
Malamnya Alesya tengah bersiap-siap karena tadi asisten Ken mengirimkan pesan padanya agar dia bersiap dengan orang-orang profesional yang dikirimnya. Sebelumnya saat siang, dia juga sudah diperiksa secara menyeluruh apakah ada penyakit pada tubuhnya. Karena Axel hanya akan menyentuh wanita yang benar-benar bersih.
"Sudah Nona, kalau begitu kami permisi." Dua orang yang tadi membantu Alesya membersihkan diri pun pamit setelah wanita itu selesai di rias. Untuk malam pertamanya. Seperti waktu itu saat ia berada di hotel.
Tak lama setelah mereka pergi, Bella datang membawa makanan untuk nyonya baru di rumah itu.
"Permisi Nyonya, saya bawakan makan malam untuk Anda. Sejak tadi Anda belum sempat makan, jadi saya berinisiatif untuk membawakan makanan ke sini," ujar Bella.
Perempuan cantik yang sedang duduk di depan meja rias itu tersenyum. Dia bersyukur sekali masih ada yang peduli dengannya. "Terimakasih Bella, aku bahkan lupa kalau belum makan."
Bella menyusun makanan yang ia bawa di atas meja. Alesya pun sudah berpindah ke sofa yang ada di kamar itu.
"Silahkan Nona, kalau Anda tidak menyukainya. Saya akan menggantinya dengan menu yang lain," ujar Bella. Wanita itu berdiri di sebelah meja.
"Duduklah, Bella. Temani aku makan," pinta Alesya.
"Ah tidak, Nona. Saya sudah makan bersama dengan pelayan yang lain. Nona, nikmati saja makanannya saya akan menemani Nona dari sini." Tentu saja Bella menolak, bagaimana dia bisa makan bersama dengan istri majikannya.
"Hah ... jika begitu aku juga tidak ingin makan. Aku sama sekali tidak berselera makan, lebih baik kau bawa semua makanan ini kembali." Alesya meletakkan kembali sendok yang sudah ia pegang. Dia tidak bohong, ia memang sedang tidak berselera makan. Memikirkan ucapan laki-laki itu yang mengharapkan anak dari hubungan palsu ini.
"Nona, jangan seperti ini. Bagaimana jika Anda sakit. Nona makan ya. Sedikit saja." Bella berusaha membujuk nonanya. Dia sudah diberi tanggungjawab untuk menjaga Alesya. Sudah kewajibannya untuk menjaga wanita itu juga.
"Aku benar-benar tidak ingin makan," ujar Alesya menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya.
"Nona ... ah baiklah, saya akan menemani Nona makan tapi Anda harus makan ya."
Alesya berbinar, wanita yang tampak seperti ibunya itu akhirnya luluh juga. "Ayo, duduk. Kita makan bersama." Alesya menggeser tubuhnya.
Malam semakin larut, udara dingin menyelimuti malam itu. Alesya berdiri di atas balkon kamarnya. Ya, dia masih di kamar yang sama meski sekarang mereka telah menikah. Laki-laki itu tidak menyuruh ataupun meminta Alesya untuk pindah. Menurut perempuan itu sendiri lebih baik seperti itu agar mereka tidak terlalu sering bertemu.
Dia sudah membaca apa saja tugasnya. Terlihat seperti tugas istri pada umumnya yang harus melayani suami. Menyiapkan kebutuhannya saat mau ke kantor, menyambutnya pulang lalu membantu laki-laki itu sampai Alesya diijinkan untuk pergi barulah dia bisa beristirahat. Pasti akan sangat membosankan aktivitasnya, setiap hari hanya itu yang ia lakukan.
"Hah ... aku tidak bisa mundur lagi. Aku pasti bisa melewati ini." Alesya menyemangati dirinya sendiri. Dia terlalu fokus melamunkan masa depannya sampai tidak menyadari kalau laki-laki yang sejak tadi dipikirkan, kini ada di belakangnya.
Setelah dari gereja mereka memang berpisah, Alesya langsung pulang lalu melakukan serangkaian tes kesehatan. Lalu laki-laki itu entah kemana.
"Kau akan sakit berdiri di sini menggunakan pakaian seperti itu." Axel datang dan menyelimuti tubuh istrinya. Dia sudah melihatnya saat baru keluar dari mobil tapi wanita itu tidak melihatnya.
"Anda sudah pulang? Maaf saya tidak menyambut Anda. Apa Anda mau mandi sekarang, saya akan menyiapkan airnya," ujar Alesya menggunakan bahasa formal jika mereka sedang berdua.
Pria itu tidak menjawab, dia malah berdiri di sisi Alesya untuk melihat bintang yang menghiasi malam. Sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan setenang itu.
"Tuan ...," panggil Alesya karena pria itu tidak menjawab.
Mendengar wanita itu masih memanggilnya tuan, membuat pria itu kesal. Wanita itu terlalu keras kepala. Dia menarik pinggang ramping istrinya tanpa aba-aba dan membuat tubuh mereka bertabrakan. Selimut yang tadi menyelimuti tubuh wanita cantik itupun terjatuh begitu saja.
"Bukankah sudah aku bilang padamu, berhenti memanggilku Tuan. Panggil saja namaku, apa bibir indahmu ini begitu sulit untuk menyebut namaku," ucap Axel dengan nada mendominasi.
Bau alkohol yang begitu kuat mengusik indra penciuman Alesya. Dia yang tidak suka dengan minuman itu mendorong dada pria itu agar melepaskannya. Meski di negara itu alkohol sudah seperti minuman sehari-hari tapi Alesya tidak pernah toleran pada minuman itu. Dia akan pusing meski hanya meminum seteguk saja.
"Anda minum?" tanya Alesya sambil menutupi hidungnya.
Pria itu malah semakin kuat menahan pinggang istrinya. Hanya dengan berdekatan dengan wanita itu membuat tubuhnya panas. Padahal selama ini dia sama sekali tidak tertarik pada makhluk yang namanya wanita. Wajahnya memerah, pandangan matanya tertuju pada satu titik yaitu sesuatu yang sangat ranum.