
"Duduklah," perintah laki-laki itu pada Alesya yang berdiri di depannya.
Perempuan itu menurut, dia mengambil jarak agak jauh dari pria itu.
"Kenapa di situ? Mendekatlah, jangan terlalu jauh." Axel protes karena Alesya menghindarinya.
Perempuan itu menggeser sedikit tubuhnya, bahkan seperti tidak berpindah posisi. Baginya ini sudah terlalu dekat.
"Bukankah kau mau ini, jika tidak mau mendekat maka lupakan. Aku akan membuangnya saja." Axel memperlihatkan kotak handphone keluaran terbaru yang akan diberikan pada Alesya.
Melihat benda yang sedang dipegang pria itu membuat Alesya berbinar. Akhirnya dia bisa mempunyai alat untuk berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya. Dia berusaha meraih benda itu tapi laki-laki Tiran itu sudah lebih dulu menariknya menjauh dari jangkauannya.
"Sudah aku bilang, mendekatlah jika mau ini," ujar Axel sembari mengangkat benda itu tinggi-tinggi.
"Tu--tuan ...."
"Aku tidak suka mengulangi perkataanku. Kesabaranku tidak cukup banyak, jadi jangan sampai membuatku kesal," ancam Axel, dia bisa saja membuang ponsel itu jika kesal. Tidak peduli dengan harganya.
Alesya tidak mau kehilangan kesempatan untuk memiliki alat untuk komunikasi. Mau tak mau dia menggeser tubuhnya hingga kini mereka hampir saling menempel. "Sekarang bisakah anda menyerahkan ponselnya, Tuan?" tanya Alesya dengan wajah memohon.
"Aaa ...." pekik Alesya saat tiba-tiba tangan seseorang melingkar di pinggang rampingnya. Memeluknya erat hingga membuat tubuh menjadi bersentuhan.
"Kenapa kau suka sekali menguji kesabaranku." Menatap lekat bola mata indah milik Alesya. Mata itu bagai sihir bagi siapa saja yang melihatnya. Warna birunya sangat menenangkan dan menyejukkan.
"Tu--tuan, Anda tidak bisa melakukan ini. Banyak orang yang melihat sekarang," protes Alesya sambil sedikit memberontak agar pria itu melepaskannya.
Bibir itu tersenyum smirk mendengar perkataan Alesya.
"Apa maksudmu kalau tidak ada orang maka aku bisa melakukan apa saja padamu?" tanya pria itu. Tangan satunya mengusap pipi lembut Alesya.
Ucapan Alesya terhenti saat tiba-tiba bibir pria itu menyambar bibirnya. Teknik pria itu dalam b€rc1um4n sangat lihai, dalam sekejap lid4hnya sudah berhasil memasuki rongga mulut Alesya.
Perempuan itu pun tidak bisa melawan karena tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan diri. Awalnya dia enggan membuka mulut karena mereka tidak saling kenal sebelumnya. Akhirnya dia membiarkan begitu saja pria itu bertindak semaunya. Alesya sadar kalau ini adalah bagian dari uang yang sudah ia terima.
"Hosh, hosh ...." Mereka sampai kehabisan nafas. Axel begitu menikmati permainan mereka, bibir Alesya terasa manis dan membuatnya candu.
"Tu--tuan ...." Wajah Alesya memerah. Dia menunduk tidak mau mengangkat kepalanya. Di sana tadi banyak orang, malu sekali dia karena sudah melakukan hal seperti itu dihadapan banyak orang. Sebenarnya itu hal yang baik jika dimanfaatkan. Dia bisa menunjukkan pada para pelayan yang diam-diam membicarakannya kalau dia benar-benar calon nyonya di rumah itu.
"Angkatlah kepalamu, lihatlah." Axel memerintah dengan jelas dan tepat. Dia menjep1t dagu perempuan itu agar melihat sekeliling.
Awalnya Alesya tidak mau tapi setelah dipaksa. Dia pun membuka mata. Dia terkejut karena di ruangan itu yang tadi banyak orang sekarang hanya ada mereka berdua.
"Ini ponselmu." Axel menyerahkan benda kotak itu pada sang istri.
"Terimakasih, Tuan."
"Panggil aku Axel. Kau harus mulai terbiasa padaku, jangan tunjukkan wajah takutmu itu saat di dekatku. Apalagi jika di depan orangtuaku nanti. Ingatlah kita akan menikah jadi kau harus menunjukkan pada orang-orang kalau kau begitu mencintaiku. Besok Ken akan memberikan tugas apa saja yang harus kau lakukan saat menjadi istriku."
Axel menyerahkan ponsel itu dengan melemparnya. Kalau saja Alesya tidak cepat menangkap pasti akan terlempar ke lantai.
Huft hampir saja terjatuh.
Alesya memeluk benda itu. Dengan benda itu dia bisa menghubungi temannya, Mishel. Lalu menjelaskan apa yang terjadi agar sang teman tidak mencemaskannya. Dia juga perlu tau bagaimana keadaan sang ibu yang sebenarnya. Meski asisten Ken sudah memberikan informasi tapi Alesya masih belum begitu mempercayainya.
"Gunakan ponsel itu dengan benar. Di dalam sana ada nomorku dan nomor Ken. Hubungi aku atau Ken jika membutuhkan sesuatu. Ah tapi aku harap kamu tidak terlalu sering menghubungiku, itu pasti mengganggu."
Setelah mengatakan hal itu, Axel bangun dan meninggalkan Alesya. Dia berhenti saat berada di tengah tangga. Melihat bagaimana perempuan itu begitu senang saat membuka kotak ponsel itu. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa saja yang akan dihubungi oleh perempuan itu. Kalau perempuan itu berani mencari bantuan untuk pergi darinya maka Axel tidak akan pernah mengampuninya.