SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
EPISODE AKHIR SAKUR SAKUNTALA


Tok tok tok


Tok tok tok


Tito terkesiap mendengar suara ketukan pintu.


Ternyata aku masih menjadi Bang Sakur Sakuntala! Gumamnya dalam hati.


"Den! Den Sakuntala! Den!"


Pukul dua dini hari.


"Mas...! Ada tamu sepertinya!" Sabrina mendongakkan wajahnya. Ia ikut terbangun karena suara ketukan yang cukup keras di pintu triplek rumah butut mereka.


"Iya! Biar aku yang buka pintu, Bu!" ujar Tito seraya bangkit. Ia menarik tangan istri Sakur Sakuntala yang hendak beranjak dari dipan beralaskan kasur tipis pembaringan mereka.


Tito membuka pintu yang hanya memakai selot besi tua.


"Pak...? Ada apa?"


"Tuan Besar meminta Saya membawa Aden Sekeluarga sekarang juga. Ikut Saya, Den!"


"Ada apa? Ada apa, Pak?"


"Nyonya Besar... Sudah tiada. Tuan..., sangat terpukul dan inginkan Aden kembali pulang!"


"Saya boleh bawa istri dan anak-anak serta?"


"Itu yang Tuan pinta! Tuan Besar, sudah mengerti sekali. Tuan hanya ingin Aden pulang ke rumah, membawa Nona Sabrina dan juga anak-anak!"


Tito menelan salivanya.


Ia bagaikan mimpi. Hidupnya kini akan kembali pada keadaan yang berlimpah harta.


Mami Sakur Sakuntala telah meninggal dunia. Tinggalkan Papinya kini seorang diri saja.


Ternyata, harta, tahta dan uang berlimpah, tak serta merta membuat Tuan Besar Romoadjie bahagia.


Ia hidup kesepian. Anak semata wayangnya pergi dari rumah sebelas tahun yang lalu ketika ia dan istrinya memberi pilihan tetap menikahi Sabrina yang hanya anak pembantu mereka atau hengkang pergi dari rumah.


Ternyata Sakur Sakuntala lebih memilih Sabrina dan meninggalkan kedua orang tuanya.


Romoadjie masih ingat, Sakur Sakuntala memilih hidup bersama perempuan pilihannya dan rela melepas semua fasilitas yang biasa didapatnya dari kedua orangtua kaya raya.


Kini Romoadjie akhirnya mengalah. Kekuatan cinta Sakur dan Sabrina sudah menguji keangkuhan dirinya.


Romoadjie akhirnya menerima keputusan sang Putra untuk tetap mempertahankan rumah tangga yang dibangun sebelas tahun dengan perempuan pujaan hati pilihannya.


Dan Sakur Sakuntala-lah pemenangnya.


Romoadjie kini memberikan kembali semua hak dan warisan putra semata wayangnya. Sakur Sakuntala kini adalah pewaris tunggal beberapa perusahaan manufactur miliknya.


Dia juga bahagia. Ternyata Sabrina benar-benar perempuan yang baik dan mencintai tulus putranya.


Kini Romoadjie pun menggantungkan hidup masa tuanya dengan tinggal bersama anak, menantu serta dua cucunya.


DING


DING


(MISI BERHASIL)


(SELAMAT. REKENING TABUNGAN HOST SEKARANG TOTAL BERJUMLAH RP. 21.100.000,00)


(HOST JUGA MEMILIKI ASET SEBUAH RUMAH DI MENTENG RAYA)


Woaaa... Yeeesss! Makasih banyak, Boss!


Tito seperti kembali tersedot ke dalam gorong-gorong labirin berwarna putih terang.


.............


Kukuruyuuuk...


Hari telah pagi. Tito mendengar suara kokok ayam jago yang teramat familiar suaranya di telinga.


Ayam jago Cang Imin, tetangga kostanku sekaligus pemilik kost!


Tito menyadari kalau dirinya kini berada di tubuhnya sendiri.


Tring.


Ponselnya menerima pesan masuk.


...Tito, maaf... Kau dan Rasyid libur saja dulu tiga hari. Rasyid sudah kujapri juga. Carilah pekerjaan lain. Sepertinya Aku harus meng-agun-kan klinik Chandra ke Bank untuk tambahan modal usahaku....


Hhh... Seperti yang sudah kuprediksi! Gumam Tito dalam hati.


...Iya, Boss...


Ia membalas chattan Koko Darto.


Kini Tito menekan tombol panggilan ke nomor Rasyid rekan kerjanya itu.


"Syid!..."


...[Iya. Aku juga dikasih tau Koko Darto tadi. Hhh... Seperti yang kuduga, To! Kita mesti cari kerjaan lain! Kemana ya?]...


Tito hanya berdecak. Pertanyaan Rasyid membuatnya ikut bingung.


"Hari ini kau ada rencana apa?" tanya Tito.


...[Tidur seharian. Malas keluar rumah. Mumpung kakakku sedang pulang ke kampung suaminya. Rumah sepi ga ada orang! Kamu sendiri, To?]...


...[Hm. Oke. Ya udah, aku cari sarapan dulu. Eh! Kalau kau ingin cari kerja, bilang-bilang ya? Siapa tau kita bisa kerja bareng lagi ditempat yang sama]...


"Iya. Semoga!"


Tito mengakhiri panggilan teleponnya dengan Rasyid. Ia bangun dan mengambil handuknya. Pergi ke kamar mandi yang letaknya ada di luar kostan.


Kamar mandi yang cuma satu dengan empat kostan kecil berjejer membuat antrian mandi menjadi rutinitas di pagi hari.


