
Sudah sebulan semenjak kehamilan Alesya diketahui. Sekarang wanita itu tidak terlalu banyak mengambil pekerjaan karena sang suami sudah menempatkan orang-orang kepercayaannya untuk sementara waktu membantu sang istri di perusahaannya. Jadilah pekerjaan Alesya tidak terlalu banyak, Dia datang hanya mengecek saja.
Namun, ada satu hal yang sampai saat ini masih mengganjal hati Alesya karena sampai saat ini sang suami masih belum memberikan jawaban yang pasti. Jadi Alesya belum tau akan bagaimana dengan pernikahan mereka.
"Nona, tuan Ken sudah menunggu anda di bawah," lapor sang sekretaris.
"Apa dia sendiri lagi?" tanya Alesya. Sudah dua hari ini sang suami tidak bisa menjemputnya katanya banyak pekerjaan. Alesya tidak tau itu benar apa tidak, dia juga tidak berani menanyakan hal itu.
"Iya Nona."
Kecewa tentu saja, padahal Alesya sedang makan makanan di restoran favoritnya bersama sang suami. Ingin mengajaknya tapi dia tidak mau mengganggu laki-laki itu.
"Baiklah, aku akan turun sebentar lagi."
Seperti kata sekretaris nya tadi, Ken sudah menunggu di bawah. Dia membukakan pintu saat Alesya datang.
"Terimakasih asisten Ken."
Sepanjang perjalanan, Alesya hanya melihat keluar jendela. Mencoba melupakan semua masalahnya. Dia berharap bisa fokus pada janin yang ada di kandungannya saja, tanpa harus mengemis perhatian dari ayah anaknya. Karena terlalu fokus melamun, dia tidak sadar kalau jalan yang mereka lalui bukan menuju apartemen ataupun rumah utama.
"Kita sampai Nona," ujar Ken.
"Lohh ini perusahaan Axel? Kenapa kita ke sini. Kenapa kau membawaku ke sini asisten Ken. Apa kau mau mengambil sesuatu di sini?" tanya Alesya.
"Tidak Nona, tapi kita memang akan ke sini lebih dulu sebelum pulang. Tuan sudah menunggu Anda di dalam."
"Hah?" Alesya tidak mengerti tapi dia ikut turun untuk menemui laki-laki yang katanya sedang menunggunya itu.
Sampai di depan pintu perusahaan tiba-tiba apa yang tidak dibayangkan Alesya terjadi. Di mana sudah banyak orang di sana. Mereka berkumpul seperti menunggu seseorang datang. Ketika Alesya datang, mereka semua menatapnya.
Ah ada apa ini. Kenapa mereka semua melihatku.
Tiba-tiba mereka menyingkir menjadi dua bagian dan membiarkan bagian tengah terbuka jalannya. Munculah seseorang dengan membawa sebuket bunga di tangannya. Dia adalah Axel sang suami.
"Axel ...." Alesya tidak percaya dengan apa yang dia lihat dia tidak mau terlalu percaya diri. Jadi dia mengalihkan pandangannya.
"Selamat datang istriku," ujar Axel.
Alesya menoleh dan tepat sang suami ada didepannya memberikan bunga yang ia bawa.
"Axel, ada apa ini?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, kau akan tau nanti. Ayo masuk."
Ternyata Axel telah membuat pesta kejutan untuk sang istri. Dia menyuruh semua karyawan dan beberapa wartawan datang karena sebentar lagi dia akan mengumumkan Alesya sebagai istrinya, istri yang dia cintai dan sekarang sedang mengandung anaknya.
"Apa kalian tau siapa wanita yang berdiri di sampingku ini?" tanya Axel dihadapan semua orang. Kamera wartawan juga ikut menyorot mereka. "Dia adalah istriku."
Semua orang di sana berteriak heboh saat CEO mereka baru saja menyebut kata istri. Benarkah itu, kapan mereka menikah.
"Dia adalah istriku, wanita yang aku nikahi tiga bulan yang lalu dan sekarang dia sedang mengandung anakku. Maaf karena aku baru mengumumkan pernikahan ku karena sesuatu hal. Tapi mulai sekarang aku tidak akan menyembunyikan apapun. Dialah istriku, wanita yang aku cintai dan satu-satunya wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku."
Deg.
Alesya tidak percaya kalau Axel benar-benar mengumumkan pernikahan dan kehamilannya di hadapan semua orang.
"Axel, apa maksudnya ini? Kenapa kau mengumumkan pada semua orang."
"Sayang, kemarilah." Axel membawa istrinya mendekat. "Bukankah kau kemarin bertanya tentang hubungan kita kedepannya. Inilah jawabannya."
"Tapi apa hubungannya dengan pertanyaan ku?"
"Jadi kau belum sadar juga. Aku mengumumkannya, itu artinya kau akan menjadi istri ku selamanya. Aku tidak akan pernah melepaskan mu, bahkan jika kamu minta pun aku tidak akan pernah melepaskanmu. Mengerti?"
"Ta—tapi kenapa? Bukankah kau bilang setelah mempunyai anak kita —"
"Ssstt, ayo ikut." Mereka pun meninggalkan pesta yang disiapkan oleh Axel. Membiarkan semua orang menikmati hidangan, bukan hanya itu. Axel juga memberikan bonus untuk semua karyawannya.
Axel membawa sang istri ke ruangannya. Di sana dia menunjukkan pada Alesya sebuah tempat sampah yang di dalamnya berisi potongan kertas kecil-kecil.
"Ini apa, sampah?" Alesya makin bingung.
"Benar ini sampah. Apa kau tau potongan kertas apa yang ada di situ?"
