SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
MASIH MENJADI 'CAKIL'


Malam ini Tito bersyukur karena merasa bisa tidur dengan nyenyak. Dalam kamar Cakil yang cukup rapi karena ibunya sudah merapikan dan mengganti sprei serta menambah beberapa ornamen hiasan dinding dengan figura-figura manis memajang foto masa kecil 'Cakil'.


Tito membuka handphone milik Cakil. Meski ia tak enak hati karena merasa tak sopan membuka hp milik orang lain, tapi apalah daya. Semuanya juga demi untuk mendapatkan informasi yang lebih lagi.


Banyak chattan dari beberapa teman Cakil. Terutama chat dari Lastri. Cewek yang disinyalir adalah pacarnya Muhammad Azkiel Ardian alias Cakil.


Tak lama ia membuka chat Lastri, tiba-tiba ponsel itu berdering membuat Tito terlonjak kaget. Lastri menelponnya via WA. Rupanya ia tengah 'online' juga hingga bisa melihat notice online di hape Cakil.


"Hallo, Assalamualaikum!"


"Cakiiil... Kangeeen!!!"


Suara cempreng dari seberang sana membuat Tito memicingkan matanya. Memekakkan telinganya.


"Iya, Lastri!?"


"Gimana sayang keadaannya hari ini?"


"Baik, Lastri!"


"Iya Lastri, baik Lastri! Koq jawabnya gitu doang siiih...!!?"


"Maaf! Abis aku mo ngomong apa. Bingung! Masih lemes, blom stabil kondisinya!"


"Oh. Ya udah, sayang istirahat dulu yaaa...! Udah minum obat belum? Jan banyak ngerokok sama minum, Yang!"


"Maksudnya minum apa?"


"Ciuu. Minggu lalu kata kamu dada kamu kek panas kebakar gegara kebanyakan minum ciu bareng anak-anak! Trus, itu si Nino juga katanya nyampurin minumannya pake 'obat kuning'. Jan minum itu lagi, Yang! Tar ga kuat, bisa pingsan!"


Tito termangu mendengar nasehat Lastri yang cukup bijak. Ia lagi-lagi terkaget-kaget dengan pergaulan 'supel'nya si Cakil pemilik tubuh ini.


Sudahlah f*ckboy dengan memeras kedua orangtuanya dengan akting minta motor baru, pergaulan miras dan juga narkoba ternyata sudah pula dirambahnya.


Hhh.!!! Astaghfirullahal'adziiim...


Tito hanya istighfar dalam hati.


Pergaulan anak jaman sekarang yang melenceng jauh sekali, membuatnya merasa oleng tak tahu lagi mana kanan mana kiri.


Padahal dulu ia juga pernah muda (sekarang pun sebenarnya masih muda). Tapi ia terlalu takut untuk ikutan kearah yang memang menggiurkan itu.


Mungkin karena pertemanannya yang sedikit. Atau banyak teman melihatnya sebelah mata. Hanya menilainya dari sisi kurangnya. Membuatnya justru 'terlindungi' dari hal-hal tak guna itu.


Selain ia juga tak tertarik untuk mengacaukan dirinya dan masa mudanya. Tito juga lebih berfikir realistis.


Ia berkelakuan baik saja, bapak dan mama tirinya selalu 'kurang suka' padanya. Apalagi jika ia berkelakuan menyimpang. Bisa tamat sudah riwayatnya.


Hhh...


"Cakil? Sayang? Halooo...? Lha koq ga da suaranya?"


"Iya, sayang! Makasih ya, sudah mengingatkan aku!"


"Iya dong! Aku khan pacar yang baik. Makanya selalu ingetin kamu!"


"Iya, makasih! Aku izin tutup telepon ya! Udah ngantuk, yang! Mau tidur!"


"Iiih.... baru juga berapa menit kita teleponan! Biasanya juga sampe jam 2 malam, kamu kuat layanin aku. Sampe aku ga boleh tidur, harus temenin kamu chat-tan!"


Aiiishhh...!!!


Tito menyapu wajahnya dengan sebelah tangan kanannya. Ia menghela nafas agak kesal.


Ternyata gini ya, pacaran itu. Hhh...!!! Harus mau dan menerima hidup kita diatur-atur. Dan alhasil, melakukan sesuatu yang unfaedah pun jadi terlakoni.


Hhhh.... Membuat tugas atau kerjaan lain yang seharusnya bisa dilakukan jadi terbengkalai demi menyenangkan hati sang pacar.


Anjiii*irrr!!! Ga kuat juga ya lama-lama, kalo hidup model begini! Gumam hati kecil Tito.


