Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
39.


sebulan kemudian, kehidupan Alesya dan Axel kini semakin bahagia. Ibu dari Alesya juga sudah pulang ke rumah yang dulu ditempati nya bersama keluarganya. Para pekerja yang dulu sempat diberhentikan setelah pergantian pemilik rumah, sudah dipanggil kembali. Perlahan wanita itu sudah mulai menerima kepergian sang suami dan sudah bisa tersenyum.


Semalam Alesya menginap di rumah ibunya karena sang suami ada urusan di luar kota. Perempuan itu tentu senang sekali bisa tinggal bersama ibunya meski hanya satu malam. Karena Axel tidak mungkin mengujikan istrinya menginap kalau dia ada di rumah. Tentu saja karena lelaki itu hobi sekali membuat istrinya kelelahan tiap malamnya.


"Ibu sedang apa di sini? Kan sudah aku bilang jangan sampai kelelahan. Bibi, kenapa kalian membiarkan ibuku memasak," heboh Alesya saat melihat ibunya sedang ada di dapur. Pasalnya wanita itu belum pulih sepenuhnya.


"Tidak apa-apa sayang. Ibu harus memaksa mereka untuk membiarkan ibu memasak. Kamu tidur di rumah, tentu saja ibu harus memasak makanan kesukaan kamu," ujar ibu Alesya.


"Ibu tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku kan bisa makan apa saja buatan bibi," ujar Alesya.


"Ibu tidak pernah merasa direpotkan oleh putri ibu. Kamu tunggu saja di sana. Sebentar lagi ibu selesai, setelah ini kita makan bersama."


"Aku juga mau bantu," ujar Alesya.


"Tidak perlu sayang, ini hanya tinggal matangnya saja. Terus tinggal di taruh tempatnya. Sudah kamu duduk aja."


Alesya pun menurut dan duduk di meja makan. Menunggu ibunya yang beberapa saat kemudian sudah selesai masak.


"Ayo makan yang banyak, semua ini ibu masak untuk kamu." Sang ibu mengambil makanan untuk putrinya tersayang.


"Ya ampun, maafkan Ale Bu. Seharusnya aku membantu ibu tadi. Pasti lelah masak sebanyak ini."


"Sama sekali tidak nak, kamu makan makanan buatan ibu saja sudah membuat ibu bahagia. Ayo makan."


Alesya pun tidak sungkan lagi, sudah lama sekali dia tidak makan masakan ibunya. Meski rindu tapi  Alesya tidak mungkin tega menyuruh ibunya yang masih belum pulih sepenuhnya untuk memasak. Alesya memakan makanan itu sampai terharu dan matanya berkaca-kaca. Dia masih tidak menyangka kalau sang ibu bisa kembali bersamanya.


"Ehhh kenapa kamu menangis nak? Apa masakannya tidak enak atau ibu melakukan kesalahan?" panik sang ibu saat melihat sang putri menangis.


"Bukan Bu, hiks ... aku menangis karena terharu. Aku sangat bahagia bisa makan masakan ibu seperti dulu. Hiks ... aku pikir ibu akan meninggalkan ku seperti ayah," ujar Alesya dengan berlinang air mata.


"Ya ampun sayang ... ibu jadi ingin ikut menangis. Ibu mana mungkin meninggalkan kamu sendirian, meski ibu ingin sekali bersama ayahmu tapi ibu tidak ingin meninggalkan putri ibu." Sang ibu pun menghampiri putrinya lalu mereka saling merengkuh dan menangis haru. Para pelayan yang menyaksikan juga ikut terharu karena mereka jadi saksi bagaimana kehidupan majikannya.


Setelah menangis haru, Alesya makan dengan lahap bahkan sampai nambah beberapa kali. Padahal sebelumnya dia tidak pernah makan sebanyak itu.


"Lagi Bu, aku mau makan lagi," pinta Alesya sambil menyodorkan piringnya.


"Nak, kau sudah habis banyak sekali. Apa kau tidak kekenyangan? Nanti biar ibu masakan lagi, sekarang sudah ya makannya."


"Aku belum kenyang Bu, perutku saja masih berbunyi."


Ibu Alesya mulai curiga dengan tingkah putrinya. Karena sejak dulu setahu dia, sang putri tidak pernah makan sebanyak itu meskipun menggunakan lauk kesukaannya.


"Apa Ibu boleh bertanya sesuatu?"


"Hhmmm tanya saja Bu." Sambil kunyah-kunyah.


"Kapan terakhir kali kamu menstruasi?"


"Emm bulan kemarin sepertinya." Alesya masih sibuk makan.


Ibu Alesya langsung tersenyum bahagia mendengarnya karena mungkin sebentar lagi dia akan mendapatkan kabar bahagia dari putri dan menantunya.


"Kapan suami mu pulang?" tanya Ibu Alesya lagi.


"Katanya hari ini pulang, tapi aku tidak tau pulang jam berapa."


"Ohh begitu."


"Kenapa Bu?" tanya Alesya.


"Tidak apa-apa." Ibu Alesya tersenyum bahagia. "Makanlah lagi, nanti kalau masih kurang. Ibu akan masak lagi buat kamu."


Alesya senang sekali mendengarnya. Akhir-akhir ini napsu makannya memang bertambah banyak. Sebentar-sebentar rasanya lapar, apalagi saat di kantor. Dia suka sekali sambil makan cemilan.


Siangnya, Alesya sedang memeriksa beberapa pekerjaannya yang dikirim sekretarisnya. Dia duduk di sofa ruang keluarga sambil memangku laptop.


