
"Nona, kita sudah sampai," kata asisten Ken. Dia menghentikan mobil yang ia kendarai di depan masion milik tuannya. Dia mengantarkan Alesya tanpa lecet sedikitpun.
Alesya melihat rumah besar itu. Sungguh bangunan rumah yang sangat besar dan mewah, lebih mewah dari rumahnya sebelumnya yang saat ini ditinggali oleh keluarga pamannya. Jelas kalau pria itu begitu kaya raya. Pantas saja dia berani memberikan uang sebanyak itu untuk Alesya. Ah iya, uang sebanyak itu pasti tidak berarti apa-apa untuk pria kaya sepertinya.
"Apa ini rumah Tuan anda, asisten Ken?" tanya Alesya.
"Namanya Tuan Axel, Nona. Iya, ini rumah yang beliau tempati," ujar Ken mengingatkan nama tuannya.
Huh, Alesya bahkan tidak ingin mengingat nama itu. Kalau ini rumahnya, apa berarti ada orangtuanya juga di rumah itu. Bagaimana nanti saat Alesya bertemu dengan orangtua pria itu. Apa yang harus ia lakukan dan katakan jika mereka bertanya.
"Tenang saja Nona, Tuan di sini tinggal sendirian hanya dengan beberapa pelayan. Kedua orangtua Tuan Axel tinggal di masion utama bersama nenek dari Tuan." Ken seakan tau apa yang dikhawatirkan Alesya.
"Ohh, syukurlah. Aku tidak tau harus bagaimana kalau bertemu mereka sekarang."
Ken membukakan pintu untuk Alesya. Gadis cantik itu turun dari mobil, matanya melihat rumah yang bagai istana itu. Tapi sekarang baginya, tempat itu bagaikan sebuah sangkar yang akan mengurungnya dari dunia liar.
"Selamat datang di rumah ini Nona, perkenalkan saya Bela. Saya adalah kepala pelayan di rumah ini." Seseorang datang menyambut kedatangan Alesya di masion itu. Seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan ibunya. Dia menggunakan seragam khusus dan sikapnya sangat sopan dan berwibawa.
Alesya termenung melihat wanita kepala pelayan itu. Sebenarnya selama ini dia tidak terlalu dekat dengan para pelayan di rumahnya. Dia juga tidak mudah beradaptasi dengan orang asing tapi ibunya selalu mengajarkan untuk bersikap sopan pada orang lain.
"Hallo kepala pelayan, mohon bantuannya untuk kedepannya," ujar Alesya sambil membungkukkan tubuhnya.
Wanita bernama Bella itu tentu saja begitu terkejut melihat gadis itu memberi hormat padanya. "Jangan sungkan Nona, katakan saja pada saya jika anda membutuhkan sesuatu. Dan anda bisa memanggil saya Bella," ujar Bella.
Alesya tersenyum tulus, sepertinya dia memang harus menjalin hubungan yang baik dengan penghuni rumah itu selain pria itu. Setidaknya dia tidak akan kesepian saat berada di penjara yang indah itu.
"Silahkan, Nona." Ken mempersilahkan Alesya untuk masuk ke dalam rumah.
Bella menuntut Alesya memasuki rumah. Dia sudah dipesani oleh tuannya jika ada yang akan datang ke rumah itu dan dia harus melayaninya dengan baik.
"Kalau begitu saya permisi sekarang Nona. Anda tidak perlu khawatir, kalau anda butuh apapun bisa mengatakannya ada Bella," ujar asisten Ken. Dia harus kembali ke kantor.
"Tunggu asisten Ken, apa belum ada kabar apapun dari rumah sakit?" tanya Alesya.
"Belum ada Nona, operasinya pasti belum selesai. Anda pasti tidak mau kan kalau saya terus bertanya dan mereka akan terganggu. Itu bisa mengganggu konsentrasi dokternya," jelas asisten Ken.
"Baiklah, tapi tolong kalau ada kabar apapun segera beritahu saya," pinta Alesya. Sebenarnya dia sangat sedih karena tidak bisa menemani ibunya yang sedang berjuang hidup dan mati di dalam ruang operasi.
Ken membungkuk. "Saya permisi." Barulah dia pergi dari sana.
"Mari Nona, saya akan menunjukkan kamar Nona. Pasti anda lelah dan ingin beristirahat," ujar Bella.
"Ah iya, terimakasih Bella." Alesya pun mengikuti wanita itu menaiki tangga dan sampai di lantai dua. Wanita itu menunjukkan salah satu kamar yang akan Alesya tempati. Dia sudah menyiapkan kamarnya dengan baik.
"Ini kamar anda Nona, katakan saja jika tidak sesuai dengan selera anda. Saya akan mengubahnya."
