
Setelah operasi selesai, Mishel mencoba menemui Rosaline tapi dua penjaga itu tidak mengijinkannya untuk masuk ke ruangan ICU. Kenapa masih di sana, itu karena kondisi Rosaline yang masih koma butuh penanganan khusus pasca operasi. Perempuan itu bertanya siapa mereka dan mengapa melarang dirinya untuk melihat Rosaline. Namun, tetap saja tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
"Tuan, tidak bisakah kalian mengijinkan saya masuk sebentar saja. Saya hanya mau melihat bagaimana keadaan Tante Rosaline." Mishel mencoba memohon lagi pada mereka.
Hasilnya tetap sama, mereka tidak memberikan jawaban sepatah katapun pada Mishel. Rasanya perempuan itu ingin mengamuk. Tidak tau bagaimana caranya masuk ke dalam sana. Dia sudah coba minta tolong pada perawat dan dokter tapi mereka juga sama. Tidak berani melawan orang yang ada di balik itu semua. Siapa sebenarnya orang itu, apa orang yang sama dengan orang yang membawa Alesya.
Mishel menyerah akhirnya, tubuhnya juga sudah lelah sejak semalam dia belum pulang dan beristirahat karena terlalu sibuk mencari temannya. Dia melihat Rosaline dari jendela kaca, wanita itu masih belum juga membuka matanya setelah menjalani operasi. Kalau Alesya melihat pasti juga sedih, kata dokter operasinya memang berhasil tapi karena hampir terlambat dan penyakit itu sudah menjalar kemana-mana jadilah masih memerlukan keajaiban untuk wanita itu kembali membuka mata.
Ponsel salah satu penjaga berbunyi. Dia pun segera mengangkatnya. Ternyata itu dari atasannya mereka.
"Baik Tuan," katanya setelah mendengarkan perintah, sebelum akhirnya panggilan terputus.
Mishel baru saja mau meninggalkan tempat itu, dia akan kembali lagi nanti rencananya. Setelah beristirahat sebentar dan mengisi perutnya. Mungkin nanti dia akan berjumpa dengan Alesya di sini.
"Nona, Anda sudah diperbolehkan untuk masuk."
Mishel membalikan tubuhnya lagi mendengar kalimat yang baru saja diucapkan penjaga itu. Benarkah? Dia tidak salah dengar kan?
"Saya boleh masuk?" tanya Mishel dengan wajah bahagia.
"Iya Nona, hanya sebentar."
"Ah iya, tidak apa-apa. Saya juga paham kalau pasien tidak bisa diganggu. Saya hanya akan melihatnya sebentar," ujar Mishel memahami.
Perempuan itu sudah menggunakan pakaian khusus untuk memasuki ruangan itu. Perlahan Mishel mendekati ke ada ranjang untuk melihat dari dekat bagaimana kondisi Rosaline.
"Tante Rosa, ini aku, Mishel. Tante, putri Tante sudah berjuang keras demi kesembuhan Tante. Aku harap Tante segera membuka mata agar Alesya tidak sendirian lagi. Maafkan putri Tante, Alesya karena belum bisa melihat Tante, dia juga sedang kesusahan sekarang. Tante tidak perlu khawatir, Alesya anak yang hebat. Dia pasti akan baik-baik saja. Sekarang yang penting Tante bangun ya ... berkumpullah bersama dengan putri Tante lagi. Aku juga merindukan Tante, merindukan masakan Tante. Ayo bangun Tan ... hiks ...."
Mishel tak kuasa lagi menahan tangisnya. Melihat Rosaline terbaring lemah seperti itu. Mishel tidak hanya sebentar mengenal Alesya dan keluarganya. Sudah lama semenjak mereka masih sekolah menengah atas. Alesya yang saat itu anak orang kaya tidak malu berteman dengan Mishel yang notabene hanya orang biasa. Hubungan mereka sangat dekat, Mishel sering menginap di rumah Alesya begitupun sebaliknya. Alesya tidak pernah memandang orang dari hartanya.
...
Sorenya. Alesya ternyata tertidur pulas sampai matahari hampir tenggelam. Dia baru terbangun dan langsung membersihkan diri. Ternyata di lemari sudah tersedia banyak pakaian wanita, dia pun menggunakan pakaian yang ada di sana. Mengingat Alesya sama sekali tidak membawa pakaian. Dia tidak tau kalau semua itu memang disediakan untuknya, dia pikir akan meminta ijin nanti jika bertemu dengan pria itu.
