
Setelah akhirnya Tito membuka tas sekolah Cakil, akhirnya ia menemukan clue. Kalau Cakil adalah murid sekolah Menengah Kejuruan Teknik Mesin kelas 11.
Buku Paket LKs nya terkesan masih baru. Nyaris tak terlihat sudah dibuka apalagi diisi lembar pertanyaannya. Padahal ini hampir pertengahan semester ganjil.
Hhh...
Lagi-lagi Tito hanya menarik nafas. Ini bocah, beneran bikin sakit kepala. Gimana ya perasaan bokap nyokapnya yang tahu sifat, tabiat juga kelakuan anak satu-satunya ini. Hhh...
Padahal aku aja dulu yang anak baik jaman sekolah, cuma bilang bapak besok ambil raport aja, bapakku udah mendelik sangar. Akhirnya esok hari aku terpaksa nungguin ibu-ibu lain yang keluar gerbang sekolah, terus akting ngemis-ngemis minta tolong ambilin raportku dengan alasan bapakku sakit, ibuku sudah meninggal, ga ada yang bisa ambilin raportku ke wali kelas.
Mengingat masa lalu membuat Tito tersenyum. Senyum kegetiran pastinya, meski ada senyum lucu mengingat kekonyolannya jaman SMU.
Tito memasukkan kembali satu persatu buku paket LKS pelajaran sekolah Muhammad Azkiel Ardian kedalam tasnya.
Ia rebahkan tubuhnya keatas kasur busa yang lebih tebal dibanding kasur busa di kontrakan asalnya.
Fikirannya kembali menerawang. Mengingat semua orang yang pernah ia kenal. Ia memejamkan matanya. Memikirkan hari terakhir dirinya yang nyata.
Tak habis fikir ia pada apa yang Tuhan beri padanya saat ini. Pada kenyataan yang ada saat ini. Realita ataukah mimpi panjang yang tak nyata. Tito sungguh bingung pada semuanya.
Ia hanya mendengus agak kesal dalam kebingungannya. Seuntai doa tidur Tito lafadkan dalam hati. Berharap esok ia masih bisa menjalani hari dengan lebih baik lagi. Ia ingin kesekolah Cakil besok.
Apapun yang terjadi, Tito bukanlah pria pengecut dan pecundang. Meski hatinya boleh ciut dengan kenyataan yang ada, ia harus menerima lapang dada apa yang Tuhan beri padanya.
Termasuk kenyataan kalau ia kini hanyalah bocah umur 16 tahunan saja. Yang seorang pelajar. Dan pasti tugas utamanya adalah belajar. Guna mencapai cita-cita dan juga menunaikan tugas baktinya sebagai seorang anak, membahagiakan dan membanggakan kedua orangtuanya.
Walau kini orangtuanya bukan orangtua sebenarnya. Karena kini ia adalah Muhammad Azkiel Ardian.
.....
"Cak, Cak! Bangun woy!"
"Hah???" Tito terbangun dari tidurnya.
Seorang bocah tanggung berseragam sekolah putih abu-abu sedang duduk dihadapannya. Mengguncang-guncang tubuhnya hingga ia tersadar dari alam mimpinya.
"Waktunya eksekusi! Kuy!!!"
"Eksekusi??? Bentar, gue mandi dulu!"
Meski Tito tak kenal siapa bocah itu, tapi ia bersyukur, ada yang membangunkan tidurnya dan mengajaknya berangkat kesekolah bersama-sama.
Setidaknya ia tidak sendirian, clingak-clinguk mencari teman yang mengenal dirinya disekolahnya Cakil nanti.
"Yang laen udah nunggu di base camp!"
"Sip, oke!" Tito mengacungkan jempolnya. Sok Kenal Sok Dekat.
Ia hanya berpura-pura tahu padahal tidak tahu sama sekali. Dimana base campnya. Siapa saja membernya. Bahkan pemuda tanggung itupun ia tak tahu, siapa namanya.
"What??? Lu lagi akting jadi pak Tigor ya? Guru Matematika yang songong tingkat dewa itu? Hahaha... Anjrit, ban motornya khan gue kempesin itu kemaren, Cak! Kesel banget gue, masa' sensinya cuma ama gue. Bentar-bentar, ya Ridho, maju kedepan. isi soal nomor 3! Hadeeeuh... Gue lagi, gue lagi! Ga da nama laen apa yang dia inget, selaen nama gue!"
