Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
36.


Pepatah mengatakan kalau roda itu pasti berputar, kadang kita bisa berada di atas kadang kita bisa berada di bawah. Saat berada di atas seharusnya kita tidak melupakan bagaimana saat kita berada di bawah dan tidak menginjak orang lain untuk berada di atas. Karena kita tidak akan pernah tau kapan roda kehidupan akan berputar. Mungkin lama, atau bisa juga sangat cepat seperti apa yang dialami keluarga seseorang yang terlalu serakah dalam hidupnya.


Dua minggu berlalu.


Dialah keluarga paman Gerald yang saat ini sedang mengalami perputaran roda itu. Dulu sekali mereka pernah merasakan di bawah lalu karena kebaikan saudara nya dia bisa berada di atas. Tapi dia tetap merasa tidak cukup dan ingin memiliki apa yang orang lain miliki bagaimanapun caranya.


Sekarang mereka merasakan bagaimana rasanya berada di bawah bahkan lebih hina dari sebelumnya. Paman Gerald telah resmi menjadi tersangka penggelapan dana dan belakang fakta mengenai penyebab kematian ayah Alesya juga baru terungkap kalau dia terkena serangan jantung akibat ulah adiknya sendiri.


Alesya tentu saja Murka, dia tidak mau memaafkan pamannya itu meski sang paman bersujud di depannya sekalipun.


Sedangkan istrinya Marsha pun tidak jauh berbeda nasibnya dengan sang suami. Dia sudah tidak memiliki apapun saat ini. Semua harta suaminya telah di sita. Dia sempat membawa perhiasan miliknya tapi itupun habis karena saat itu dia yang malu pada teman-temannya pun me menjual semua perhiasan lalu membeli pakaian dan tas baru agar tidak terlihat miskin di depan teman-temannya tapi ternyata berita tentang suaminya telah menyebar kemana-mana dan saat itu juga, Marsha mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya.


"Dasar istri koruptor! Pergi sana, kami tidak mau berteman dengan mu lagi. Kau juga sudah tidak pantas ada jadi anggota kami!"


"Iya, sana pergi. Kau sudah susah sekarang. Tidak cocok dengan kami!"


Marsha pun pergi dengan menanggung hinaan, bahkan dulu saat ia miskin tidak pernah ada orang yang menghinanya dengan kejam seperti itu. Sia-sia Marsha membeli tas dan pakaian mahal. Dia pun menjualnya tapi sayang, dia tertipu. Barangnya hilang tapi tidak mendapatkan uang. Marsha hanya bisa menelan kenyataan pahit kalau dirinya baru saja tertipu.


"Tidaakk!! Jangan!! Jangan sentuh aku!! Hahaha aku akan membunuhmu ... hahaha ... aku cantik, aku anak papah yang paling cantik. Aku mau belanja, Papah aku mau belanja. Hahaha ..."


Begitulah keadaan Caroline saat ini. Setelah kejadian malam itu yang merenggut kehormatan nya. Perempuan itu jadi seperti ini, bicara sendiri, teriak, menangis dan kadang tertawa. Saat ada yang mengajaknya berbicara sama sekali tidak menyahut dengan benar. Seharusnya dia bisa mendapatkan perawatan agar bisa normal kembali tapi Marsha sudah tidak punya uang lagi. Jadi dia membiarkan putrinya seperti itu.


"Makanlah Carol, tidak ada ayah goreng di sini. Makanlah seadanya!" seru Marsha pada putrinya yang sejak tadi merengek minta ayam goreng.


"Tidak mau ... huhu aku mau ayam goreng... aku mau minta sama daddy saja." "Daddy... daddy ..." Caroline berteriak mencari papahnya. Kadang dia lupa kalau papahnya ada di penjara.


Plak! Begitulah cara Marsha menyadarkan putrinya jika membuat dia kesal.


"Tidak usah mencari daddymu. Dia sudah miskin sekarang dia ada di penjara. Sadarlah Caroline, kita itu sekarang sudah jatuh miskin jadi tolong kamu jangan membuat mamah susah. Kalau seperti ini terus lama-lama mamah bisa ikut gilaa!" Marsha membanting piringnya lalu pergi meninggalkan sang putri sendirian.


Marsha tidak pernah menyangka kalau saat dia kembali yang tersisa hanya tinggal jasad sang putri. Marsha menangis sekencang-kencangnya saat melihat putrinya tergeletak tak bernyawa di kontrakan kecil yang ia sewa. Ternyata saat Marsha meninggalkan kontrakan...