Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
10. Mencari Keberadaan Alesya


Baner apa yang dipikirkan Alesya. Jika temannya saat ini begitu mengkhawatirkannya. Misel sangat panik pada malam itu karena tiba-tiba saja temannya menghilang tanpa sepengetahuannya. Perempuan itu pikir temannya telah diculik, dia pun melaporkannya pada polisi setempat tapi karena Alesya sudah bukan anak di bawah umur maka kepolisian tidak bisa menyimpulkan kalau itu penculikan sebelum 2x24 jam menghilang.


"Pak tolong carikan teman saya pak! Saya yakin kalau saat ini teman saya itu telah diculik seseorang." Misel memohon.


"Maaf Nona, silahkan datang lagi setelah 2x24jam. Mengingat usia teman anda maka belum bisa dipastikan teman anda itu adalah korban penculikan atau pergi atas kemauannya sendiri," ujar pak polisi.


"Tapi pak--"


"Sudah cukup Nona, sebaiknya anda mencari ke tempat yang biasa ia datangi lebih dulu sambil menunggu. Siapa tau teman anda ada di sana. Tolong jangan membuat keributan di sini." Itu peringatan, polisi itu sudah biasa menghadapi kasus seperti itu. Biasanya memang banyak laki-laki atau perempuan seusia Alesya itu kabur dari rumah. Itu sudah umum terjadi. Mereka akan pulang sendiri saat uang mereka habis atau sudah bosan.


Misel tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia juga tidak punya bukti yang memperkuat dugaannya kalau temannya telah diculik. Dia sudah mencoba menghubungi nomor ponsel Alesya tapi ternyata ponsel temannya itu ada padanya. Dia lupa kalau sebelum Alesya naik ke atas panggung, Alesya menitipkan barang-barangnya pada Mishel.


Perempuan dengan rambut bergelombang itu tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi. Dia sudah bertanya pada pemilik tempat pelelangan itu, hasilnya nihil. Katanya tadi ada keributan dan temannya telah menghilang bersama pria yang membelinya. Misel pun bertanya siapa yang telah membeli kesucian temannya tapi dia tidak mendapatkan jawaban yang berarti. Mereka hanya mengingatkan kalau laki-laki itu bukan laki-laki biasa. Mishel sama sekali tidak bisa mendapatkan identitas orang itu karena dalam dunia gelap itu memang mereka menggunakan identitas palsu.


"Kemana lagi aku harus mencarimu, Alesya. Apa aku bertanya apa pamanmu saja tapi dia juga tidak mungkin tau dan tidak mau tau tentang keadaanmu. Huhhh ...."


Mishel coba berpikir, kira-kira di mana dia mungkin bisa menemukan temannya.


"Rumah sakit! Ya benar, Alesya pasti menemui ibunya di rumah sakit kan. Kenapa aku tidak kepikiran hal itu, aku akan ke sana sekarang."


Mishel menelepon taksi, beberapa menit kemudian taksi datang dan dia pergi ke rumah sakit. Dia sangat yakin kalau temannya pasti akan kembali melihat sang ibunda di rumah sakit.


Namun, sesampainya di rumah sakit. Apa yang Mishel harapkan tidak terjadi. Dia malahan tidak mendapati ibu temannya di kamar rawatnya. Tentu saja dia panik, di ruangan itu benar-benar kosong tidak tersisa apapun dan tampaknya juga sudah dibersihkan oleh pihak rumah sakit. Tidak mungkin temannya telah memindahkan ibunya ke ruangan lain kan, sedangkan biayanya saja belum ada. Lalu pergi kemana? Apa mungkin pihak rumah sakit mengusir ibu temannya.


"Aku harus mencari tau." Mishel segera berlari ke bagaimana administrasi dengan cepat. Dia tidak membayangkan kalau sampai rumah sakit mengusir ibu temannya pergi dengan kondisi yang seperti itu.


Beberapa kali dia sampai menabrak pengunjung lainnya. "Maaf, maaf, saya sedang tergesa-gesa," ucapnya setiap kali dia tak sengaja menabrak seseorang.