"Apa banyak sekali pekerjaannya? Sampai hari libur saja masih bekerja, kamu jangan terlalu lelah nak. Tidak perlu bekerja terlalu keras, santai saja. Ibu dan kamu sudah cukup dengan hidup kita sekarang." Ibu Alesya datang sambil membawakan puding buatannya.


"Tidak, sekarang kamu matikan laptopnya. Makan pudingnya dulu. Sini ibu suapi."


Alesya pun dengan senang hati membuka mulutnya menerima suapan dari tangan sang ibu.


Tak berselang lama, seorang laki-laki tampan datang setelah sehari semalam meninggalkan istrinya. Padahal dia mau mengajak istrinya juga tapi dia merasa sang istri sesekali mungkin ingin menginap di rumah ibunya. Axel pun memberikan kesempatan itu pada Alesya.


"Nak Axel, kau sudah datang?" tanya Ibu lebih dulu saat melihat menantu nya datang.


Alesya yang sedang duduk bersama ibu pun menoleh. Rasanya bahagia sekaligus tersipu saat melihat pria itu datang. Alesya tidak menyangka kalau sehari tidak bertemu akan terasa ada yang kurang. Mungkin karena mereka terbiasa setiap hari bertemu saat di rumah.


"Iya Bu, aku tidak bisa berjauhan dengan istri ku terlalu lama," ujar Axel membuat Alesya makin tersipu. Walaupun sebenarnya menurut Alesya, pria itu hanya sedang berpura-pura di depan ibunya.


"Ya ampun, kalian ini manis sekali." Ibu bahagia melihat mereka berdua.


Axel menghampiri istrinya dan mendaratkan kecupan di kening wanita itu. "Apa kau merindukanku?" tangannya sambil mengusap pipi sang istri.


"Hah, Ax—axel. Ada ibu," cicit Alesya malu dan mendorong tubuh pria itu agar menjauh tapi Axel tidak mau malah memeluk pinggang istrinya dan menjatuhkan kepalanya pada pundak Alesya.


"Aku sangat merindukanmu," bisiknya.


Ya ampun, kenapa dengan pria ini. Apa dia seperti ini karena ada ibu. Alesya tersenyum canggung pada Ibunya.


"Tidak apa-apa, nak. Ibu juga pernah muda, setiap ayahmu baru pulang dari luar kota juga akan manja pada Ibu."


Setelah kangen-kangenan sebentar, walaupun masih kurang tapi mereka tidak bisa lama-lama. Mereka pun makan siang bersama. Seperti tadi pagi, Alesya pun kali ini makan banyak sekali.


"Sayang, pelan-pelan makannya," ujar Axel sambil membersihkan bibir sang istri.


"Ah iya maaf."


"Nak, sepertinya nanti kalian harus ke dokter," ujar ibu tiba-tiba.


Axel dan Alesya saling pandang dan terdiam.


"Ada apa Bu, ibu sakit?" tanya Alesya panik.


"Bukan ibu yang sakit tapi kamu."


"Aku?" tanya Alesya tidak mengerti, dia merasa tubuhnya baik-baik saja.


"Kamu sakit? Kenapa tidak bilang?" kali ini Axel juga cemas.


"Nak, ke dokter kan belum tentu sakit. Sebenarnya ini baru dugaan, biar lebih jelas sebaiknya kalian periksa ke dokter nanti setelah ini. Karena tadi Alesya bilang tidak mendapatkan tamu bulanannya bulan ini."


Mereka masih tidak mengerti dengan ucapan ibunya.


Beberapa saat kemudian. Axel membawa istrinya pergi ke dokter seperti kata ibu mertuanya. Dia juga sudah tidak sabar dan antusias untuk segera mengetahui hasilnya. Berbeda dengan Alesya yang tampak ragu pasalnya dia tidak merasakan apapun.


"Bagaimana kalau ternyata belum ada?" ujar Alesya sambil mengusap perutnya.


"Kalau belum ada memang kenapa? Kita kan bisa membuatnya lagi sampai ada," ujar Axel.


Mereka sampai di rumah sakit. Axel sudah membuat janji dengan dokter dan langsung masuk ke ruang periksa. Di sana sepasang suami istri itu benar-benar tidak menyangka kalau sudah ada kehidupan di dalam rahim sang istri.


"Itu benar-benar anakku, aku akan jadi ayah?" tanya Axel tidak menyangka akan secepat itu mendapatkan buah hati.


"Iya tuan, saat ini nona Alesya sedang mengandung. Umurnya baru empat Minggu, masih sangat kecil. Jadi mohon lebih di jaga dengan baik di trisemester pertama ini."


Dokter pun menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak dilakukan dan di makan oleh ibu hamil lalu menyarankan banyak hal untuk kebaikan janin. Axel langsung memerintahkan sekretarisnya untuk mencarikan ahli gizi untuk mengawasi makanan sang istri. Ibu mertua dan kedua orangtuanya juga sudah diberi tahu tentang kehamilan Alesya.


Dibalik semua itu ada satu yang mengganggu perasaan Alesya. Jika dia hamil apa artinya sebentar lagi ia akan berpisah dari suaminya dan menyerahkan bayinya. Baru membayangkan saja membuat Alesya hancur. Bagaimana nanti saat itu terjadi.


"Kenapa sayang, kenapa sejak tadi kau seperti tidak senang. Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Axel saat di mobil.


"Apa setelah anak ini lahir, kita akan berpisah?" tanya Alesya dengan batin yang menjerit. Kalau bisa dia tidak ingin berpisah dengan darah dagingnya tapi dia harus membayar kebaikan yang sudah Axel berikan padanya.