Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
6. Tiran Masih Normal


Hampir dini hari Axel kembali ke hotel untuk menemui seorang wanita yang ia beli dari tempat pelelangan. Wanita yang sejujurnya tidak pernah menginginkan semua itu terjadi padanya. Axel yang sedikit mabuk, dengan penampilan yang sedikit acak-acakan tapi masih tetap tidak mengurangi ketampanannya itu berjalan sedikit limbung menuju kamarnya.


"Anda tidak apa-apa Tuan, apa saya perlu membawakan sup pereda mabuk sekarang?" sekretaris Ken bertanya penuh kekhawatiran melihat kondisi tuannya. Pria yang tampan rapuh sebenarnya, dia amat sangat tau kondisi tuannya.


"Tidak perlu, antar saja aku ke kamar wanita itu." Kepala Axel terasa berat sekali, mungkin ini bukan pertama kalinya dia mabuk tapi kali ini seakan sebuah beban menghimpit kepalanya.


Ken memapah tuannya sampai di depan kamar lalu membukakan pintu menggunakan id card yang ia pegang.


"Saya akan menunggu anda di sini Tuan," kata Ken masih saja cemas.


Axel tidak menghiraukannya, laki-laki tampan ini masuk ke dalam kamar yang cahayanya minim itu.


Aku harap anda tidak berbuat kasar pada wanita itu Tuan. Ken sebenarnya iba melihat kondisi wanita itu, apalagi setelah tau apa yang terjadi pada wanita itu mengapa dia sampai melelang keperawanannya dari hasil penyelidikannya.


...


Axel melempar jasnya asal lalu melonggarkan dasinya. Pria itu acak-acakan tapi kenapa masih sangat terlihat tampan. Dengan kemeja putih yang membalut tubuhnya yang dipenuhi otot, seakan kemeja itu tidak berguna sama sekali karena otot-otot perutnya tercetak jelas dari luar. Dia berjalan mendekati seorang wanita yang saat ini sudah terlelap karena menunggu terlalu lama. Pria itu memperhatikan wajah wanita cantik itu tanpa berkedip.


Axel akui kalau wanita itu sangat cantik, mata yang indah, bulu mata lentik, hidung yang mancung dan bibir peach nya. Serta kulitnya yang sangat mulus itu menambah kesempurnaan wanita itu. Itulah mengapa banyak sekali laki-laki yang menawarnya tadi.


"Hiks ... ibu ... jangan tinggalkan Ale sendirian ...."


Tiba-tiba saja wanita itu merancau dalam tidurnya, dengan bibir yang bergetar dan air mata yang keluar dari matanya yang terpejam. Ada apa dengan wanita itu, mengapa dalam tidurnya saja dia menangis seperti ini.


Untuk apa aku memikirkannya, aku hanya perlu menidurinya. Untuk apa aku peduli dengan hidupnya. Axel mencoba mengabaikannya.


Pria itu sejak tadi tertarik pada bibir peach yang sedikit terbuka. Entah mengapa itu membuat tubuhnya terasa panas. Shittt!! dia tidak tahan lagi, Axel mendaratkan bibirnya pada bibir peach itu, dia sedikit merasakan bibir itu. Ini sungguh kejutan, rasanya tidak buruk bahkan sangat manis bagi pria itu. Mata Axel menatap wajah wanita itu dalam jarak yang begitu dekat, matanya yang menutup itu tampak sangat cantik.


Oh tidak, Axel tidak bisa menghentikan itu. Dia terus menikmati bibir itu tampa tersisa. Seolah sangat kehausan. Matanya juga mulai terpejam, meski tidak mendapatkan balasan apapun itu sudah mampu membakar tubuh laki-laki itu.


Kenapa rasanya begitu manis, aku tidak berhenti sekarang. Aku juga menginginkan yang lain sekarang.


Sekali lagi Axel membuka mata, dilihatnya wanita itu masih pulas dalam mimpinya. Pria itu menyeringai, dia ingin lihat sampai mana wanita itu akan tetap tertidur jika aku menyentuhnya.


