Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
23.


Di perusahaan Queen's. Seorang pria baru tergelak bersama rekannya. Dia baru saja mendapatkan proyek yang bernilai fantastis, dan tentunya dia memiliki rencana yang luar biasa agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Dia akan menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan dengan sang kakak saat memimpin perusahaan itu.


"Akhirnya aku bisa mendapatkan proyek itu, aku akan semakin kaya sebentar lagi. Hahaha." Tawa laki-laki itu menggema di ruangan yang dulu ditempati oleh kakaknya itu.


"Benar, kau harus mengikuti saranku agar kita bisa dapat keuntungan lebih. Jangan seperti kakakmu yang sok bersih itu. Sudah bertahun-tahun, tidak ada kemajuan. Laba perusahaan juga semakin sedikit," ujar pria yang kepalanya botak sambil menyeringai. Dia adalah salah satu pemegang saham di perusahaan itu. Yang bekerja sama dengan laki-laki itu.


"Tenang saja, aku akan mengikuti saranmu asalkan semuanya aman. Aku juga tidak mau mendapatkan untung sekecil itu," ujar laki-laki bernama Gerald itu. Dia adalah adik dari mending ayah Alesya. Dia yang mengambil alih semua peninggalan kakaknya itu dengan cara yang licik.


"Tentu saja aman, aku sudah biasa bermain taktik seperti ini dalam berbisnis. Kita akan panen untung dari proyek ini." Mereka tertawa lagi sambil menikmati segelas wine di hadapan mereka.


Sampai seseorang masuk ke dalam ruangan itu dan menyita perhatian pria berkepala plontos itu.


"Daddy." Perempuan dengan tinggi semampai, rambut berwarna coklat kehitaman dan bermata hijau itu berteriak memanggil sang Daddy tercinta. Dia masuk begitu saja ke dalam ruangan itu.


Pria berkepala plontos pun terpesona oleh kecantikan putri temannya itu. Matanya menatap perempuan itu dengan berkabut dan bibirnya menyunggingkan senyum smirk. Dia menyesap wine yang ada di gelasnya lagi, seakan tenggorokannya penuh akan dahaga Setelah melihat perempuan itu.


"Lohh kenapa kamu tiba-tiba datang? Apa kamu tidak kuliah?" tanya Gerald pada sang putri.


Perempuan yang menggunakan rok di atas lutut itu memeluk Daddynya manja. Dia adalah putri satu-satunya yang sangat disayang kedua orangtuanya. Apapun yang dia minta pasti selalu dituruti.


"Daddy, aku minta uang. Temanku ulang tahun dan aku berencana untuk membelikannya tas," ujar gadis itu tanpa peduli jika sejak tadi dia manjadi objek pemandangan dari pria berkepala plontos.


"Bukankah Daddy baru mengirimkanmu uang kemarin. Apa uang itu sudah habis?" tanya Gerald sambil mengusap kepala putrinya yang cantik.


"Ya ampun, kemarin Daddy hanya memberiku uang lima puluh juta. Sudah untuk aku beli sepatu, masih sisa sedikit dan itu kurang untuk membeli tas," tutur gadis bernama Caroline itu.


"Memang kamu mau berapa lagi?"


"Kirimin aku dua puluh juta lagi ya, Dad." Caroline mengedipkan matanya sambil memohon.


"Baiklah, apa yang tidak untuk putri Daddy."


"Terimakasih Dad, Daddy memang terbaik, aku sayang Daddy. Kalau begitu aku pergi dulu Dad. Jangan lupa transfer ya," ujar Caroline, setelah mendapatkan apa yang dia mau dia tinggal pergi dengan teman-temannya.


"Putrimu sudah semakin cantik ya, apa dia sudah punya kekasih?" tanya pria berkepala plontos.


"Ya, dia memang sangat cantik seperti ibunya. Dia sedang dekat dengan putra LC'S company . Dia sangat hebat bisa mendekati pria sehebat itu, kalau sampai mereka menikah maka perusahaan ini bisa lebih berkembang dengan sokongan dari LC'S company," ujar Gerald dengan bangganya.


"Ohh ya, hebat sekali dia. Apa dia berpacaran dengan Tuan Theo?" tanya pria itu penasaran karena setau dia putra dari LC'S company adalah laki-laki yang sulit didekati.


"Tidak, bukan dengannya. Kalau dia itu mana mungkin bisa didekati. Putriku dekat dengan putra keduanya Presdir," terang Gerald.


Pria itu berpikir sejenak, putra kedua LC'S company adalah laki-laki pemain wanita jadi mana mungkin laki-laki seperti dia serius dengan satu wanita. Apalagi putri dari temannya itu tidak begitu istimewa. Hanya paras dan bodynya saja yang menarik.


"Lebih baik denganku saja bukan," ujarnya dalam hati sambil menyeringai.


...


Di sebuah Mall di kawasan elit.


Alesya yang baru diperbolehkan pulang oleh suaminya. Meminta ijin untuk pergi jalan-jalan sebentar, dia mendapatkan ijin meski harus ditemani oleh dua pengawal. Perempuan itu memutuskan untuk pergi ke mall hanya untuk berjalan-jalan karena dia tidak membutuhkan apapun sebenarnya. Di rumah saja, banyak barang-barang mahal yang belum terpakai.


"Apa jika aku meminta ijin ke rumah sakit, Axel juga akan mengijinkanku," gumamnya.


"Ah iya, sebaiknya aku telepon Mishel dan mengatakan ada di sini. Aku bisa bertemu dengannya di sini kan. Axel ga akan marah kan kalau hanya bertemu dengan teman perempuan," gumamnya lagi memikirkan suaminya yang susah ditebak.


Alesya mengotak-atik ponselnya dan menelepon temannya. Rasanya dia sangat rindu pada temannya itu.


"Semoga dia tidak sedang bekerja," gumamnya sambil menunggu teleponnya tersambung.


Namun, di saat yang bersamaan. Segerombolan gadis-gadis cantik berjalan ke arah Alesya. Mereka asyik mengobrol sampai tidak memperhatikan jalan. Tepat di depan Alesya, mereka pun bertabrakan.


"Awwww !! Sakit !!"