
Hari pernikahan pun tiba. Tidak perlu Alesya bayangkan sebelumnya akan menikah secepat itu. Padahal mimpinya dulu sangat tinggi, dia ingin menjadi seorang designer pakaian ternama yang dikenal banyak orang. Mendiang ayahnya pun setuju meski ia anak satu-satunya, tapi sang ayah tidak pernah mengekang anaknya untuk bebas berekspresi.
Alesya sudah menempuh separuh perjalanan untuk meraih mimpinya. Dia sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama. Namun, nasib berkata lain. Tiba-tiba ayahnya terkena serangan jantung dan meninggal begitu saja tanpa ada pertanda apapun. Penderitaan Alesya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat masih dalam suasana duka, petugas bank datang ke rumah untuk menyita beberapa aset milik ayahnya. Perusahaan, rumah dan aset-aset lainnya pun disita dalam hitungan jam. Alesya beserta ibunya diusir dari rumah itu begitu saja.
Saat itu Alesya hanya bisa meminta tolong pada pamannya yang merupakan adik dari sang ayah. Akan tetapi, sang paman membuat alasan untuk tidak bisa menerima Alesya dan ibunya. Mereka beralasan kalau rumah mereka cukup kecil untuk ditinggali dua keluarga padahal rumah itu cukup luas dan merupakan rumah pemberian dari ayah Alesya.
"Maaf Paman tidak bisa membawa kalian tinggal bersama. Kalian tau kan kalau rumah Paman sangat kecil dan Paman tidak bisa membuat istri dan putri Paman merasa sesak."
Perkataan laki-laki itu tentu saja melukai hati Alesya dan Rosaline. Dulu keluarga sang paman datang meminta tolong pada ayah Alesya untuk diberikan tempat tinggal. Dengan tangan terbuka, ayah Alesya pun membiarkan adik beserta keluarganya tinggal di rumah. Alesya dan Rosaline juga menyambut kedatangan mereka dengan baik. Mereka memperlakukan keluarga sang paman dengan sangat baik.
Alesya bahkan tidak segan berbagi apapun pada adik sepupunya. Pakaian, tas, perhiasan bahkan Alesya berikan jika sang sepupu meminta. Namun, apa balasannya. Mereka menutup pintu rapat-rapat saat Rosaline dan Alesya membutuhkan bantuan.
Akhirnya Alesya dan ibunya mendatangi rumah Mishel yang bahkan jauh lebih kecil dari rumah paman Jeri. Sungguh tak menyangka kalau Mishel dan ibunya yang seorang janda menerima mereka dengan senang hati. Mereka dibolehkan tinggal di rumah Mishel. Karena tidak enak, Alesya pun memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja serabutan untuk membantu biaya kebutuhan rumah. Bukan hanya itu, Rosaline pun membantu ibu dari Mishel membuat kue untuk dijual.
Kehidupan mereka damai untuk beberapa saat. Sampai kemudian Rosaline mulai sakit-sakitan dan ternyata sudah menderita penyakit kanker sumsum tulang belakang stadium akhir. Selama ini dia menyembunyikan penyakit itu dari semua orang. Walau sebenarnya dia sudah tau saat suaminya masih ada. Namun karena banyak pikiran dan tertekan membuat penyakitnya makin parah dan sampai stadium akhir dalam waktu singkat.
Hancur! Tentu saja, siapa yang tidak hancur saat mengetahui kalau orang yang dia sayang ternyata menderita sakit kanker. Dunia Alesya seakan berhenti berputar. Dia yang baru saja kehilangan ayahnya bagaimana mungkin sekarang harus kehilangan ibunya. Dia pun pergi ke rumah pamannya untuk meminjam uang. Tentu saja untuk biaya pengobatan sang ibunda.
Namun, sebuah kenyataan yang pahit kembali menghantam kehidupan Alesya. Dia tidak menemukan paman Jeri di rumah pemberian sang ayah tapi ternyata sang paman sudah pindah ke rumah yang dulu ditempati oleh Alesya beserta keluarganya. Perempuan itu berusaha memasuki rumah itu untuk mencari kejelasan tentang apa yang terjadi. Bukankah rumah itu sudah disita oleh bank. Bagaimana bisa sekarang ditempati oleh pamannya.
Beberapa hari kemudian, Alesya tidak menyerah. Melihat keadaan ibunya yang semakin parah. Diapun mencari pamannya, dia mengikuti laki-laki itu saat mobilnya keluar dari rumah. Diam-diam Alesya mengikuti sang paman menggunakan taksi. Betapa terkejutnya Alesya saat mobil pamannya memasuki gedung yang merupakan perusahaan ayahnya.
Yang membuat Alesya lebih terkejut lagi saat para karyawan menunduk hormat pada paman Jeri. Saat laki-laki itu memasuki gedung itu. Alesya pun berteriak memanggil pamannya dan meminta kejelasan. Apa sebenarnya yang terjadi, Alesya merasa telah dipermainkan.
Benar saja, setelah membuat keributan akhirnya Paman Jeri membawa Alesya masuk untuk berbicara. Di sana pengacara menjelaskan jika semua saham dan aset milik sang ayah kini menjadi milik paman Jeri sebagai adik kandungnya. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, sedangkan Alesya dan ibunya masih hidup.
"Tidak mungkin, ayahku menyerahkan semuanya pada Paman. Ini pasti Pemalsuan dokumen, Paman pasti yang sudah mengambil semuanya."
"Apa kamu kira Paman senang mendapatkan semua ini. Ayahmu meninggalkan hutang segunung dan Paman yang harus berjuang melunasi hutang-hutangnya. Apa kamu yang tidak tau apa-apa ini bisa hah?!"
Alesya tidak bisa berkata-kata lagi, dia memang tidak tau apapun tentang perusahaan. Itu karena dari dulu memang dia tidak berniat masuk ke perusahaan. Karena dia memiliki mimpinya sendiri. Kalau saja dia tau akan seperti ini jadinya, dia pasti meminta ayahnya untuk mengajarinya tentang perusahaan.
Alesya pasrah dengan apa yang tertulis di surat wasiat itu. Dia hanya minta pada pamannya untuk meminjamkan dia uang, untuk biaya operasi ibunya. Sayangnya, dia hanya bisa kembali dengan tangan kosong karena laki-laki itu sama sekali tidak berniat meminjam uang sepeserpun. Paman Jeri berdalih kalau dia masih harus membayar hutang yang ditinggalkan oleh ayah Alesya.
Itulah mengapa Alesya akhirnya memutuskan untuk melelang sesuatu yang berharga dalam hidupnya dan sekarang dia terjebak dalam situasi yang rumit seperti ini.
"Nona, sudah saatnya anda keluar."