Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
27.


Satu persatu pakaian yang Alesya pakai sudah teronggok di lantai. Wanita itu tak mampu menolak sentuhan hangat dari sang suami yang membuatnya lupa diri. Dia merasa menjadi orang lain saat ini, entah bagaimana dirinya bisa mempunyai sisi yang seperti ini.


"Agghh tu—tunggu ... hosh hosh." Alesya mendorong tubuh suaminya yang sedang menyusuri tiap jengkal tubuhnya. Demi tuhan, Alesya seperti tersengat listrik, tubuhnya menegang dan memanas.


Mata yang dipenuhi dengan kabut g41rah itu menatap sayu wajah istrinya. Tidak hanya Alesya yang merasa dirinya berbeda tapi Axel pun sama. Aroma tubuh wanita yang terlihat begitu cantik itu sungguh membuat dia mabuk dan candu untuk terus menghirup dan merasakannya. Kulit putih selembut salju itu terasa ada sangat lembut dan membuat Axel ketagihan untuk menyentuhnya, terutama pada bagian tertentu yang sangat peka bila disentuh oleh lelaki.


Alesya menggigit bibirnya, wajahnya memerah malu saat lelaki itu melihatnya dengan tatapan yang cukup dalam. Dia mencoba meraih selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka akibat ulah seseorang yang begitu lihai. Alesya bahkan tidak sadar kapan pakaiannya terlepas.


"Ada apa hhhmmm?" Axel membelai pipi sang istri.


Lagi-lagi sentuhan itu seperti sengatan listrik. Wajah Alesya tambah panas.


"A—apa kita bisa menundanya? Ju—jujur aku belum siap," ujar Alesya.


"Sampai kapan, hhhmm. Sampai kapan kau akan siap. Bukankah sekarang pun kamu sudah siap, tubuhmu bahkan lebih jujur dari pada ucapanmu sekarang."


Alesya akui itu, tapi itu karena laki-laki itu yang terlalu pintar membuat dia lupa segalanya. Padahal tadinya dia ingin menolak tapi sang suami yang maha benar, tidak memberinya kesempatan untuk menolak. Lelaki itu terus melancarkan aksinya sampai Alesya pun terbuai.


"I—itu tidak seperti itu. Kamu yang tidak memberiku kesempatan untuk bicara," tutur Alesya.


"Benarkah, tapi kenapa yang di sini berkata lain." Lelaki itu menyeringai saat jarinya menyentuh sesuatu.


Alesya membelalak matanya, menutupi mulutnya yang hampir saja mengeluarkan sesuatu yang memalukan. Tanga satunya lagi masih mencengkeram erat selimut yang ia pegang. Seketika sesuatu seperti menggelitik perutnya.


Aaa ... perasaan apa ini.


"Kau!! Apa yang kau lakukan, jauhkan tanganmu dari sana, aaarrrggghhh ...." Suara itu akhirnya lolos juga dari bibir bengkak Alesya, saat sang suami dengan seringainya menyentuh titik sensitifnya.


"Ya baby, begitu sangat baik. Tidak perlu menahan suaramu, aku sangat menyukainya. Lihatkan, kau tidak bisa berbohong. Bagian sini lebih jujur dari pada apa yang kamu katakan." Axel menunjukkan jarinya pada Alesya, jari yang sudah dipenuhi oleh selai.


Rasanya Alesya ingin tenggelam ke dasar bumi. Bagaimana dia bisa memalukan seperti ini.


"Jadi, kita bisa mulai sekarang?" bisik Axel di telinga sang istri. Dia juga mengg1g1t daun telinga itu. Membuat empunya meringis menahan gejolak yang lagi-lagi memenuhi perutnya.


Dua kain yang tersisa untuk menutupi tubuh wanita berparas cantik itu pun telah dihempas dengan mudah. Begitupun dengan pria berdarah blasteran Eropa itu. Handuknya entah kemana, membuat kepala kura-kura itu keluar dari cangkangnya.


"Aaaakkkk!!" Alesya menjerit saat melihat kepada kura-kura itu begitu berani menunjukkan wujudnya. Dia menutup matanya, begitu syok.


"Kenapa kau ketakutan seperti itu, buka matamu dan lihatlah. Kau harus berkenalan dengannya untuk saling kenal."


Gillaaa!! pria itu sudah gilaa, untuk apa berkenalan dengan benda seperti itu. Apa Alesya sudah tidak waras.


"Aaa !!! Jangan mendekat! Pakailah handuknya kembali," pekik Alesya saat pria itu terus memojokkannya. Kedua tangannya sudah dibuat sibuk menutupi tubuhnya tapi pria itu terus mendekat.


Lelaki itu menyeringai, dia menarik tangan Alesya dan langsung meletakkannya untuk menyentuh kepala kura-kuranya. Seketika wanita itu membeliak, saat tangannya merasakan sesuatu.


"Bagaimana, apa kau menyukainya?"


"Aaa... kau gilaaa!!!"


Grep. Dia tangan Alesya ditangkap oleh sang suami dan dibawanya ke atas. Sehingga apa yang ia tutupi kita terpampang di depan mata sang suami.


"Ka—kamu mau apa? Sudah aku bilang jangan lakukan itu. Aku minta sedikit waktu la—"


Axel tak mengijinkan perempuan itu banyak bicara lagi. Dia sudah sangat tersiksa dan tidak sabar. Dia membungkam mulut Alesya dengan bibirnya, ciuman yang semakin panas itu kini membuat mereka berkeringat. Dan gugup saat pria itu mulai menggunakan bibirnya untuk menyentuh bagian lain.


"Kamu sangat cantik dan menggoda malam ini. Aku akan memakanmu, bersiaplah."


Sakit tentu saja Alesya merasakan sangat sakit saat untuk pertama kalinya. Namun, entah sejak kapan dia malah menikmatinya. Mungkin karena perlakuan Axel yang lembut dan tidak terburu-buru, jadi membuat Alesya cukup nyaman. Hingga mencapai titik tertingginya beberapa kali.


"Haahh aku lelah ...," rintih Alesya saat pria itu terus memacu tubuhnya.


"Tidurlah, aku akan menyelesaikan ini."


Entah berapa kali pria itu meninggalkan benihnya di dalam sana. Namun, belum merasa cukup juga. Padahal sang istri sudah kelelahan dan tertidur.


"Tidurlah, terimakasih ...." Cup. Axel mendaratkan kecupan di kening sang istri.


Paginya. Sudah tidak diragukan lagi, sudah pasti tubuh Alesya remuk redam, nyeri dan encok. Wanita itu bahkan meringis beberapa kali saat itu terasa sakit.


"Aa ...! Dia monster!!"