Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
18. Gagal Lagi Mau ....


Melihat pria itu semakin mendekat tentu saja alarm kewaspadaan Alesya segera menyala. Dia segera mendorong pria yang merupakan suaminya itu agar melepaskannya. Dia tidak mau seperti tempo hari dimana pria itu seenaknya mencuri bibirnya lagi.


"Tu—tuan, tolong lepaskan saya." Alesya menghindar dengan menundukkan wajahnya.


"Sudah aku bilang jangan memanggilku Tuan." Axel tidak suka.


"Tapi di sini hanya ada kita berdua jadi tidak perlu berpura-pura bukan?" Alesya mendebat.


"Aku ingin kamu memanggil namaku walaupun kita hanya berdua. Apa kau lupa jika aku adalah pihak pertama yang harus selalu kamu patuhi perintahnya," ujar Axel berbisik namun penuh penekanan.


Tiupan napas pria itu membuat tubuh Alesya merinding seketika. Reflek dengan keras dia mendorong tubuh pria itu agar menjauh. Wajahnya memerah, dia sungguh malu. Bagaimana mungkin dia tersipu karena pria itu, pria yang seenaknya membuat dia seperti seekor burung dalam sangkar yang tidak bisa kemana-mana.


"Baiklah, saya akan menuruti perintah Anda tapi tolong jangan terlalu dekat. Saya benar-benar tidak menyukai bau alkohol." Menutup hidungnya.


"Ck, baru berdekatan seperti itu kau sudah takut. Lalu bagaimana kamu mau menyerahkan diri padaku. Apa aku harus memberimu obat tidur agar kau tidak takut." Axel masuk ke dalam kamar meninggalkan Alesya yang terdiam. Dia lupa kalau memang tujuannya adalah untuk menyerahkan diri pada laki-laki yang sudah membayarkan biaya rumah sakit ibunya. Bahkan memberinya uang lebih.


Pria itu langsung merebahkan diri di kasur yang ada di kamar itu tanpa berganti pakaian, bahkan sepatunya masih ia pakai.


Saat Alesya masuk dan melihat pria itu sungguh tidak habis pikir. Pria itu bisa memejamkan mata bahkan masih menggunakan pakaian kerjanya.


"Tu—, Axel, apa Anda tidur?" tanya Alesya. Dia melihat mata pria itu sudah tertutup.


Setelah beberapa saat tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu. Sepertinya dia benar-benar tertidur. Alesya mendengus kesal, pria itu seenaknya tidur di kasurnya. Ya, walaupun ini rumahnya yang berarti dia bisa tidur di mana saja tapi tetap saja kamar itu kan sudah dipakai Alesya. Seharusnya pria itu tidur di kamarnya sendiri.


"Hai Tuan, bangunlah! Tidurlah di kamar Anda sendiri, jangan di sini!!" Alesya menggoyang kaki pria itu agar terbangun tapi tetap saja tidak ada pergerakan dari pria itu.


"Ishhh kenapa juga harus tidur di sini. Kalau begini aku harus tidur di mana?" Alesya kesal sendiri. Dia kemudian berjalan untuk mengambil bantal dan selimut untuk dia tidur di sofa.


"Kenapa juga aku harus kasihan! Biar saja dia tidur dengan seperti itu. Siapa suruh mabuk sampai seperti orang pingsan." Menggerutu sendiri, lalu membawa bantal dan selimut ke sofa.


Alesya merebahkan diri di atas sofa, untunglah Sofanya cukup luas dan nyaman jadi dia tidak terlalu tersiksa. Dia coba memejamkan mata tapi pikiran akan pria itu yang masih menggunakan pakaian lengkap tetap saja mengganggunya. Dia sudah mencoba memunggungi pria itu tapi tetap saja tidak bisa tidur.


"Aaa!!! Menyebalkan!!" kesal Alesya dengan mengacak rambutnya.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Alesya baru saja selesai melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Ya, dia menganggap itu sebagian dari tugasnya yang ada di dalam kontrak. Tidak lebih. Dia sudah membersihkan pria itu dengan menyeka tubuhnya dengan kain dan mengganti pakaiannya. Meski awalnya dia amat kesusahan karena baru pertama kalinya dia menyentuh tubuh seorang pria tapi tidak ada pilihan lain. Semula dia ingin meminta bantuan pelayan tapi akan aneh, padahal dia sendiri istrinya.


"Hah ... akhirnya selesai juga," ucap Alesya sambil menyeka keringat. Dia sampai berkeringat padahal AC di ruangan itu menyala. Padahal dia sudah memejamkan mata tadi tapi tetap saja berkeringat.


Dia memandang pria itu dengan kesal karena sudah menyusahkan dan membuat dia repot. Rasanya tenaganya sudah terkuras habis, dia ingin segera merebahkan diri dan masuk ke dalam mimpi.


"Awas kau menyusahkanku lagi!" Alesya mencakar udara di depan wajah pria itu. Untung saja wajahnya tampan, kalau tidak sudah Alesya lempar keluar dari pada susah-susah mengurusnya. "Ups!! lebih baik aku tidur dari pada memikirkan hal yang tidak-tidak."


Alesya sudah bersiap tidur. Kalau dipikir-pikir, sia-sia dia berdandan dari sore kalau ujung-ujungnya hanya melakukan hal seperti itu saja. Akan tetapi, itu jauh lebih baik karena jika lelaki itu memintanya malam ini mungkin memang Alesya belum siap. Benar jika dia takut, padahal waktu itu sudah bertekad untuk melelang tubuhnya. Benar kata laki-laki itu, nyali Alesya tidak sebesar itu. Mungkin jika yang membelinya bukan Axel, Alesya pasti sudah hancur berkeping-keping, bahkan mungkin trauma.


Di tengah malam, rupanya pria itu terbangun. Dia merasakan kepalanya sedikit berdenyut. "Ssstt ...." Axel membuka mata, rasanya sangat haus dan dia mencari minum di atas nakas. Setelah menghabiskan segelas air, dia baru menyadari kalau dia tidak berada dalam kamarnya.


"Kenapa aku bisa tidur di sini," gumamnya. Dia melihat seseorang tertidur di atas sofa dan dia adalah Alesya.


Axel tersenyum saat menyadari pakaiannya yang sudah berganti, tubuhnya juga sudah tidak lengket karena keringat. Sepertinya seseorang sudah mengganti pakaian dan membantunya membersihkan badan.


"Kamu cukup peka juga, seharusnya aku memberimu apresiasi bukan." Menyeringai melihat mangsanya.