
Alesya dan Axel berangkat ke bandara untuk menjemput ayah dan ibu Axel. Alesya tampak masih kelelahan meski sudah beristirahat. Berbeda dengan Axel yang tampak segar.
"Apa kau gugup karena mau bertemu dengan orangtuaku?" tanya Axel pada istrinya.
"Hmm bagaimanapun ini pertama kalinya aku bertemu dengan mereka. Bagaimana kalau aku tidak bisa berakting dengan benar di hadapan mereka dan mereka akan curiga dengan hubungan kita."
"Kau tidak perlu cemas soal itu, kau hanya perlu mengikuti apa yang aku lakukan nanti." Menyeringai penuh arti.
Alesya tidak mengerti dengan perkataan pria itu. Dia lebih memilih untuk memikirkan akan bagaimana nanti saat bertemu dengan mertuanya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesawat yang ditumpangi kedua orang tua Axel pun mendarat dengan selamat. Setelah perjalanan panjang, bekerja sekaligus berbulan madu. Sekarang mereka bisa kembali juga untuk menemui putra dan menantunya.
Sesungguhnya Alesya sangat gugup saat ini, dia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat bertemu dengan mertuanya nanti. Bagaimana kalau mereka curiga dengan hubungan pernikahan ini. Alesya tidak pandai berbohong sejak dulu. Bagaimana ia harus berbohong, sedangkan laki-laki itu sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Hanya berkata tenang-tenang.
"Tidak usah gugup, orangtuaku baik. Kau akan tau setelah melihatnya nanti."
Alesya tidak menanggapi, pria itu bisa tenang tapi dirinya tidak.
Sepasang suami istri yang baru saja keluar dari pintu keluar tampak melambaikan tangan ke arah mereka.
"Itu Daddy dan Mommy. Ayo." Axel menggandeng tangan Alesya untuk mendekat.
"Ya ampun, mommy kangen sekali padamu." Marlin memeluk putranya erat. Dia sangat rindu sekali dengan putra satu-satunya itu.
"Aku juga merindukan Mommy."
Setelah berpelukan dengan ibunya, Axel pun menghampiri sang Daddy dan berpelukan. "Bagaimana kabarmu Boy?" tanya Rey.
"Baik Dad."
"Apa dia menantu Mommy? Kemarilah Nak. Biar Mommy melihatmu."
Pipi Alesya memerah saat ibu mertuanya menyapa.
"Hallo Mom, Dad. Perkenalkan namaku Alesya. Maaf karena aku baru menyapa kalian." Alesya membungkukkan tubuhnya.
"Tidak apa-apa nak, putra kami yang kurang ajar. Menikah tidak memberitahu orangtuanya," ujar Marlin menyindir putranya.
"Mom ... kami buru-buru saat itu jadi tidak sempat mengabari kalian. Aku juga tidak ingin mengganggu bulan madu kalian." Axel mencari alasan.
"Dasar kau ini, Mommy memaafkan mu karena kamu sudah memberikan mommy menantu yang sangat cantik seperti Alesya. Oh sayang, mommy sangat menyukaimu. Kalau sampai anak itu macam-macam bilang pada Mommy, lihatlah lingkaran hitam itu. Pasti anak Mommy yang sudah membuat kamu kelelahan kan?"
"Mom!!" protes Axel karena ibunya membahas hal seperti itu di depan umum.
Alesya juga sama, dia sangat malu karena ternyata ibu mertuanya tau apa yang telah terjadi.
"Kau tidak usah malu karena suamimu itu seperti Daddy nya saat muda. Daddy mertua mu juga sering sekali membuat mommy kelelahan." Marlin tertawa puas setelah mengejek kedua laki-laki itu yang sama buasnya saat di atas ranjang.
Setelah dari Bandara mereka pulang ke masion utama yaitu tempat tinggal orangtua Axel. sejak tadi Mom Marlin sangat antusias menyambut menantunya di rumah. Dia tidak sabar untuk bercerita banyak hal tentang masa kecil putranya pada sang menantu. Dia ingin menunjukkan foto-foto Axel kecil yang pernah Mom Marlin dandani seperti perempuan karena mereka hanya punya satu anak, jadilah Axel harus mau jadi korban saat momnya tiba-tiba ingin punya anak perempuan.
"Hahaha kau pasti akan tertawa saat melihat suami mu menggunakan pakaian perempuan. Tapi jangan salah, dia terlihat sangat imut dan cantik. Mom bahkan ingin sekali membawa dia ke pesta dengan dandanan seperti itu agar orang-orang pikir mom punya anak lagi."
Mom Marlin benar-benar menjatuhkan harga diri Axel yang selama ini terkenal garang dan galak. Bagaimana bisa sang mommy menceritakan hal seperti itu. Nanti dia akan membakar semua foto-foto itu agar tidak ada yang bisa melihatnya.
Sedangkan sang Daddy tertawa puas melihat putranya menahan malu.