Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
33.


Besoknya semua yang terjadi tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginan serakah seseorang. Semua bisa merasakan apa yang namanya hukum karma. Seperti apa yang menimpa keluarga paman Gerald pagi ini, setelah mendengar cerita dari putrinya.


Tanu terduduk lemas, matanya menatap kosong pada putrinya yang saat ini sedang menangis sesenggukan diperlukan ibunya. Putri yang dia sayang dan dia jaga selama ini telah hancur dalam semalam dan itu semua karenanya. Ayah mana yang tidak hancur melihat putrinya yang kacau, pakaiannya robek tidak berbentuk, ditubuhnya jelas sekali terdapat beberapa luka fisik dan batinnya.


"Bagaimana bisa jadi seperti ini, Pah kau harus minta pertanggungjawaban pada orang itu. Orang yang sudah membuat putri kita seperti ini. Mamah tidak ikhlas putri mamah diperlukan seperti ini. Secepatnya suruh orang itu untuk menikahi putri kita, Pah!" Marsha sebagai ibu juga merasa sakit melihat keadaan putrinya.


"Hiks, aku tidak mau menikah dengan orang br3ngsek itu Mah. Aku ingin membunuhnya, Papah harus membalaskan dendamku pada laki-laki itu." Caroline benar-benar marah dan merasa dibohongi. Bagaimana bisa pria yang ia temui semalam melakukan hal ini padanya.


"Tapi kenapa Nak, kau bisa meminta pertanggungjawaban nya. Kenapa kau tidak mau menikah dengan pria kaya itu," ujar Marsha yang belum tau siapa yang sudah berbuat seperti itu pada putrinya. Gerald pun sama karena Caroline belum mencerminkan apa yang terjadi, sejak tadi dia hanya menangis.


"Tanya Papah, dia pasti tau siapa orang itu. Papah yang sudah menjerumuskan anak papah sendiri. Sekarang aku sudah tidak suci lagi karena Papah. hiks hiks hiks ... semua karena papah ..."


"Coba jelaskan pada kita nak, siapa pria itu. Kami akan memberi dia pelajaran karena sudah berani melakukan hal tercela ini padamu."


"Dia Paman Hardy. Hiks orang itu yang sudah mengambil kesucianku saat aku tidak sadarkan diri."


Caroline pun menceritakan bagaimana pertemuannya dengan laki-laki bernama Hardy itu. Awalnya tidak ada yang aneh, tapi setelah menunggu lama. Laki-laki yang katanya mau dikenalkan dengan Caroline tidak datang juga. Caroline juga mulai tidak nyaman karena Paman Hardy sesekali bersikap kurang ajar, seperti mengusap pah4nya dan merangkulnya. Gadis itu pun berpamitan tapi, tiba-tiba tubuhnya terhuyung, pandangan matanya kabur dan kepalanya terasa berat. Setelah itu dia tidak tau apa yang terjadi. Dan paginya saat sadar, dia sudah terbaring di kamar hotel dalam keadaan tidak menggunakan sehelai benangpun. Di sampingnya ada pria berkepala plontos itu yang semalam makan bersamanya.


Caroline pun menjerit dan tidak terima atas apa yang terjadi. Tapi pria itu bukannya kasihan dan menenangkan Caroline, dia malah acuh tanpa perasaan. Dengan gampangnya mengatakan kalau Caroline juga menikmatinya, dia juga tidak mau bertanggungjawab karena tau kalau dia bukan laki-laki yang pertama kali mencicipi gadis itu. Bahkan menyebut Caroline dengan sebutan yang tidak pantas.


"Apa?! Jadi yang melakukan hal ini, Tuan Hardy?! Kenapa pria itu tega sekali melakukan ini. Pah, kau harus meminta keadilan pada Tuan Hardy, minta dia untuk menikahi putri kita," ujar Marsha.


"Tidak Mah, aku tidak sudi menikah dengan pria tua itu. Aku jijik melihatnya. Aku harus membersihkan diri, aku akan berendam untuk menghilangkan jejak pria itu. Hahaha ...." Caroline begitu terpukul sampai mentalnya terguncang dan tertawa sendiri.