"Pakai mata donk!"


"Dasar gadis jaman sekarang tidak tau sopan santun!"


Mishel tidak peduli dia hanya ingin tau apa yang terjadi dengan ibu temannya.


"Hah hah ... suster tolong beri tau saya di mana pasien yang ada di kamar 106 atas nama Rosaline," tanya Mishel dengan nafas yang masih berkejaran karena lari-lari. "Cepat sus!" serunya lagi karena melihat suster itu tercengang melihatnya yang terengah-engah.


"Ah ya, tunggu sebentar." Suster itu mencari data pasien yang dimaksud di dalam catatannya.


"Apa sus? Jadi Tante Rosaline sedang dioperasi sekarang? Bagaimana dengan biaya administrasinya? Apa sudah ada yang melunasinya?" tanya Mishel dengan wajah terkejut tapi dia menebak pasti Alesya sudah datang ke sana sebelum dia datang dan mengurus semuanya.


"Sudah Nona, semuanya sudah lunas."


Mishel ikut lega mendengarnya, akhirnya Tante Rosaline bisa menjalani operasi juga.


"Apa yang membayarnya putri dari pasien itu susu? Seorang gadis bermata coklat, rambutnya panjang, tingginya sedikit lebih tinggi dari saya, dia sangat cantik." Mishel menyebutkan ciri-ciri Alesya.


"Bukan Nona, yang membayar administrasinya seorang laki-laki," jawab susternya.


"Laki-laki? Apa anda yakin sus, bukan seorang gadis seperti yang aku sebutkan tadi?" tanya Mishel tidak percaya.


"Iya, saya sangat yakin. Teman saya juga melihatnya."


"Iya nona, yang datang kemari adalah seorang laki-laki dan dia terlihat tampan," ujar rekan sang suster sambil tersenyum malu-malu.


"Ahh iya, kalau begitu terimakasih Sus." Mishel harus mencari tau, siapa laki-laki itu. Dia menuju ke ruangan operasi di mana Tante Rosaline sedang ada di sana.


Sesampainya di depan ruangan operasi ada dua pria bertubuh besar berjaga di depan pintu. Mishel bertanya-tanya apa betul yang di dalam sana adalah wanita Tante Rosaline atau ada orang penting lain yang sampai dijaga seperti itu. Dia berhenti di sana, melihat kedua orang yang berwajah datar dan menatap lurus ke depan. Bahkan saat Mishel berada di depan mereka saja sama sekali tidak membuat bola mata mereka bergerak.


"Mmmm maaf Tuan, apa benar yang ada di dalam adalah pasien bernama Rosaline?" tanya Manda dengan hati-hati. Bagaimanapun dia juga takut melihat otot-otot tubuh mereka yang besar.


"Ya," jawab laki-laki itu.


Mishel menggaruk tengkuk mendapatkan jawaban sesingkat itu. Matanya kemudian mengitari depan ruang operasi itu untuk mencari temannya tapi tidak ada siapapun di bangku tunggu selain dua pria yang berdiri di depan ruangan itu. Lalu pertanyaannya, di mana Alesya? Kenapa saat ibunya menjalani operasi, dia justru tidak ada.


"Tuan, apa kau melihat temanku? Dia putri dari pasien yang ada di dalam dan siapa kalian, kenapa menunggu di sini?" tanya Mishel. Dia tidak tau harus bertanya pada siapa lagi.


Pria itu tidak menjawab, dia merasa tidak perlu menjawab apa yang ditanyakan Mishel. Dia hanya bertugas untuk menjaga.


"Tuan! Kenapa anda diam saja," kesal Mishel karena tidak mendapatkan jawaban. Dia pun beralih pada pria yang satunya tapi dia tetap tidak mendapatkan jawaban. Mereka seperti patung manekin.


"Isshh kalian! Tidak bisakah kalian membuka mulut, apa kalian tidak tau kalau saya sangat mengkhawatirkan temanku sekarang. Alesya, di mana kamu. Lalu siapa orang-orang ini." Begitu banyak pertanyaan yang ada di pikiran Mishel.