Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
16. Sah Jadi Istrinya Tiran


Sumpah janji suci di hadapan Tuhan pun selesai diucapkan. Kini Alesya telah sah menjadi istri dari seorang Axelo Novaldo Kingsley. Sumpah yang seharusnya tidak boleh dipermainkan, tapi mereka malah menjadikan sumpah itu hanya sebuah perjanjian.


Pernikahan mereka hanya dihadiri oleh kedua teman Axel dan asisten Ken. Tidak ada tamu undangan ataupun orangtua keduanya.


"Silahkan mempelai pria bisa mencium mempelai wanita."


Sejak tadi Alesya hanya bisa menunduk dalam kepedihan. Meski dia tidak memiliki seseorang yang dia cintai tapi dia tidak pernah menyangka akan menikah dengan cara seperti ini.


"Lihatlah kemari," ujar Axel seraya mengangkat dagu istrinya. "Singkirkan air matamu itu atau orang-orang akan curiga," bisiknya dengan menjep1t dagu Alesya sampai berbekas.


Tanpa aba-aba, laki-laki itu sudah membuka kain penutup kepala pengantin wanita dan menciumi pengantinnya. Alesya hanya bisa mengepalkan tangan, dia tidak bisa mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya.


Suara tepuk tangan dari ketiga orang yang hadir menyaksikan pernikahan mereka pun menggema di Gereja itu. Kedua teman Axel tidak menyangka kalau temannya akan menikah secepat itu, bukankah selama ini Axel tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Hal ini tentu saja membuat mereka bertanya-tanya.


"Siapa wanita itu, kapan Axel mengenalnya?" tanya Marco pada asisten Ken.


"Anda bisa menanyakan pada Tuan langsung nanti." Ken selalu seperti itu.


"Kau sungguh tidak mengasyikkan Ken." Marco meninju udara karena kesal.


Jimi menepuk pundak temannya untuk tidak membuat masalah atau mereka akan kehilangan proyek penting lagi.


"Selamat bro. akhirnya kau lebih dulu melepas masa lajang dari pada kami," ledek Marco sembari memeluk temannya yang berwajah datar.


"Selamat, aku ikut senang melihatnya." Giliran Jimi yang memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin baru itu.


"Ngomong-ngomong, apa kau tidak mau memperkenalkan istrimu pada kami. Ohh ya ampun, bagaimana kau bisa menemukan wanita secantik dia. Kalau saja aku bertemu lebih dulu pasti aku duluan yang menikah," ujar Marco asal. Dia tidak sadar kalau temannya sudah mengeluarkan tanduknya.


"Dia istriku, kau tidak usah menggodanya," ujar Axel penuh peringatan.


"Hehehe, iya-iya maaf. Makanya kau kenalkan dong pada kami. Siapa dia? Putri dari pemilik perusahaan mana?"


Jimi menyikut temannya yang selalu berbicara asal tanpa filter. Dia menyadari kalau raut wajah dari istri Axel itu tampaknya tidak suka mendengar perkataan Marco.


"Maaf karena saya terlambat memperkenalkan diri. Kalian pasti teman-teman Axel. Perkenalkan saya Alesya, Alesya....." Alesya menaruh tangannya di depan dada dan memperkenalkan diri.


"Hai ... aku Jimi, dan ini Marco. Kamu tidak pernah terlalu sopan pada kami. Senang berkenalan denganmu," ujar Jimi.


"Senang berkenalan dengan kalian juga." Alesya tersenyum ramah. Dia tau, saat ada orang lain berarti tugasnya di mulai sebagai istri pura-pura laki-laki itu. Meski memuakkan tapi dia tidak bisa lari dari perjanjian yang sudah ia tandatangani. Dia juga tidak mau pengobatan ibunya dihentikan.


"Sudah cukup kenalannya. Kalian pergilah ke tempat biasa. Nanti aku akan menyusul kalian," perintah Axel.


"Baiklah, kami akan pergi lebih dulu. Ayo Marco." Menyeret temannya agar pergi dari sana.


"Eh tunggu, aku belum berkenalan dengannya. Hai Axel, kau akan membawanya juga kan ke tempat biasa." Marco berteriak.


Sepeninggal kedua laki-laki itu. Axel dan Alesya pun meninggalkan tempat itu. Mereka duduk bersebelahan tanpa suara. Di bangku depan ada asisten Ken duduk di belakang kemudi.


"Aktingmu boleh juga. Saat bertemu dengan keluargaku, aku harap kau juga bisa berakting dengan baik seperti tadi," ujar Axel memuji Alesya.


"Saya hanya mencoba menjalankan perjanjian kita dengan baik." Alesya benci berpura-pura tapi dia tidak bisa mengingkari perjanjian itu.


"Baguslah, baca ini juga. Di situ sudah tertulis tugas apa saja yang akan kau kerjakan setelah menjadi istriku dan ya, kau juga harus mempersiapkan dirimu kapanpun sewaktu-waktu aku akan meminta hal itu. Kau mengerti kan maksudku."


"Apa kita tetap akan melakukan hal itu?" tanya Alesya. Ia pikir sudah cukup berpura-pura menjadi istri dari laki-laki itu. Apa dia masih harus menyerahkan tubuhnya juga.


"Tentu saja, apa gunanya aku menikahimu kalau aku tidak bisa menyentuhmu. Aku juga membutuhkan anak, jadi aku harap kamu menjadi tubuhmu baik-baik agar bisa segera memberiku anak."


"Apa!" Alesya terkejut mendengarnya. Apa perlu sampai ada anak dari hubungan palsu itu. "Tapi Tuan, kenapa harus ada anak?"


Grep. Axel meraih pinggang ramping Alesya. Memegang rahang wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


"Tentu saja karena aku butuh keturunan dan kau harus melahirkan anak untukku. Kau tidak bisa menolak, karena aku adalah pihak pertama. Dan jangan memanggilku Tuan, aku ini suamimu." Bukan tanpa sebab Axel kesal saat dipanggil Tuan oleh wanita itu. Entah bagaimana nanti dia bisa menidurinya kalau wanita itu tetap memanggilnya Tuan, rasanya seperti melakukannya dengan wanita murahan yang ada di rumah b0rd1r saja.


"Ta—tapi bagaimana kalau kita berpisah nanti."


"Cukup ikuti saja perintahku, apa kau mengerti?!" ujar Axel penuh penekanan.