
Berada dalam ruangan yang sama dengan laki-laki Tiran itu, sesungguhnya membuat Alesya merasa sesak. Setiap pergerakkannyya seperti diawasi oleh laki-laki itu. Alesya sampai tidak berani bergerak, padahal dia merasa sangat haus. Tenggorokannya terasa sangat kering tapi air jus yang dibawakan sekretaris suaminya bahkan belum tersentuh sedikitpun.
"Sampai kapan aku harus berada di sini? Aku bisa mati kaku kalau terus seperti ini," keluh perempuan itu sambil melirik suaminya yang sedang serius.
Makanan yang ia bawa juga belum tersentuh, masih utuh di dalam kotak makanan. Kalau pria itu sangat sibuk mengapa menyuruhnya datang tapi tentu Alesya tidak berani protes.
"Tidak bisa seperti ini terus, aku harus melakukan sesuatu agar aku bisa pergi dari sini. Ah iya, aku tadi menyuruh pak supir untuk menunggu. Ya, itu saja. Aku bisa memakainya untuk alasan."
"Eheemm ... Ax—xel ...." Menggigit bibir bawahnya, tangannya meremat ujung dressnya.
Laki-laki itu mengangkat kepalanya dan memandang sang istri. "Ada apa?"
"A—apa aku boleh pergi sekarang, maksudku tadi aku menyuruh pak supir untuk menunggu kasihan kalau dia menunggu terlalu lama." Tersenyum kaku, siaallann sekali. Bicara seperti itu saja membuat jantung Alesya berdegup kencang.
Pria itu menautkan alisnya, memandang sang istri yang tampak gugup dari balik kacamatanya. Ohh siall, kenapa ketampanan pria itu bertambah hanya dengan menggunakan kaca mata. Tidak seperti orang lain yang akan terlihat cupu saat menggunakan benda itu.
"Kemari," titah sang raja Tiran.
Deg. Jika sudah pria itu sudah menyuruhnya mendekat, pasti tidak ada hal yang bagus yang akan terjadi pada Alesya. Kening perempuan itu sudah berkeringat. Tau begitu, tadi dia diam sama. Merutuki dirinya sendiri.
"Ah ya, hehehe aku tidak jadi pergi. Aku akan di sini saja." Kembali duduk dengan benar dan menghadap ke arah lain.
"Sudah aku bilang kalau aku tidak suka mengulang perkataanku!" kata pria itu mengintimidasi.
Bahu Alesya melemas seketika, dia tidak punya pilihan lain. Selain menuruti titah pria itu.
Alesya sudah berdiri di dekat meja kerja Axel. Entah mau apa pria itu. "Emmm apa yang harus aku lakukan?" tanya Alesya.
Pria memutar kursinya menghadap Alesya lalu menarik tangan wanita itu hingga terduduk di atas pangkuannya. Wanita itu tentu saja terkejut dan memekik karena tiba-tiba duduk di atas pangkuan pria itu. Alesya berusaha melepaskan diri dari Axel sudah lebih dulu menahannya.
"Diamlah, begini saja agar kau tidak bosan sendirian di sana. Aku akan menyelesaikan ini, setelah itu kita makan," ujar Axel.
"Aku sama sekali tidak bosan, siapa bilang aku bosan. Jadi biarkan aku duduk di sofa saja," protes Alesya. Kalau begini ia tambah tidak nyaman.
Namun, pria itu sama sekali tidak mau melepaskan Alesya. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli dengan Alesya yang terus protes.
"Oh ya ampun, aku bisa gilaaa kalau seperti ini." Alesya bergerak-gerak agar pria itu melepasnya.
"Shiiittt!! Apa kau tidak bisa diam! Kau bisa dalam bahaya jika terus bergerak seperti itu. Atau kamu memang sengaja, apa kamu sudah siap aku terkam sekarang?!" Sebagai pria dewasa yang sangat normal, tentu saja apa yang dilakukan perempuan itu menimbulkan sengatan yang sangat besar dan membuat sesuatu terbangun karenanya.
Alesya tidak berani lagi bergerak, dia bukan perempuan polos yang tidak tau hal seperti itu. Dia lebih baik menurut dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Beberapa saat kemudian, Alesya sudah seperti patung yang tidak berani menggerakkan tubuhnya. Dia juga gugup saat memperhatikan pria itu dari dekat. Syukurlah, pria itu begitu serius saat sedang bekerja dan tidak melihat kalau Alesya memandanginya.
"Kau lihat ini?" kata Axel menunjukkan kertas yang ia pegang.
Alesya memperhatikannya, di sana tertulis nama perusahaan yang sangat ia kenal. Queen's adalah nama perusahaan mendiang ayahnya. Lalu kenapa Axel bisa memegang data perusahaan itu.
"Dari mana kau mendapatkan data perusahaan ayahku?" tanya Alesya. Dia langsung curiga, takut jika pria itu berniat tidak baik pada perusahaan kecil milik ayahnya yang kini dipegang oleh pamannya.
"Bukankah sudah aku bilang akan membuatmu mendapatkan milikmu kembali. Sebentar lagi, bersiaplah kau akan memberi mereka kejutan." Menyeringai penuh arti, Axel sudah mempelajari data perusahaan itu. Tentu saja bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan data itu karena Axel merupakan salah satu pemegang saham juga di sana. Ternyata ada gunanya juga dia membeli saham di perusahaan itu.
"Apa rencanamu, Axel. Aku mohon, tolong jangan hancurkan perusahaan ayahku. Itu adalah hasil kerja keras Ayah."
Axel tergelak, mendengar tuduhan dari mulut istrinya. Kalau dia mau sudah dari dulu dia menarik sahamnya di sana.
"Kau tenang saja, aku hanya akan membuat orang-orang serakah itu mendapatkan pelajaran." Sebenarnya Axel kasihan pada istri dan ibu mertuanya yang telah ditipu oleh saudara mereka sendiri. Namun, Axel tidak mengatakan hal itu.