Seperti biasa, teriakan, hardikan dan makian sudah menjadi sarapan pagi bagi para penghuni kostan yang kesiangan dan terburu-buru mandi sebelum berangkat kerja.


"Saptooo!!! Woooi, lu mandi apa tidur siiih?! Ish, kebiasaan banget deh!" teriak Windu yang sudah jadi langganan mendapat giliran mandi paling belakangan. Dia selalu bangun paling siang diantara yang lain.


Tito mengintip keributan itu dari balik jendela kamar kostnya.


Untung hari ini aku libur, jadi agak santai dan bisa berleha-leha tak harus berebut kamar mandi seperti mereka.


Ia membuka pintu kostan, supaya ada udara masuk ke dalam kamarnya yang pengap dan gelap.


"Eh, To?! Lo koq masih di rumah? Ga kerja? Libur lagi, bukan? Eh, perasaan kasus Boss lo udah selesai khan?" tanya Putra penghuni kostan sebelah sambil menyeruput kopi susunya.


"Hhh... Gue Kena PHK kayaknya, Put!"


"Lha? Kata lo kemaren itu klinik mau dilanjut sama kakaknya boss elo?"


"Ga tau, ga jelas. Emang gitu Koko Darto itu. Hm... Ya mau gimana lagi!? Terpaksa cari lowongan kerja lain! Put, kalo ada lowongan di kantor lo, bilang gue ya? Cleaning service juga tak apa!"


"Hm... Malah lagi ricuh perusahaan tempat gue kerja, To! Kabarnya sih boss lagi oleng. Perusahaan terancam bangkrut, kena krisis global. Ga ngerti juga gue! Hhh..."


"Hhh... Dunia saat ini emang lagi kacau ya!?" gumam Tito dijawab anggukan Putra.


Tring


Ponselnya kembali mendapatkan pesan.


Dari Ayah.


To, kapan pulang? Udah sebulan lebih kamu tak pulang


^^^Tito mau pulang sekarang, Yah.^^^


Ia menjawab dan langsung merapikan kamar kostannya yang berantakan penuh sampah bekas makanan semalam.


Setelah kamar mandi sepi, Tito pergi mandi.


Ia bersiap pergi ke rumah orangtuanya dengan mengendarai motor Yamaha R15 barunya, hadiah dari SYSTEM BERGANTI SERATUS WAJAH.


Tito terkesiap melihat sebuah BPKB motor, serta sertifikat kepemilikan rumah di bilangan elit Ibukota.


Gila! Hidupku kini berubah cukup drastis juga karena SYSTEM ini. Seperti mimpi, tapi nyata. Tak dapat dipercaya, tapi ada. Tapi aku sangat bersyukur sekali. Setidaknya, aku tak perlu takut lagi akan masa depanku yang terlihat suram. Tabunganku juga sekarang agak lumayan. Dulu-dulu, mana pernah aku punya tabungan sampai belasan juta rupiah. Masih tersisa dua tiga ratus ribu saja itu sudah suatu anugerah bagiku. Alhamdulillah.


Tito kini percaya diri untuk mengunjungi Ayah serta Mama dan Adik-Adik tirinya. Secara, selama ini mereka lebih suka memandangnya sebelah mata. Menatap wajahnya seperti orang yang jijik.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Ayahnya menyambut kedatangan Tito dengan wajah sumringah.


Rangkulannya hangat, meskipun hanya tubuh kurus terbalut kulit kering saja.


Ayah makin kurus. Batin Tito.


"Ayah udah pensiun, To!" kata Ayah membuat Tito mengerti.


Keadaan Ayah tak sebaik dahulu. Yang selalu gagah dengan seragam coklat kebesarannya. Ayah keren, parlente dan penuh kharisma.


Kini semua berubah.


Mama Ida keluar dari rumah dengan senyuman sinisnya, seperti biasa.


"Kalo pulang tuh, coba bawa jinjingan. Minimal belanjaan buat makan siang. Ini mah, selalu tangan kosong!" ujarnya tentu saja menyindir langsung putra sambungnya.


Hhh... Mama Ida ternyata tidak berubah.


Tito mengambil dompet barunya. Lalu mengambil uang seratus ribuan tiga lembar dan menyodorkannya pada Ibu Tirinya.


"Ini? Segini? Cuma tiga ratus ribu nih?" tukasnya tapi sambil tetap diambilnya juga.


Ck. Ma... Sabar dulu lah, Ma! Uangku juga belum banyak dan tak boleh boros karena kini aku menyandang status pengangguran!


"Tito juga dipecat dari kerja, Yah!"


"Hm...! Kasus boss mu itu ternyata berimbas juga ya Tot!?"


"Kakaknya Boss mau agunkan klinik mendiang Boss Chandra. Jadilah kami mau di PHK!"


"Tapi kalo PHK biasanya ada uang pesangonnya, To!" timpal Mama Ida, masih mengikuti obrolan Tito dengan Ayahnya.


"Entahlah, Ma! Tito belum dapat kabar kepastian dari Koko Darto! Sekarang cuma diliburkan lagi dulu selama tiga hari!"


"Hm..."


Tanggapan yang sangat dingin.


"Adikmu Yoga tahun depan mau kuliah, To! Ayah mau minta bantuan kamu. Motormu untuk Yoga ya?"


Tito menelan ludah. Seperti prediksinya. Ayah pasti punya rencana lain sampai menchatnya menanyakan kapan kepulangannya ke rumah. Ternyata...


Hhh...


...-BERSAMBUNG-...