Alesya menggeleng tidak tau.
Alesya menutup mulut tak percaya. "Jadi ...."
"Sekarang kau mengerti kan? Sudah tidak ada lagi perjanjian itu. Kita sudah menjadi suami istri sungguhan. Ikut aku, tunggu sebentar." Axel membuka laci mejanya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi sebuah cincin di dalamnya. Tiba-tiba dia berlutut di hadapan sang istri.
"Mungkin ini terlambat, tapi aku ingin melakukannya. Aku ingin melamarmu dengan benar."
"Apa yang kau lakukan, berdirilah." Alesya tak percaya ini. Sang suami bahkan berlutut dihadapannya.
Axel membuka kotak kecil itu dan berkata, "Maukah kau menjadi istri ku semalam-lamanya? Sampai kita tua dan maut memisahkan kita. Alesya jadilah ibu dari anak-anakku, temani aku sepanjang hidup mu."
Dengan derai air mata haru Alesya mengangguk tanpa ragu. Dia memang sudah jatuh cinta pada laki-laki itu entah sejak kapan, atau mungkin sejak mereka pertama kali bertemu pada malam itu.
"Aku mau, aku mau Axel."
Pria itu langsung memasangkan cincin itu di jari manis sang istri. Menggantikan cincin yang ia beli asal dulu.
"Kenapa di lepas, itu kan cincin pernikahan kita."
"Cincin itu bukan aku yang memilihnya, dan dulu aku juga dulu memakaikannya bukan karena cinta. Aku ingin kau memakai yang ini sana."
"Tidak apa-apa, aku ingin tetap menyimpan yang itu, bagiku itu adalah sebuah kenangan yang tidak mungkin terlupakan." Alesya pun menyimpan cincin pernikahan mereka.
Beberapa bulan kemudian.
Hubungan Alesya dan suaminya tentu semakin baik setelah hari itu. Kini kehamilan Alesya sudah memasuki bulan yang ke empat. Alesya sudah benar-benar mengurangi aktivitasnya karena sang suami dan mertuanya sangat mengkhawatirkannya. Alesya cukup memaklumi karena anak yang sedang ia kandung adalah anak pertama sekaligus cucu pertama.
"Sayang, hari ini jadwalnya kita ke dokter. Apa kau akan menemani ku. Kalau kau sibuk, aku akan meminta ibu untuk menemani ku," ujar Alesya yang sedang memasangkan dasi.
"Tentu saja aku akan ikut, nanti siang aku akan pulang dan menjemput mu. Aku juga ingin bertemu dokter, ada hal penting yang mau aku tanyakan."
"Kau mau tanya apa?"
Axel berbisik yang membuat wajah wanita hamil itu langsung memerah. "Tidak, jangan tanyakan itu di depan orang-orang."
"Tenang saja, dokter pasti mengerti."
Dan siang pun datang. Mereka melakukan pemeriksaan rutin ibu hamil dengan dokter kandungan. Axel pun menanyakan apa yang ingin dia tanyakan. Untunglah dokter nya mengerti karena sudah sering menghadapi suami seperti Axel. Tapi Alesya sungguh malu karena ulah suaminya.
"Kenapa harus tanya pada dokter, kamu kan bisa cari tau di internet."
"Bertanya pada dokter itu lebih akurat Sayang." Lelaki itu sedang bahagia karena dia sudah bisa mengunjungi anaknya. Mungkin setelah ini dia akan langsung melakukannya.
"Ehh itu kan Misel, kenapa dia ada di sini," gumam Alesya saat melihat temannya sedang duduk mengantri di depan ruangan dokter kandungan. Temannya itu tidak melihat, karena sedang menunduk dan mengusap perutnya yang besarnya hampir sama dengan perut Alesya. "Tidak mungkin Misel hamil kan," pikir Alesya.
"Tunggu." Alesya berhenti .
"Ada apa, kau mau sesuatu?" tanya Axel.
"Ada temanku di sana. Aku mau menemuinya."
Mereka pun menghampiri Mishel teman Alesya yang sudah lama tidak diketahui keberadaannya. Terakhir kali Alesya bisa menghubungi temannya mungkin lima bulan yang lalu. Setelah itu, nomor temannya tidak bisa di hubungi. Saat Alesya mencari di kontrakannya, katanya dia sudah pindah.
"Mishel?? Kau benar Mishel temanku?" Alesya langsung memeluk temannya itu. Dia sungguh merindukan temannya yang dulu selalu ada untuknya.
"Alesya ...." Misel pun sangat merindukan temannya tapi karena keadaan dia harus benar-benar pergi menjauh.
Alesya baru saja menemani Misel melakukan pemeriksaan sepertinya. Karena bantuan sang suami, dia tidak perlu mengantri. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang singgah di pikiran Alesya tapi dia menahan diri untuk tidak bertanya. Dia tidak ingin membuat temannya yang sedang hamil tertekan dan banyak pikiran karena dia tahu itu berbahaya.
"Mishel, kau tinggal di mana? Biar kami antar. Please, jangan menolak."
Mishel pun tak punya pilihan lain selain menerima bantuan dari temannya. Walaupun sebenarnya dia tidak ingin siapapun yang mengenalnya tau tempat tinggalnya. Karena dia juga sudah berjanji pada seseorang untuk menjauh sejauh-jauhnya.
...TAMAT...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa yang terjadi pada Mishel nanti ada kisahnya sendiri.
Terimakasih yang sudah membaca cerita othor sampai tamat. Love you all. Salam hangat dari Othor.
Kisah Alesya dan Axel sudah selesai sampai di sini ya. Tinggal bahagianya saja.
See you di cerita-cerita selanjutnya.