Apa kau akan tetap tidur. Lihat saja apa yang akan aku lakukan.


Dalam minimnya cahaya dan suasana yang sunyi. Wanita itu seolah sama sekali tidak waspada. Padahal saat ini di hadapannya ada binatang buas yang siap menerkamnya. Dia hanya melenguh sesaat dan justru membuat pria itu makin gencar melakukan aksinya.


"Hai wanita, kenapa kau masih saja tertidur," bisik Axel seraya mengusap lembut wajah Alesya.


Wanita itu merasakan sesuatu yang hangat seperti sentuhan ibunya dalam mimpinya. Dia malah merasa nyaman dengan menggerakkan kepalanya mencari kenyamanan.


"Ibu ... jangan pergi ...." Wanita itu mengigau lagi, menganggap sentuhan itu dari ibunya. Dia memiringkan tubuhnya dan begitu nyaman saat tangan itu berada di pipinya.


"Apa kau kira aku ibumu, sepertinya aku harus memberimu pelajaran agar bisa membedakan siapa yang ada di depanmu saat ini."


Axel menyeringai lalu menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher wanita itu untuk membuat pelajaran. Tapi sayangnya dia telah terjebak oleh permainannya sendiri karena wanita ingin sama sekali tidak bereaksi justru tubuhnya lah yang makin memanas. Apalagi dia merasakan kalau sesuatu kini penuh sesak.


Shiiittt!!


Axel segera menjauh dan menarik paksa tangannya yang sedang untuk tumpuan pipi Alesya. Dia membuka kancing kemejanya karena kian gerah padahal AC di ruangan itu menyala.


Pada akhirnya laki-laki itu menahan diri dan menenangkannya tubuhnya di dalam kamar mandi. Dia tidak ingin memaksa wanita itu sekarang apalagi saat melihat wajah wanita itu yang mengiba seakan minta perlindungan.


Kau berani membuatku menahan diri, lihat saja suatu saat nanti kau akan aku buat meminta lebih dulu. Ini memalukan, seharusnya aku tidak usah merasa iba. Dia wanitaku sekarang, aku bebas melakukan apa saja padanya.


Axel sudah meyakinkan dirinya kalau dia akan melakukannya sekarang. Dia tidak bisa menundanya lagi, apalagi saat mengingat ucapan temannya yang mengatakan kalau dia tidak normal dan menyukai sesama. itu sungguh melukai harga diri seorang Axel Novaldo. Padahal sudah jelas tadi kalau miliknya bereaksi pada wanita yang saat ini masih terlelap di atas ranjang kamar hotelnya. Itulah salah satu alasannya Axel membeli wanita itu, dari pertama melihatnya entah mengapa wanita itu mempunyai daya tarik tersendiri.


Pria itu baru saja selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi yang memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang tidak tertutup rapat. Seakan ia biarkan terbuka untuk memamerkannya. Sisa-sisa air mengalir dari rahangnya yang tegas dan otot-otot di tubuhnya. Sungguh menambah kesan maskulin. Dia naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi Alesya.


Axel memang sudah berniat untuk melakukannya tapi melihat perempuan itu yang terlelap membuatnya tidak tega. Padahal biasanya dia bukan tipe laki-laki yang memikirkan perasaan orang lain.


Pria itu pun memutuskan untuk menjatuhkan kepalanya untuk menengadah ke langit-langit kamar itu. Hanya karena perempuan yang baru pertama kali ia temui saja sudah membuat dirinya harus menahan diri. Dari pada harus mandi lagi untuk menenangkan pikirannya, lebih baik dia memejamkan mata. Tubuhnya juga sedikit lelah hari ini.


"Ibu ... hiks ... jangan tinggalkan Alesya sendiri ... hiks ...."


Perempuan itu lagi-lagi mengigau tentang ibunya. Membuat Laki-laki yang tadi sudah memejamkan mata itu kembali terjaga. Tangannya mengusap pelan kepala perempuan yang masih terisak dalam tidurnya itu.


Kenapa aku jadi seperti pengasuh begini.