"Nak, Carol ... kau kenapa nak?" Marsha sampai takut menghadapi putrinya yang tiba-tiba tertawa sendiri.


Gerald menggeram, darahnya mendidih mendengar siapa orang yang berani melakukan hal itu pada putri kesayangannya. Dia bersumpah akan menghabisi orang itu dengan tangannya sendiri. Tidak peduli lagi dengan perusahaannya.


"Aku akan mencari orang itu?!" Gerald pergi dalam keadaan marah.


"Pah, tunggu Pah. Bagaimana dengan putri kita!" Marsha frustasi, bagaimana keluarganya jadi seperti ini.


...


Seakan jatuh lalu tertimpa tangga. Itulah yang pas menggambarkan apa yang terjadi pada Gerald dan keluarganya. Setelah mengetahui kenyataan kalau putrinya mengalami pel3c3h4n. Ternyata di perusahaan juga tidak baik-baik saja. Petugas dari badan pemeriksa keuangan, sedang memeriksa ruangan Gerald. Dan mereka menemukan semua bukti kecurangan Gerald sela ini.


"Anda ditahan atas tuduhan penggelapan dana perusahaan. Silahkan ikut dengan kami ke kantor polisi."


"Silahkan anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi."


"Pak, tunggu. Saya tidak bersalah. Ini fitnah. Kalian juga harus menangkap orang itu."


Nyatanya, lelaki bernama Hardy telah mencuci tangan. Dia melimpahkan semua perbuatannya pada Gerald. Dia benar-benar licik. Setelah dia menodai putri temannya sekarang dia juga menjerumuskan temannya. Dia berencana menguasai perusahaan itu.


"Hahaha, sekarang semua perusahaan ini akan menjadi milikku. Aku juga sudah menikmati tubuh gadis itu, kalau dia masih mau dengan senang hati aku akan memuaskannya lagi." Hardy tertawa penuh kemenangan.


...


Di sisi lain. Axel telah mengetahui apa yang terjadi karena dialah yang melaporkan semua kecurangan yang dilakukan oleh paman istrinya itu. Dia sudah berjanji akan membantu sang istri mendapatkan kembali perusahaan itu. Tinggal selangkah lagi, dia akan mendapatkannya.


"Bagaimana dengan perusahaan itu sekarang."


"Rencananya, besok akan diadakan rapat pemegang saham dan menunjuk pemimpin yang baru. Tapi ada yang aneh Tuan, orang bernama Hardy tiba-tiba memiliki sejumlah saham di perusahaan itu."


"Awasi dia, besok kirim seseorang untuk datang ke sana menggantikan ku. Belum saatnya aku menunjukkan diri."


"Baik Tuan."


Sekretaris Ken pun pamit untuk mengurus semuanya.


Hari ini kedua orang tua Axel juga akan kembali ke negara itu. Rencananya Axel dan istrinya akan menjemput mereka di bandara. Laki-laki itu sudah menyuruh istrinya untuk datang, lalu mereka akan pergi sama-sama ke bandara.


Alesya masih dalam perjalanan ke perusahaan suaminya. Setelah hari ini dia mendapatkan ijin untuk menjenguk ibunya di rumah sakit. Dia sangat senang, akhirnya bisa melihat langsung bagaimana keadaan ibunya. Meski sampai saat ini sang ibu masih belum sadarkan diri.


"Nona, kita sudah sampai."


"Oh iya, terimakasih pak."


Alesya turun dari mobil dan langsung memasuki perusahaan. Dia juga langsung menuju ke lantai atas tanpa bertanya, karena dia sudah tau di mana ruangan suaminya. Para karyawan juga tidak ada yang berani melarang setelah ingat kalau wanita itu pernah berkunjung sebelumnya.


Alesya membuka pintu ruangan suaminya dan terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Maaf karena sudah mengganggu, aku akan menunggu di luar," kata Alesya tanpa berekspresi.