
Alesya sampai juga di rumah setelah rencana jalan-jalannya gagal karena bertemu dengan sepupunya. Jika tau akan bertemu dengan Caroline, sudah sejak awal Alesya pulang. Lebih baik di rumah dari pada buang-buang waktu. Yang membuatnya sedih dan miris adalah, mereka menggunakan uang dari usaha keras ayahnya dengan begitu mudah. Membuang-buangnya untuk hal yang tidak berguna. Padahal dulu ayah dan ibunya bersusah payah membangun perusahaan sampai sebesar itu. Kehidupan Alesya dan kedua orangtuanya juga terbilang sederhana dan tidak pernah mengumbar kekayaan.
Alesya masuk ke dalam rumah, dia tidak melihat jika mobil seseorang sudah ada lebih dulu di sana dan sekarang sedang menunggunya di dalam.
"Sore Nona," sapa Bella menyambut kedatangan istri majikannya.
"Bella, kau membuatku terkejut." Alesya yang sedang melamun sedikit terkejut.
"Tuan sudah menunggu Anda di kamarnya, Nona," ujar Bella lagi.
"Hah ... Tuan? Maksudmu suamiku sudah pulang?" tanya Alesya terkejut.
"Iya Nona, Tuan pulang lebih dulu. Apa Anda tidak melihat mobilnya di depan?"
"Tidak, tadi aku tidak melihat mobilnya. Kalau begitu aku akan menemuinya."
Apa dia akan marah karena aku pergi terlalu lama. Bagaimana aku menjelaskannya nanti, lebih baik aku jujur saja. Bodyguard yang bersamaku juga pasti sudah melapor padanya kan.
Sambil menaiki tangga, Alesya terus berpikir apa suaminya akan marah. Dia takut kalau apa yang dia lakukan akan berimbas pada ibunya yang kini masih butuh perawatan di rumah sakit.
Alesya menarik nafas berulang kali, bahkan tangannya bergetar dan berkeringat dingin saat menyentuh gagang pintu kamar laki-laki itu. Dia sudah mengetuk tapi tidak ada jawaban, karena takut sang empunya semakin marah. Alesya pun memutuskan untuk masuk saja ke dalam.
Klek. Alesya pelan sekali membuka pintu. Hal pertama yang menyambutnya adalah bau maskulin khas laki-laki sang kuat di kamar itu. Ya, ini adalah pertama kalinya Alesya menginjakkan kaki di kamar lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu. Meski selama ini tidak ada larangan untuk memasuki ruangan itu, tapi Alesya tidak seberani itu memasuki kamar sang suami.
"Axel ... apa kau di dalam? Boleh aku masuk?" tanya Alesya dengan lirih. Lampu kamar itu tidak begitu terang atau pemiliknya memang mematikan lampu utamanya. Jadi Alesya tidak begitu jelas melihat ruangan yang dominan berwarna abu dan hitam.
Setelah masuk lebih dalam Alesya tidak mendapati suaminya ada di kamar.
"Di mana dia, kata Bella ada di kamar," gumam Alesya.
"Ya ampun, aku seperti pencuri berjalan mengendap-endap seperti ini. Lebih baik aku keluar sebelum pemilik kamar ini kembali," gumamnya lagi. Namun, kakinya malah melangkah lebih jauh untuk melihat-lihat apa yang ada di sana. Mungkin saja ada foto wanita, ya itu bisa saja terjadi mengingat Axel adalah orang kaya, mana mungkin dia tidak pernah mempunyai kekasih.
Mungkin saja seperti di novel-novel, Dia sebenarnya memiliki wanita yang tersembunyi.
Deg. Tubuh Alesya menegang saat mendengar suara seseorang. Dia berbalik dan betapa terkejutnya saat melihat sang suami hanya menggunakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya dan membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka begitu saja.
"Ka—kamu kenapa tidak memakai pakaian?" ujar Alesya sambil menutupi wajahnya. Dia sangat malu melihat pemandangan itu.
"Apa mandi harus memakai pakaian?"
"Kalau begitu bisakah kau memakai pakaian terlebih dahulu."
Laki-laki itu tak memperdulikan sang istri yang malu melihatnya tak mengenakan pakaian. Dia justru berjalan santai ke arah perempuan itu, sambil mengibaskan rambutnya yang basah. Ia biarkan handuk itu begitu saja, padahal lilitannya sama sekali tidak terpasang dengan benar. Bisa saja itu terlepas dan membuat apa yang ada didalamnya terpampang begitu saja.
"Kenapa kau menutupinya wajahmu. Bukankah aku bilang kau harus mulai terbiasa. Lihat aku!" titahnya. Axel menarik kedua tangan istrinya.
Sontak wanita itu memejamkan matanya dengan erat, tidak ingin melihat hal yang tidak-tidak. "Kau ... apa yang kau lakukan, lepaskan tanganku, Axel," pekiknya.
"Buka matamu, kenapa kau harus takut padaku."
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya belum siap untuk itu, aku— hempp."
Alesya membulatkan matanya saat tiba-tiba bibir kenyal milik suaminya menempel pada bibirnya. Bukan hanya itu, laki-laki itu bahkan menggerakkan bibirnya dan mulai menggoda Alesya untuk membuka mulutnya.
"Ah tunggu, Axel ... hempp ..." Alesya berontak tapi laki-laki itu tidak mau melepaskannya. Dia malah menekan tengkuk perempuan itu dan semakin memperdalam ciumannya.
"Hosh hosh ... hemp." Axel hanya memberi istrinya waktu beristirahat dan mengambil nafas sebentar lalu kembali menciumi bibir itu. Sudah dari siang dia menahannya saat wanita itu datang ke kantor. Sekarang tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
Entah berapa lama mereka bertukar saliva, bahkan saat ini Alesya sudah duduk dipangkuan suaminya yang hanya menggunakan handuk. Nafas Alesya terengah-engah tak bisa mengimbangi permainan sang suami.
"Haah ... hah ...." Axel melepaskan bibirnya. Nafas keduanya memburu, jantung pun berdegup sangat kencang. Keduanya juga merasakan hawa panas dan berkeringat karena ciuman tadi. Bibir Alesya membengkak karena buasnya lelaki itu menyesap.
"Aku menginginkanmu, bolehkah malam ini aku menagih janjimu."
Deg