SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
TERJAWAB SUDAH


"Alhamdulillaah... Akhirnya kamu bangun juga, Cak!" suara lembut terdengar ditelinga kanan Tito ketika ia membuka matanya.


Tito mengedarkan pandangannya kesamping kanan, guna menegaskan pemilik suara lembut tadi.


Sosok wanita setengah baya berwajah ayu meski mungkin usianya sekitar 40 tahunan, duduk disamping ranjang rumah sakit.


Ru-rumah sakit???


Kenapa ia kini berada dirumah sakit? Apakah tadi ia pingsan lagi?


Tito kembali mengulang memori ingatannya.


DING


DING


DING


Otaknya seperti mendengar suara mesin faximili kantor ruang kerja Koko Chandra.


DING (Penyatuan System Dengan Tubuh Sedang Dalam Proses)


10 %


20 %


30 %


40 %


50 %


60 %


70 %


80 %


90 %


100 %


Tito menoleh ke wajah Ibu yang menatapnya penuh keharuan itu.


Bukan Ibu ini yang bicara!!! Lalu, siapa??? Suara perempuan lembut dan terdengar merdu dekat sekali dengan telingaku! Gumam Tito dengan kebingungan.


Siapa kamu??? Tanyanya dalam hati.


(AKU ADALAH SYSTEM YANG SEKARANG HOST SEDANG GUNAKAN)


"APA???" Tito sontak berteriak.


"Cak...!!!" Sang Ibu merengkuhnya cemas.


Berarti saat ini rohnya masih ada ditubuh bocah tanggung yang membuatnya geram pada tingkah lakunya setelah mendengar cerita Yadi, teman sepantarannya.


"Nti kita beli motor NMAX kalo bapakmu sudah kembali dari Tegal, ya?"


Tito segera menggelengkan kepalanya.


"Jangan mah! Jangan beli motor NMAX!"


???


"Sejak kapan ibu jadi mamah? Hehehe.... Iya cah lanang! Bapak Ibu pasti akan turuti semua keinginanmu! Tapi sabar, harga motor NMAX ga seperti harga matic biasa. Bapak juga ga bisa jual tanah dengan harga sembarangan! Rugi besar kalo jualnya asal-asalan, Cak! Harusnya tanah itu bapak jual buat wisudaan kamu kalo lulus kuliah nanti!"


Tito termangu mendengar penuturan ibundanya Cakil. Sangat miris!!!


Tito menatap wanita itu segera.


"Jangan jual tanah itu, bu! Tolong larang Bapak! Aku ikhlas ga dibelikan NMAX juga. Khan aku punya motor yang laen!"


Wanita itu membelalakkan matanya. Seolah tak percaya pada ucapan yang keluar dari mulut Tito.


"Cakil? Kamu... kamu beneran bilang begitu, Nak?"


Tito mengangguk lagi. Ia harus meluruskan kesemrawutan yang dibuat bocah pemilik tubuh ini.


Bagaimana tidak. Hendak 'bundir' demi sebuah NMAX, pura-pura kesurupan mengancam orangtua pakai clurit segala. Lalu sekarang masuk rumah sakit.


Hhh... Seumur-umur, memikirkannya saja tidak pernah Tito lakukan. Apalagi untuk berbuat senekad itu. Bikin sakit kepalanya saja.


Tito memijit pelipisnya.


"Sakit kepalanya ya?"


"Ga, bu! Ayo kita pulang kerumah. Biaya rumah sakit pasti mahal! Kasian bapak juga kalo dengar aku dirawat dirumah sakit! Yuk, bu!!! Tolong urus kepulanganku!"


Ibunya Cakil terlihat sumringah pada perubahan anak semata wayangnya itu.


"Iya, Nak! Ayo kita pulang!"


Tito ingin pemilik tubuh ini hidupnya lurus-lurus saja sepertinya. Tak usah banyak gaya apalagi banyak tingkah. Lagipula Cakil termasuk anak yang beruntung memiliki keluarga yang termasuk bahagia.