"Pakaiannya sangat pas di tubuhku. Apa selama ini laki-laki itu sering membawa wanita ke rumah ini," pikir Alesya. Namun, itu bukan urusannya. Dia mencoba tidak memikirkan hal yang tidak perlu ia pikirkan.
"Jam berapa sekarang? Apa dia sudah pulang?" Alesya bertanya-tanya. Dia ingin menanyakan kabar ibunya.
"Lebih baik aku mencarinya di luar," gumamnya.
Alesya tampak sangat cantik dengan dress selutut yang ia pakai. Rambutnya dibiarkan tergerai indah. Para pelayan yang melihatnya terkesima dengan kecantikan Alesya.
"Bella, apa Tuan sudah pulang?" tanya Alesya sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok laki-laki itu.
"Belum Nona, mungkin sebentar lagi. Apa Anda lapar dan ingin memakan sesuatu? Saya sudah membuatkan cemilan untuk Anda." Bella sangat ramah pada Alesya padahal belum sehari perempuan itu tinggal di sana. Namun, bagi Bella kedatangan Alesya ke rumah itu adalah kebahagiaan tersendiri baginya karena sebagai orang yang sudah lama bekerja pada keluarga Novaldo. Bella merasa bangga bisa melayani calon nyonya Novaldo.
"Terimakasih Bella, kamu sangat baik." Alesya tentu saja senang karena di rumah itu ada Bella yang sangat baik padanya. Saat siang tadi pun wanita itu membawakan makan siang ke kamar Alesya. Lalu membangunkannya dengan lembut. Sungguh seperti sosok seorang ibu, ahh Alesya jadi rindu pada ibunya.
"Sudah tugas saya melayani Anda dengan baik, Nona." Bella tersenyum tulus pada perempuan cantik itu. Pantas saja tuannya suka, wajahnya saja sangat cantik meski hanya menggunakan riasan tipis.
...
Laki-laki berdarah campuran itu akhirnya pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Seperti biasa dia selalu diantar oleh asistennya kemanapun dia pergi. Hampir jarang sekali laki-laki bernama Axel itu mengendarai mobil sendiri. Kemana-mana selalu bersama dengan asisten Ken.
"Ken, apa kau sudah menyiapkan ponselnya?" tanya Axel yang duduk di kursi belakang.
"Sudah Tuan, hanya ada nomor Anda dan nomor saya di dalam ponsel itu. Saya mengaturnya agar terhubung dengan ponsel Anda." Asisten Ken memang selalu tau apa mau tuannya.
Axel tidak menyahut lagi. Dia tampak sedang berpikir.
"Apa orang dari masion utama menghubungimu?" tanyanya.
"Tidak Tuan." Asisten Ken tidak pernah mengkhianati tuannya. Meski kadang orangtua Axel bertanya padanya mengenai putranya. Asisten Ken hanya akan menjawab hal yang dibolehkan oleh tuannya.
"Baguslah, berarti belum ada yang melaporkan tentang wanita itu. Kau sudah mengurus untuk besok, Ken?"
"Sudah Tuan, semuanya sudah beres."
Tidak ada yang tau apa arti dari senyuman pria berdarah dingin itu. Tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang sang Tiran itu pikirkan. Bagi asisten Ken sendiri, jika tuannya tersenyum justru menakutkan karena biasanya akan ada perusahaan yang gulung tikar setelahnya. Akan tetapi, kali ini pria itu kan tidak sedang berselisih dengan perusahaan manapun tapi dengan seorang perempuan yang tubuhnya kecil mungil.
Asisten merinding melihat tuannya tersenyum, dia harap hidup perempuan itu akan baik-baik saja kedepannya.
Mereka sampai di masion milik Axel. Asisten membukakan pintu untuk tuannya.
"Kau bisa langsung pulang Ken," perintah Axel.
"Baik Tuan." Sesuai perintah, asisten Ken kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
Sementara Axel memasuki rumah, Bella yang tau tuannya datang langsung menyambut kedatangannya bersama Alesya. Tentu saja Bella yang mengajaknya tadi.
Alesya sendiri tersenyum canggung saat pria itu datang. Dia ikut membungkuk seperti pelayan yang lain.