Alesya memasuki kamar itu. Ternyata tidak hanya mewah dari luar dan bagian ruang tamunya saja. Kamarnya pun tidak kalah mewah. Dekorasinya bergaya Eropa dan kualitasnya tidak main-main. Dengan ranjang king size, jendela kaca yang lebar, sofa yang pastinya mahal. Lampu gantung dan lampu mejanya saja itu jelas bukan hanya lampu biasa.
"Bagaimana Nona? Apa anda menyukainya?" tanya Bella.
"Ini sangat indah dan rapi. Sangat nyaman untuk ditempati," komen Alesya. Kamar itu sangat mewah dan luas, lebih dari kamar yang ia pernah tempati dulu. Alesya melihat keluar jendela, ada balkon yang menghadap ke kolam renang di belakang rumah.
"Eh tunggu, Bella. Apa kau tau jam berapa biasanya laki-laki itu pulang ke sini?" tanya Alesya. Siapa sih nama laki-laki itu, dia tidak ingin mengingatnya kalau bisa.
"Apa maksud anda Tuan?" Bella menautkan alisnya.
"Ah iya, Tuanmu. Kapan dia akan pulang?"
"Tuan biasanya pulang sampai malam. Jika tidak ada pekerjaan yang menumpuk dia akan pulang sekitar jam 7 malam tapi jika banyak pekerjaan bisa saja sampai larut malam," terang Bella.
Alesya mengangguk paham, dulu ayahnya juga banyak menghabiskan waktunya di kantor dari pada di rumah.
"Apa ada lagi yang mau anda tanyakan?" ujar Bella.
"I--itu, apa saja yang harus aku lakukan nanti selama tinggal di sini. Aku mohon bantuan Bella untuk mengajariku." Sebenarnya dia malu, entah di mata para pelayan seperti apa dirinya saat ini. Tiba-tiba datang ke rumah itu dalam keadaan belum menikah. Dia juga tidak bisa menceritakan apa yang terjadi pada orang lain karena dalam surat perjanjian yang ia tanda tangani melarang pihak kedua mengatakan apapun mengenai perjanjian itu pada orang lain. Alesya tidak tau siapa saja yang mengetahui perjanjian itu.
"Anda adalah calon Nyonya di rumah ini jadi tugas anda hanya perlu melayani Tuan dan mendengarkan apa yang Tuan perintahkan," ujar Bella.
"Ohh, baiklah aku mengerti."
"Kalau begitu saya permisi dulu nona. Silahkan beristirahat." Bella benar-benar meninggalkan kamar itu.
Tersisa Alesya sendirian di kamar yang sangat luas itu. Dia lelah memikirkan semuanya, tapi yang paling ingin ia lakukan saat ini adalah menemani ibu. Alesya sangat tidak tenang sebelum mendapatkan kabar kalau operasi berhasil dioperasi. "Ibu ... maafkan aku tidak bisa menemani Ibu. Aku harap laki-laki itu berubah pikiran dan mengijinkan aku untuk menemui Ibu."
...
"Kau sudah mengantarkannya ke masionku?" tanya Axel.
"Sudah Tuan, sesuai perintah anda." Ken melapor.
"Lalu bagaimana dengan kondisi ibunya sekarang? Apa operasinya berhasil?" Axel menghentikan pekerjaannya, sepertinya dia serius ingin mengetahui perihal ibu dari Alesya.
"Barusan rumah sakit menelepon saya. Operasinya berjalan dengan lancar dan sekarang tinggal melihat bagaimana hasilnya. Mengingat sebelum dioperasi wanita itu koma, apa mungkin setelah operasi dia bisa terbangun. Hanya keajaiban yang bisa menyembuhkannya."
"Apa gadis itu tidak tau dengan penyakit ibunya itu?"
"Sepertinya nona sudah tau dari dokter tapi dia tetap saja memutuskan untuk mengoperasinya meski kemungkinan untuk bangun sangat kecil."
"Apa kau sudah memberitahunya?" tanya Axel lagi.
"Belum Tuan, saya menunggu perintah dari anda."
"Cepat hubungi dia dan bilang padanya kalau operasinya berhasil. Itu saja, tidak perlu mengatakan seperti yang kamu katakan padaku tadi."
"Baik Tuan, oh iya nona tadi meminta saya untuk menyampaikan sesuatu pada anda. Dia meminta anda untuk mengijinkannya menggunakan ponsel untuk menghubungi temannya. Sepertinya perempuan yang memaksa masuk ke dalam ruang rawat ibu nona Alesya adalah teman yang dimaksud." Ken menyampaikan pesan Alesya.
"Kalau begitu kau carikan ponselnya dan ijinkan perempuan itu untuk melihat pasien."
"Baik Tuan." Ken merasa lega karena tidak ada masalah yang berarti. Permintaan Alesya juga mudah, dia bisa dengan mudah mencarikan ponsel keluaran terbaru tentunya.