Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
28.


Setelah melewati malam pandang penuh des4h dan keringat. Alesya hanya bisa menghabiskan waktunya di dalam kamar seharian ini. Tubuhnya begitu sakit untuk digerakkan. Tidak salah jika dia menyebut suaminya itu monster yang menyeramkan.


"Nona, saya bawakan makanan untuk anda." Bella mengetuk pintu kamar nonanya.


"Silahkan masuk Bella."


"Nona, Tuan menyuruh saya untuk memberikan ini pada Nona. Harap Anda meminumnya setelah makan." Bella menyerahkan, satu tablet obat yang tidak tau apa gunanya itu.


"Apa itu Bella, apa itu obat k0ntr4s3psi," tebak Alesya.


Bella tersenyum mendengar ucapan nonanya. "Anda salah Nona, mana mungkin Tuan memberikan obat seperti itu untuk Nona. Ini vitamin, agar Nona tetap vit dan cepat dapat momongan."


"Peffftt ...." Hampir saja Alesya menyemburkan air yang sedang ia minum.


"Anda tidak apa-apa Nona?" Bella segera mengambilkan tissue.


"Tidak apa-apa, letakkan saja di sana. Nanti aku akan memakannya setelah menghabiskan makananku." Alesya sangat malu, kenapa hal seperti itu harus diberitahukan lewat pelayan. Kenapa pria itu tidak memberikannya langsung padanya.


"Anda tidak perlu malu, Nona. Semua orang di rumah ini sudah tau apa yang terjadi tadi malam."


Sontak Alesya membulatkan matanya, "Maksudnya? Semua orang tau kalau aku dan suamiku sudah —"


"Iya Nona, tadi pagi-pagi sekali Tuan memerintahkan semua pelayan jangan ada yang mengganggu tidur Nona karena semalam katanya Anda tidak tidur semalaman." Bella tersenyum melihat nonanya malu.


Ya ampun, kenapa dia harus melakukan hal itu. Bagaimana aku akan bertemu dengan para pelayan. Sekarang saja, aku sangat malu pada Bella.


"Nona, Nona. Anda memang menggemaskan. Pantas saja Tuan memilih Anda untuk dijadikan istri," gumam Bella dalam hati.


Sementara di luar negeri ada sepasang suami istri yang ingin segera pulang, sejak mendengar berita tentang pernikahan putra mereka satu-satunya. Mereka sebagai orangtua tentu kecewa tapi juga bahagia. Kecewa karena hal sepenting itu sang putra tidak bicara apapun pada mereka, padahal jika memberitahu sudah pasti mereka akan langsung terbang pulang dan meninggalkan liburan mereka.


Namun, mereka juga bahagia karena akhirnya sang putra yang dikabarkan menyukai sesama jenis itu akhirnya menikah dengan seorang perempuan. Mereka sudah tidak sabar untuk pulang dan menemui menantu mereka.


"Dad, apa kau sudah mencari tau seperti apa menantu kita? Aku sudah bertanya pada anak itu tapi dia sama sekali tidak memberitahu," kesal Marlin pada putranya.


"Sudah, lihatlah. Orangku sudah mencari tau dan sudah mengirim hasilnya. Dia adalah putri dari pemilik perusahaan Queen's corp. Kalau dilihat dari data dan riwayatnya dia adalah gadis baik-baik. Hanya saja ayahnya pernah tersangkut utang piutang dengan bank." Rey memberikan datanya pada sang istri.


"Sepertinya dia wanita yang baik, tapi aku akan melihatnya lebih dulu. Kapan kita akan pulang, Dad? Apa masih lama? Aku sudah tidak sabar mau bertemu menantuku," ujar Marlin seraya meraba dada bidang suaminya yang hanya mengenakan jubah mandi.


Diusianya yang tak lagi muda, Rey masih sangat gagah dan tampan. Tubuhnya masih sama seperti waktu masih muda. Otot-otot di tubuhnya tidak memudar atau mengendur karena tergerus umur. Itu karena dia rajin berolahraga dan hidup sehat, begitupun dengan Marlin. Wanita itu tampak masih cantik, tak ada kerutan di wajahnya. Tubuhnya juga masih kencang dan bikin suaminya betah dan tidak bisa berpaling pada wanita lain.


Itulah mengapa, setiap tahunnya mereka selalu menyempatkan waktu untuk pergi berdua. Berlibur sekaligus berbulan madu seperti pasangan pengantin baru. Umur tak menyurutkan gair4h mereka. Masih tetap menggebu saat di atas ranjang. Kalau saja tidak ada masalah pada rahim sang suami dan tidak mengharuskannya untuk diangkat, pastilah mereka sudah mempunyai banyak anak.


"Kenapa kau memancingku lagi, apa masih kurang yang tadi?" tanya Ray, seraya mendesis saat jemari istrinya mulai kemana-mana.


"Hemm, kita akan segera pulang dan di sana nanti akan sibuk mengurusi putra dan menantu kita. Mungkin juga kita akan segera memiliki cucu. Jadi aku ingin melakukannya lebih banyak saat masih berada di sini," ujar Marlin. "Aku punya kostum baru, apa kau mau lihat Dad?" Marlin menggig1t telinga suaminya.


Wajah lelaki itu memerah, bulu-bulu halusnya pun berdiri. Membayangkan penampilan istrinya yang memakai kostum beranekaragam.


"Apa yang kau pikirkan Dad. Kenapa wajahmu memerah," goda Marlin seraya terkekeh.


"Kau ... sepertinya aku harus membuatmu berhenti tertawa." Lelaki itu langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar. Selanjutnya hanya mereka yang tau apa yang terjadi dengan pakaian berserakan di lantai dan ranjang mulai berderit.


Mereka tidak mau kalah dengan putranya. Pantas sang putra seperti monster, jika orangtuanya saja menggebu-gebu seperti itu.