
Sekejap tubuh Alesya sudah berpindah dari sofa ke tempat tidur. Siapa lagi pelakunya kalau bukan laki-laki yang kini sedang senyam-senyum sendiri. Si Tiran yang suka marah dan kaki itu kini sudah banyak tersenyum tanpa dia sadari. Hanya saat bersama wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya.
"Selesai. Salah siapa yang kalau tidur seperti orang pingsan. Bahkan jika aku melakukan hal yang lain, aku yakin dia tidak akan bangun seperti waktu itu," ujar Axel bermonolog sendiri setelah selesai memindahkan Alesya dan menyelimutinya.
Drrttt.
Ponsel Axel yang ada di atas nakas berdering. Dia mengangkatnya dan keluar dari kamar itu agar tidak menggangu tidur wanita itu.
"Ya ada apa kau menghubungiku tengah malam begini?" tanya Axel dengan nada yang tidak bersahabat pada orang yang sudah berani mengganggunya malam-malam begini.
"Sabar Bro, aku hanya ingin tau apa kalian sudah selesai melakukannya?" Siapa lagi kalau buka Marco yang kepo. Dia masih belum percaya kalau temannya sudah menikah sekarang. Bukankah selama ini tidak pernah dekat dengan siapapun lalu kenapa tiba-tiba menikah. Bahkan dirinya yang dikelilingi wanita saja belum kepikiran untuk menikah.
"Kau meneleponku hanya untuk menanyakan hal itu! Sepertinya kau benar-benar mau mati! Apa perlu aku hancurkan proyek yang sedang kamu kerjakan itu!" ancam Axel.
"Hehehe, aku hanya penasaran bagaimana kau melakukannya. Aku khawatir kau tidak tau caranya, kamu bisa bertanya padaku jika tidak tau caranya. Aku bisa mengajarimu dengan senang hati," ujar Marco mulai ngelantur. Sepertinya laki-laki sang mabuk saat ini. Jika mendengar dari suaranya pria itu pasti masih berada di club malam. Tadi mereka pergi bersama tapi Axel pulang lebih dulu, meninggalkan mereka berdua.
"Di mana Jimi. Apa kau sendirian di sana?" tanya Axel mulai cemas. Temannya suka ceroboh dan berakhir menyebabkan masalah biasanya.
"Jimi? Hahaha ... dia meninggalkanku sendirian di sini sepertimu. Tapi tidak apa-apa, karena di sini banyak wanita yang bisa aku ajak bersenang-senang."
"Kau jangan ceroboh, berhentilah bermain wanita dan pulanglah. Sudah berapa kali kau tertipu oleh mereka." Pasalnya, Marco sering kali berakhir sial jika bermain dengan wanita asal-asalan. Paginya, biasanya wanita yang tidur dengan Marco menggambil semua harta benda yang pria itu bawa. Mulai dari jam tangan mahal, uang tunai, kartu kredit semuanya diambil padahal dia juga akan mendapatkan bayaran untuk para wanita yang sudah ia kencani. Namun, pria itu tidak ada kapoknya juga.
"Tenang saja, kali ini aku tidak membawa jam tanganku dan hanya membawa sedikit uang," ujar Marco yang tidak bisa berlama-lama atau membiarkan wanita itu menganggur. Tentu saja. mereka harus masuk ke dalam kamar setelah dari tempat itu.
"Baiklah, terserah kau saja."
Setelah menyelesaikan panggilan teleponnya yang ternyata tidak penting itu. Axel kembali ke kamar Alesya, dia merebahkan tubuhnya di samping wanita yang masih terlelap dalam tidurnya.
...
Paginya. Mereka sarapan bersama pertama kalinya setelah sah menjadi suami-istri. Jika mengingat saat bangun tidur tadi,, rasanya Alesya masih kesal karena tau-tau saat bangun sudah ada di tempat tidur. Bukan hanya itu, tapi tepat saat membuka mata dia melihat wajah pria itu ada di depannya. Dan lagi-lagi pria itu sudah mencuri cium4n di bibirnya pagi ini.
Alesya ingin sekali marah dan kesal tapi tidak bisa. Dia melampiaskannya pada makanan di depannya saat ini. Wajahnya ditekuk. Menyesal sudah berbaik hati membantu pria itu berganti pakaian tadi malam. Kalau tau akan seperti itu lebih baik dia seret saja tubuh pria itu keluar dari kamarnya. Walaupun itu juga tidak mungkin karena Alesya tidak mungkin punya tenaga sebesar itu untuk menyeret pria itu keluar dari kamarnya.
Reaksi sang tuan rumah yang tidak biasa tentu saja membuat semua pelayan terheran-heran. Baru pernah mereka melihat wajah Axel yang tampak cerah. Sepertinya mood pria itu benar-benar bagus setelah menikah. Atau mungkin karena mereka telah menghabiskan malam pertama mereka tadi malam. Walaupun tidak ada tanda-tanda aneh pada tubuh sang nona. Seperti tidak ada tanda merah atau jalannya yang tidak biasa. Tapi sepertinya sudah terjadi sesuatu yang sudah membuat laki-laki itu tampak puas.
"Nanti siang datanglah ke kantorku," ujar Axel setelah dia selesai makan.
"Hah kenapa?" tanya Alesya.
"Kau hanya perlu menuruti semua perintahku tanpa perlu bertanya alasannya."
"Baiklah." Alesya lupa jika dia tidak bisa menolak ataupun melawan perintah laki-laki itu.
"Bella, tolong nanti kau siapkan makan siang untuk dibawa istriku ke perusahaan," perintah Axel pada Bella.
"Baik Tuan."
Setelah itu Axel pun berangkat ke kantor dengan diantarkan sang istri sampai di depan rumah. Alesya membawakan tas suaminya. Di depan sudah ada asisten Ken yang sudah menunggu tuannya. Dia segera membukakan pintu saat tuannya datang.
"Pagi Tuan, pagi Nona," sapa asisten Ken.
"Pagi asisten Ken," balas Alesya seraya tersenyum. Berbeda dengan Axel yang sama sekali tidak membalas sapaan dari orang lain.
Saat sudah masuk ke dalam mobil, Axel membuka kaca jendelanya. Menyuruh Alesya mendekat dengan menjentikkan jarinya. "Kemarilah."
"Jangan pernah meninggalkan rumah tanpa ijin dariku atau kau akan tau akibatnya."
"Ya, aku tau," jawab Alesya. Dia sudah tau dan sangat tau akan hal itu.
"Baguslah, ayo jalan Ken." Mobil itupun meninggalkan rumah.
"Ya ampun, untuk apa segala aku harus ke kantornya," gerutu Alesya.