Tidak seperti dirinya. Yang bahkan hingga detik ini pun masih harus berjuang demi mewujudkan cita-cita dan angan-angan. Bahkan bila mungkin, ia juga ingin mendapatkan cinta sejatinya. Jika Allah sudah menentukan waktunya.


Sejam lebih lamanya Tito menunggu ibunya Cakil yang harus wara-wiri keruang administrasi rumah sakit. Mengurus proses pulangnya ia dari sana. Untuk kembali kerumah mereka.


"Hapemu, Nak! Sudah Ibu carger sampe full!"


Sungguh ibu yang baik dan sangat pengertian.


Membuat Tito menyunggingkan senyumannya pada Ibu Cakil yang memberikannya sebuah handphone. Lebih tepatnya adalah handphone Apple iPhone 13 pro max .


???


Kamvret ni bocah!!! Beneran meres beud ortunya!


Tito menelan salivanya. Dia saja yang sudah berumur 25 tahun mau 26 dan sudah mandiri sejak tamat SMU hanya memiliki hape merk OPPO saja. Itupun masih awet ia pakai dari 2 tahun lalu. Malahan kadang sering nge-hank ketika mabar ML bareng teman-teman onlinenya.


Hiks... Tuhaaan!!!


Ingin rasanya Tito berteriak kasar tapi tak jadi karena ibunya Cakil yang ada disampingnya. Menunggu pesanan Grab Car yang tadi dipesannya.


Dimasukkannya hapenya kedalam saku celana trainingnya yang dalam. Takut juga ia jika benda kecil tapi berharga itu raib atau hilang dari kepemilikannya.


"Itu deh, grab car pesanan kita! Yok, naeknya pelan-pelan kalo masih pusing!"


Tito senang tapi sedih mendengar kata-kata ibunya Cakil. Senang karena perhatian wanita yang begitu sayang dan mengasihinya tapi juga sedih mengingat wanita itu bukanlah ibu kandung ataupun ibu tiri sebenarnya.


Ia hanyalah roh yang mendiami jasad pemuda tanggung bernama Muhammad Azkiel Ardian. Yang masih berusia mungkin sekitar 16 tahunan. Yang ia sendiri belum tahu kelas berapa maupun sekolah dimana, karena keburu pingsan kemarin ketika hendak berangkat bersama Yadi dan Lastri.


"Bu! Yadi sama Lastri udah tau belum, kalo aku pulang hari ini?"


"Oh iya... maaf ya! Ibu ga kasih kabar mereka! Maaf ya!!!"


"Lah? Kenapa ibu minta maaf sama aku? Aku cuma tanya aja, Bu! Maafin aku ya, kalo selama ini selalu nyusahin bapak ibu!"


"Oalaaa, gantengnya ibu! Kamu koq bikin ibu mrembes mili ini!! Gusti Illahi Robbiii... Makasih banyak ya Allaaah...!!!"


Ibunya Cakil memeluk erat tubuh Tito. Berlinangan airmata. Membuat Tito jadi tak enak hati melihat dan merasakan penderitaan bathinnya selama ini karena kelakuan anak emasnya itu. Mungkin.


Tito merangkul balik. Berusaha menenangkan wanita paruh baya itu sebisanya dengan mengelus-elus punggungnya.


Ia sesekali melirik kaca spion depan mobil grab yang disewa ibunya Cakil. Karena tak enak hati pada sang sopir yang sesekali menarik nafas meski bibirnya agak menyeringai menahan senyum.


Mungkin fikirnya, ini adalah drama keluarga.


Tito mengusap wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Mencari lagi kebenaran dalam hidupnya kini.


Berarti Allah masih menginginkannya mendiami jasad pemuda tanggung ini, fikir Tito dalam hati.


Buktinya, meski ia kembali pingsan tempo hari, ia masih tetap berasa di raga Muhammad Azkiel Ardian alias Cakil.