"Hahaha...mungkin dia penggemar Ridho Irama! Makanya nama lu terus yang terngiang-ngiange!"
"Kamvret emang tuh guru! Belom pernah masuk ke sinetron Indosiar, "Azab Guru Yang Selalu Nyuruh Murid Maju Kedepan Padahal Muridnya Ga Punya Persiapan"!"
"Hahaha... Lu yang kamvret! Lu punya cita-cita jadi Sutradara Sinetron apa Penulis Skenario Sinetron? Harusnya lu sekolah kejuruan Multimedia, disana ada mapel produktif-nya yang Tehnik Pengolahan Audio dan Video! Kalo lu punya cita-cita bikin sinetron!"
"Sotoy lu! Emang lu tau apa tentang sekolah multimedia, Sukirman!!!"
"Idih? Gue tau, Sukijan! Khan si Rasyid tamatan multimedia. Tapi kerjanya malahan jadi OB di klinik akupuntur bareng gue! Hadeeeuh, kejamnya dunia!!!"
"Hahaha...!!! Lu gila apa sarap, Cak? Pagi-pagi otak lu hilang entah kemana! Ngomongin pak Tigor, kenapa jadi si Rasyid! Rasyid mana, gue ga kenal. Dan lu sejak kapan kerja diklinik akupuntur. Kerja jadi tukang urut tante-tante, lu! Jadi Gig*lo!! Hahaha... hancuuuurrr si minah!!!"
"Eh, Ridho! Umur kamu baru 16 tahun koq tau gig*lo. Ga pantes ngomong gitu! Itu bahasa orang dewasa 20 tahun keatas, bro!"
Tito merinding mendengar perkataan Ridho yang enteng soal dunia gemerlap yang penuh aura negatif itu.
"Lha?! Bukannya elu yang sering nanyain tetangga gue yang jadi gig*lo dan sekarang udah beli rumah elite didaerah perumahan mewah karena jadi simpanan tante-tante yang haus kasih sayang?!"
"Astaghfirullahal'adziim...!!! Ridho!!!! Elu kalo ngomong suka asal!"
Padam wajah Tito seketika mendengar ucapan Ridho.
Hhh... Seketika hatinya terenyuh memikirkan betapa bobroknya manusia sekarang. Dan orang dengan mudahnya mencari harta demi dipandang manusia sekitar meski jalan yang ia tempuh adalah jalan kesesatan.
"Skip, jan jadi bocah bocor! Itu bukan urusan kita! Kuy, gas pol sekolah!"
Ridho masih cekikikan sambil geleng-geleng kepala. Entah apa yang ada difikirannya hingga bocah ingusan itu masih asyik dengan tawanya. Membuat Tito menarik tas ranselnya hingga tertarik kedepan mengikuti langkah Tito.
"Buuu...!! Aku berangkat sekolah dulu ya?" Pamit Tito setelah mencari ibu Cakil yang tengah sibuk didapur. Mencium punggung lengan ibunya segera. Pamit berangkat sekolah.
"Oh iya, gantengnya ibu! Ini, uang sakunya!" kata ibunda Cakil seraya menyodorkan selembar uang kertas lima puluh ribuan.
"Ga ada uang pas, bu?"
"Uang pas? Biasanya khan uang jajan Cakil segitu?"
"Ih, ini mah terlalu banyak, bu! Aku rasa 20 ribu cukup!" tukas Tito membuat ibunya bengong seketika.
"Ya udah, bawa dulu! Nanti kalo ada sisa, uangnya ditabung!" kata ibu membuat Tito tertegun.
Ia ingat masa SMU nya 8 tahun yang lalu. Hanya dikasih uang saku 5 ribu rupiah. Padahal waktu itu sekolahnya cukup jauh, dan harus 2 kali berganti buskota. Berangkat pagi sekali dan pulang kerumah menjelang maghrib. Dan uang 5 ribu itu harus bisa memenuhi kebutuhannya seharian itu. Hhh...
Berbeda dengan Cakil, yang uang sakunya 50 ribu setiap hari. Hadeeeeuh!!!!! Boleh teriak ngomong kasar ga? Hhhhh.... 🎶Kumenangiiiiiis.......🎶 (isi hati author)
-Bersambung-