menangis itu mendengarnya.


"Iya Tuan, dokter yang anda datangkan dari luar negeri baru saja tiba dan sedang melakukan operasi. Apa ada yang bisa saya bantu Tuan?" sahut suara seorang dokter dari dalam telepon yang juga bisa di dengar oleh Alesya.


Alesya cukup terkejut mendengarnya, dokter dari luar negeri. Apa artinya dokter yang lebih baik dari dokter sebelumnya.


Ken menatap wajah Alesya, menunggu wanita itu membuka mulutnya. Saya tau kalau hal itu mungkin berat tapi sebaiknya anda jangan terlalu banyak berpikir sebelum terlambat.


"Ken!" sentak Axel mengingatkan asisten nya agar segera bicara.


Apa anda akan diam saja nona.


Siapa yang mau dijadikan budak. Termasuk Alesya, dia mencengkeram jemari tangan. Tubuhnya bergetar hebat dan pikirannya berkecamuk.


"Hentikan operasinya!"