Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
38.


Marsell membelikan seikat bunga untuk ibu mertuanya. Hal itu membuat Alesya terharu bahagia melihat sang suami begitu perhatian pada ibunya. Tadi dia tidak menyangka kalau pria itu berhenti tiba-tiba dan turun untuk membeli sesuatu. Siapa sangka saat kembali di tangan pria itu sudah ada seikat bunga lili putih. Bunga itu adalah bunga kesukaan ibunya, entah bahagia laki-laki itu bisa tau.


Ternyata tanpa Alesya tau, Axel sudah sering berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk ibu mertuanya. Dia sendiri yang meminta pada wanita renta itu untuk merahasiakan kedatangannya.


"Ibu, cepatlah sembuh. Aku ingin kita berkumpul di rumah."


"Tentu nak, ibu juga sudah tidak sabar ingin pulang."


Alesya memeluk ibunya, betapa bahagianya dia saat sang ibu kembali sadar. Ia jadi tidak sendirian lagi. Sangat bersyukur ada seseorang yang menjadi alasan Alesya bertahan sekuat tenaga.


"Ibu, aku sudah mengganti bunga yang lama dengan yang baru. Oh iya, apa kau butuh sesuatu yang lain?" tanya Axel.


"Tidak nak, ibu tidak ingin apapun. Melihat kalian saja aku sudah sangat senang." Bagi wanita itu setelah tidur panjang dan hampir meninggal. Keberadaan keluarga adalah yang terpenting.


"Kalau begitu aku akan menemui dokter, kalian mengobrol lah."


"Aku ikut!" seru Alesya. "Aku juga ingin tau keadaan ibu," sambungnya.


"Baiklah ayo."


Mereka berdua pun menemui dokter yang menangani ibu mertua Axel. Mereka berharap semua baik-baik saja dan ibu mertua bisa berkumpul bersama secepatnya. Kedua orangtua Axel juga sudah berkunjung menemui ibunya Meisya. Mereka sangat menyambut baik menantu dan keluarganya juga.


"Jadi bagaimana keadaan ibu saya Dok?" tanya Meisya.


"Dilihat dari perkembangannya sudah cukup baik. Hanya tinggal pemulihan dan cek up secara rutin."


"Benarkah itu Dok, ibu saya benar-benar bisa pulang."


"Iya, Nona. Besok kita akan lakukan cek keseluruhan lagi sebelum ibu Anda pulang."


Alesya sangat bahagia mendengar kabar itu. Tidak ia sangka kalau dia bisa berkumpul kembali dengan ibunya. Meski sekarang sudah tidak ada ayahnya lagi setidaknya dia masih memiliki ibu yang sangat dia sayang.


"Terimakasih ... terimakasih atas semuanya ..." Ujar Alesya tergugu.


"Kau memang berhak bahagia, jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat air matamu."


Alesya tidak peduli dengan ucapan laki-laki itu, sekarang dia sangat bahagia sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Setelah berpamitan pada sang ibu. Mereka pun menyambangi rumah Rey dan Marlin yang sudah menunggu anak dan menantu mereka untuk makan malam bersama. Kedua orangtua itu sangat bahagia karena kehadiran Alesya dalam hidup Axel membawa perubahan yang baik. Seperti sekarang, anak laki-laki itu mau diajak makan malam bersama kedua orangtuanya.


"Maaf membuat mommy dan Daddy menunggu, tadi aku yang meminta Axel mengantarku ke rumah sakit lebih dulu sebelum ke sini." Alesya merasa tidak enak karena membuat mertuanya menunggu.


"Tidak apa-apa nak, duduklah. Mommy juga baru selesai menyiapkan makan malamnya. Kalian sama sekali tidak terlambat. Iya kan Dad?"


"Benar nak, duduklah," timpal Rey.


Axel pun membawa istrinya untuk duduk di sebelahnya.


"Bagaimana kabar ibumu, Nak? Kapan dia bisa pulang?" tanya Mom Marlin.


"Kata dokter besok ibuku sudah bisa pulang Mom," jawab Alesya dengan senyuman bahagia.


"Syukurlah, kami senang mendengarnya. Mom dan Dad sudah tidak sabar mengundang besan kita untuk makan malam bersama," ujar Mom Marlin lagi.


"Terimakasih Mom, Dad. Kalian sangat baik sekali pada ku dan ibu."


"Kamu itu bicara apa. Kau itu sudah menjadi putri kami sekarang, bukan orang lain. Jadi tidak perlu sungkan pada kami ya." Marlin mengusap punggung tangan menantunya yang berkaca-kaca.


"Sudah-sudah, kapan makannya kalau kalian terus mengobrol," oceh Axel merusak suasana haru.


"Dasar anak nakal, kau itu merusak momen saja."