Itu pertanda Allah ingin ia tetap stay dan mengubah prilaku asli pemilik jasad ini. Wallahu...


Tito masih harus berjuang merubah karakter dan keseharian Cakil sepertinya. Hingga untuk sesaat ini ia harus bermain peran sebagai bocah tanggung yang menyebalkan awalnya menjadi bocah baik yang menyayangi orangtuanya juga teman-temannya.


Terlebih suatu anugerah bagi Cakil yang memiliki wajah tampan rupawan idaman setiap wanita impian setiap pria.


Karena dengan wajah tampan, sudah pasti banyak cewek mengantri menunggu panah cintanya dilepaskan dari busurnya.


Dan sudah jelas pula, jodohnya akan cepat ditemukan.


Hiks, jodoh! Mana mungkin aku yang kini hanyalah bocah 16 tahun bisa ketemu jodoh sekarang? Kalau di dunia nyataku sendiri, teman seangkatanku sudah banyak yang menikah. Bahkan adikku saja sudah punya anak pula! Hhh... Nasib! Batin Tito mengsedih.


Sungguh hidup yang aneh! Ganteng doang, tapi masih bocah ingusan!!!


Tito berharap dan memohon pada Yang Maha Kuasa, jika ia masih diberi kesempatan menjalani kehidupan didunia nyatanya, ia ingin sekali dipertemukan jodohnya yang mau menjadi pendamping hidupnya. Yang menerima apa adanya. Yang mensyukuri segala kekurangannya.


Tapi dimana jodohnya itu?


Akankah ia mendapatkan jodoh sedangkan saat ini rohnya bersarang ditubuh seorang bocah SMU.


Mungkinkah Tuhan mengabulkan doanya?


Tiada yang tahu.


DING (MISI PERTAMA TELAH DATANG)


Misi? Misi apa??? Lagi-lagi Tito termangu mendengar suara perempuan yang begitu jelas diotaknya itu.


(SYSTEM MEMBERI HOST TUGAS PERTAMA)


Tugas apa? Tito bertanya dalam hati.


(SELAMATKAN MANUSIA YANG SAAT INI RAGANYA SEDANG HOST GUNAKAN)


Hm? Caranya?


(SILAKAN HOST MENGERAHKAN KEMAMPUAN DIRI)


(MISI DIANGGAP BERHASIL JIKA HOST BISA BERPINDAH KE RAGA MANUSIA LAIN)


(HOST AKAN MENDAPATKAN HADIAH SEBESAR SEPULUH JUTA RUPIAH DALAM SETIAP MISI YANG BERHASIL DILAKSANAKAN)


Sebentar, sebentar! Apa aku tidak bisa kembali ke tubuhku dan hidup di dunia asliku?


(HOST PUNYA KESEMPATAN ITU JIKA MISI SYSTEM DIANGGAP BERHASIL MUTLAK)


Jadi, aku akan terus berpindah-pindah raga selama belum berhasil menjalankan misi dengan sempurna dan nilai mutlak?


(SYSTEM MENJAWAB : BISA IYA BISA TIDAK)


Ini system apa sih? Kenapa aku bisa menjadi seperti ini? Tito gemas, berbicara dengan fikirannya sendiri yang tak dimengerti.


(KARENA HOST ADALAH SALAH SATU ORANG YANG TERPILIH OLEH SYSTEM BERGANTI SERATUS WAJAH)


Apa??? System Berganti Seratus Wajah?


Pucat pasi seketika wajah Tito. Berganti Seratus Wajah. Itu bukan waktu yang sebentar. Seratus wajah? Dan ia harus menjadi bagian dari manusia-manusia yang dipinjam raganya untuk beberapa saat.


Hiks. (tuk tuk tuk) Diketuk dahi basahnya oleh keringat yang mengucur padahal mobil yang mereka sewa ber-AC.


-Bersambung-