
Jari jemari Alesya tidak hanya berhenti pada bulu mata pria itu. Dia juga penasaran ingin menyentuh hidung dan bibir merah dan berbelah itu.
Dia tidak sadar kalau sang empunya sudah terbangun karena ulahnya. Tapi pria itu tetap diam membiarkan wanita itu melakukan apa yang ingin dia lakukan. Meski sebenarnya karena sentuhan itu dia jadi gerah dan sesak.
"Oh, dia berkeringat. Sepertinya dia kepanasan tertidur menggunakan kemeja dan jas yang masih lengkap. Dia bisa sesak nafas kalau seperti ini. Aku akan bantu membukakan kancing kemejanya sedikit," gumam Alesya dalam hatinya.
Jarinya sudah menyentuh kancing kemeja sang suami dan membuat pria itu makin kepanasan.
"Apa yang mau dia lakukan? Apa dia suka mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini."
Setelah membuka dia kancing kemeja suaminya, Alesya meneguk ludah saat dia melihat dada suaminya yang bidang. Dia sedikit gemetar saat sampai di kancing yang ketiga. Dia tampak ragu dan mengurungkan niatnya untuk membuka kancing yang ketiga. Sambil menghela nafas dia berhenti demi kesehatan jantungnya.
"Kenapa berhenti!" Lelaki itu terbangun dan menangkap tangan sang istri hingga terjatuh di atas dadanya yang sedikit terbuka. "Kenapa tidak dilanjutkan saja, ayu buka semua kancingnya," bisik Axel dengan suara berat. Tangan satunya memeluk pinggang istrinya sehingga wanita itu tidak bisa melepaskan diri.
"Ka—kamu sudah bangun?"
"Tentu saja aku bangun, jika kau menggangguku seperti itu. Apa kau merindukanku karena beberapa hari ini membiarkanmu tidur sendirian?" tanya pria itu dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan hembusan nafas pria itu terasa membelai wajah Alesya dan membuat wanita itu merinding.
"Aku hanya kasihan saat melihatmu kepanasan jadi membuka kemeja yang kamu pakai. Aku tidak ada niat apapun, sungguh."
Cup. Sebuah ciuman lembut dan menuntut mendaratkan di bibir Alesya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Axel. Dia sudah berusaha menahannya sejak tadi. Bagaimana mungkin dia melepaskan wanita itu kalau dia sendiri yang datang.
Hemmmpp
Alesya pun terbuai dengan gerakan bibir serta kehangatan dari ciuman sang suami. Mungkin dia rindu hanya saja dia tidak menyadarinya. Ciuman mereka semakin intens dan kini Alesya telah terduduk di atas pangkuan sang suami. Mereka hanya melepasnya sesekali untuk mengambil nafas lalu melanjutkan lagi.
Ohh shittt, tubuh keduanya makin memanas dan tidak terkendali. Sesuatu di bawah sana juga sudah mengeras sempurna. Alesya mendelik saat dia menduduki sesuatu. Wajahnya memerah karena tau apa itu.
"Apa sudah tidak sakit?" tanya Axel setelah melepaskan ciumannya. Dia harus menghentikan ini sebelum ingin lebih.
Alesya mengetahui maksud sang suami dan wajahnya makin memerah. Kenapa harus membahas hal seperti itu. Iya memang saat pertama kali sangat sakit tapi berkat salep yang Axel berikan. Alesya bisa pulih lebih cepat. Dia mengangguk perlahan sambil memalingkan wajahnya.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, kamu pasti tidak akan kesakitan kali ini." Axel menciumi seluruh wajah sang istri lalu kembali melahap bibir mungil itu kini semakin intens dan berapi-api. Tangannya menahan tengkuk dan satunya mulai menyusup mengusap kulit punggung Alesya.
Hah hah ugghhh
"A—axel ... aaghh ..." Alesya melenguh saat pria itu bermain di atas dadanya. Meninggalkan jejak yang baru, untuk menandai miliknya.
Axel tidak bisa menahan diri saat mendengar d3s4h4n yang keluar dari mulut istrinya. "Kau menggodaku, tapi aku suka suaramu saat memanggil namaku dengan cara seperti ini."
"Ugghh ... hah." Alesya melengkungkan punggungnya ke depan dan semakin mempermudah pria itu.
Axel tidak tahan lagi, dia membawa tubuh istrinya ke atas ranjangnya.
"Apa kita akan melakukannya di sini?" Maksud Alesya adalah di ranjang itu yang belum pernah dia tempati.
"Iya, tidak ada aturannya kita harus melakukannya di mana."
Mereka pun kembali mereguk kenikmatan bersama. Menanamkan benih-benih calon pewaris perusahaan Kingsley corp. Dengan berjuta kupu-kupu yang membuat mereka melayang bersama-sama.
Setelah itu Alesya benar-benar kelelahan karena sang suami melakukan lebih banyak dari pada sebelumnya. Dia akui kalau rasanya berbeda dan Alesya bisa menikmatinya juga.
"Tidurlah," bisik Axel.
Alesya masuk dalam dekapan suaminya. "Apa kau sedang menyelidiki perusahaan ayahku?" tanya Alesya.
"Hmmm ... kau sudah melihatnya. Banyak sekali kecurangan yang dilakukan pamanmu. Sebentar lagi aku akan mengungkapkan kebenarannya dan perusahaan itu bisa kembali padamu." "Kau senang?"
Alesya mengangguk. "Terimakasih."