
Seorang gadis baru saja pulang setelah bersenang-senang dengan teman-temannya. Dia Caroline, putri dari paman Gerald yang merupakan adik ayahnya Chloe. Tubuhnya sempoyongan, untuk berdiri saja harus berpegang pada sesuatu. Penampilannya sudah acak-acakan dan dia juga sudah menghabiskan uang puluhan juta dalam satu malam hanya untuk membelikan minuman.
"Eeuughhh, kenapa kepalaku berputar. Hai kau diamlah, kenapa kau berputar-putar." Caroline mengomel pada pot bunga besar yang ada di dalam rumah.
Dia beberapa kali terjatuh saat berjalan, sampai rasanya dia tidak kuat lagi dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Keadaan rumah sudah gelap, kedua orangtuanya mungkin sudah tidur. Sedangkan para pelayan juga pasti sudah beristirahat di jam sekarang.
Gadis itu pun tertidur di sofa sampai keesokan paginya.
"Ya ampun Carol!! Kenapa kau tidur di sini nak. Astaga, bau apa ini. Kenapa kau bau sekali. Bi ... bibi ...." teriak Marsha ibu Caroline.
"Iya Nyonya."
"Tolong bantu aku bawa dia ke kamar Bi. Cepatlah, sebelum suamiku melihatnya seperti ini." Marsha memang selalu menutupi keburukan sang putri termasuk pada sang suami. Dia berpikir kalau sejak dulu dia sudah hidup penuh derita dan serba kekurangan. Jadi saat ini dia pun sering berfoya-foya dan membiarkan putrinya juga melakukan hal yang sama.
"Sebenarnya kau minum berapa banyak, sampai bau begini. Cepat bersikap dia bi. Setelah itu buatkan sup pereda mabuk dan paksa dia meminumnya," titah Marsha.
"Baik Nyonya."
Marsha pun meninggalkan putrinya untuk melihat sang suami.
"Papah kenapa, apa ada masalah?" tanya Marsha saat mendapati sang suami tampak frustasi.
"Ada yang menyerang Papah, Mah. Ada orang yang tiba-tiba mengirimkan bukti-bukti tentang kecurangan Papah saat mendapatkan perusahaan. Sekarang para pemegang saham sedang meminta penjelasan Papah." Gerald baru saja mendapatkan berita kalau orang misterius mengirimkan berkas bukti-bukti korupsi dan pencucian uang yang dilakukannya. Padahal dia sudah melakukan itu dengan rapi tanpa meninggalkan jejak. Satu-satunya orang yang tau adalah kakaknya, tapi sang kakak juga sudah meninggal.
"Tenang Pah, pasti ada jalan keluar. Bukankah orang itu berjanji akan membantu Papah kalau terjadi sesuatu. Jangan lupa, dia juga mendapatkan banyak bagian kan dari apa yang kita dapat."
"Kau benar, aku akan minta bantuannya."
"Ya sudah, sebaiknya ayo kita sarapan," ajak Marsha.
Di meja makan, Gerald mencari sang putri karena tak terlihat.
"Apa putri kita masih tidur? Apa dia tidak kuliah?" tanya Gerald.
Setelah sarapan, Gerald berangkat bekerja tanpa tau keadaan putrinya yang mabuk parah.
"Apa dia sudah bangun Bi?" tanya Marsha pada pembantu.
"Belum nyonya, nona Caroline masih tertidur."
"Ya sudah, biarkan dia bangun sendiri. Aku mau pergi arisan dengan teman-temanku. Siapa makanan kalau dia bangun," pesan Marsha.
Wanita itu pun pergi menggunakan tas dan pakaian mewahnya seperti biasa. Setelah suaminya memimpin perusahaan, dia jadi punya banyak teman para istri pengusaha. Mereka sering berkumpul untuk arisan atau sekedar pamer barang-barang branded. Mereka juga biasanya bersenang-senang, menghamburkan uang suami mereka.
"Hai Jeng, maaf lama. Tadi aku menunggu suamiku berangkat ke kantor lebih dulu. Apa kalian sudah bersenang-senang?" tanya Marsha pada circle nya.
"Jeng Marsha, itu cincin baru. Waah pasti mahal dong harganya."
"Aahh ini murah kok, cuma satu M." Marsha memamerkan cincinnya.
"Hebat Jeng Marsha ini, bisa memiliki cincin itu. Aku sudah mengincarnya dari lama tapi uangnya belum terkumpul."
"Hahaha ini aku minta pada suamiku yang paling baik. Dia akan membelikan apapun yang aku mau. Ohh iya, apa rencana kita hari ini." Marsha meletakkan tas mahalnya di atas meja seperti yang lainnya.
"Kita akan bermain golf hari ini, bagaimana Jeng. Apa kau ikut?"
"Golf ya, aku belum pernah memainkannya. Sepertinya aku tidak bisa," ujar Marsha.
"Kalau soal itu tidak masalah karena di sana ada pelatihnya nanti. Jeng Marsha pasti akan betah."
"Benarkah? Kalau begitu aku ikut."
Teman-teman Marsha saling lirik, sepertinya mereka mempunyai rencana terselubung yang tidak diketahui Marsha. Apakah itu?