Tapi ia tidak ingin mengubah haluan. Ia masih harus 'mempelajari' si Cakil ini.


"Maaf, sayang! Aku beneran ngantuk! Sampe besok lagi ya...! Assalamualaikum!"


Wa'alaikum salam..."


Klik.


Terlihat kejam memang. Menutup telepon tak peduli Lastri yang mungkin berteriak kesal diseberang sana.


Tito kembali membaca chat demi chat para temannya Cakil. Berusaha mengorek keterangan diri Cakil lebih dalam lagi.


Lumayan luas pertemanannya. Meski Tito sedikit pusing dengan nama-nama yang 'Cakil' semat pada teman-temannya itu.


Ada yang diberi nama 'Setan', 'Raja Iblis', bahkan 'Kunti Cantik'. Juga ada 'Cucunya Dajjal'. Membuat Tito hanya nyengir kuda membaca chat-an dari para lelembut dialam lain itu.


Hanya nama Lastri yang ditulis benar oleh Cakil. Dengan embel-embel "Bebeb" tentunya.


Hadeeeuh!!!


Tito berusaha mencari nama "Yadi". Karena Yadi lah temannya seorang saat ini. Tapi nihil.


Eit!!! Tunggu,


SETAN SADAKO


Yadi Sadako. Itu pasti nomor hp si Yadi!!! Hhh... Tito hanya menghela nafas.


Hanya Yadi yang tidak pernah men-chat Cakil. ???


Apakah sebenarnya mereka itu bukan sahabat karib?


Tapi kenapa ketika Tito memasuki tubuh Cakil justru Yadi-lah yang berada disisi Cakil?


Saat ini ia hanya harus berusaha mengenali dirinya sendiri. Hingga ia tak terlihat bodoh dan tak bisa mengimbangi "Cakil" yang aslinya adalah seorang anak lelaki berumur 16 tahunan.


"Assalamualaikum... Yad, ini aku Cakil!"


"Cakil? Tumben lu nelpon gue! Kenapa?"


Lha? Ini bocil, songong beud ama gue!!! Gerutu hati kecil Tito.


"Besok sekolah samper gue ya?"


"Hadeeuh...! Gue ga bisa samper elu, Cak! Harus anterin adex-adex gue dulu ke sekolah. Abang gue pada ga bisa! Jadi gue masuk kelas juga keknya agak molor kesiangan."


Tito tertegun. Yadi banyak amat sodaranya!


"Sodara lu emang ada berapa sih, Yad? Emak lu doyan amat beranak!"


"Idih?? Amnesia lu udah pulih ya? Kata-kata lu kembali keasalnya! Dasar anying, lu! Kalo aja sahabat gue ga pacaran sama elu! Ogah juga gue kenal deket sama elu!"


"Berarti... selama ini, elu bukan temen gue ya? Elu temennya Lastri?"


"Hhh... Serah lu!"


Tut tut tut tut...


Yadi memutus obrolan.


Hadeeeuh!!! Bocah ingusan baperan! Tito hanya bisa garuk-garuk kepala.


Kali ini ia teringat pada akunnya sendiri dan juga dunia mayanya di game online. Membuatnya 'berselancar' membuka akunnya demi meluapkan rasa kangen pada teman-teman udaranya.


Eh??? Nah loh???


Tito mencoba lagi. Dan lagi.


Akunnya tak bisa dibuka. Akunnya 'tidak ada'!!!


Tito lalu mencoba mencari FB dan juga IGnya.


Eeeh??? Nihil juga???


....


Tak ada akun atas namanya. Kenapa?


Koq bisa begitu?


Ini masih ada dibelahan bumi yang sama. Ia dan Cakil berada dibumi ibukota yang sama.


Tapi kenapa nama Tito Sulistyo beneran ga ada?


Apa Allah sudah 'memblack-list' namanya karena sedang menjadi seorang "Cakil"?


Hingga untuk mengkepoi dirinya sendiri yang aslipun kini Tito tidak bisa?


Aaarrrggg!!!


DING (SUARA SYSTEM)


(SELAMAT, HOST MENDAPATKAN BONUS SENILAI SATU JUTA RUPIAH)


Hah?!? Uang? Terus, uangnya mana? Tanya hati Tito bingung.


(UANGNYA SUDAH MASUK REKENING ATAS NAMA HOST. SEMUA BISA HOST LIHAT NANTI KETIKA SUDAH KEMBALI KE TUBUH ASLI HOST)


Yassalam!


Tuk tuk tuk (Tito mengetuk dahinya kesal)


DING


(STATUS TERDETEKSI)


NAMA HOST : TITO SULISTYO


UMUR : 26 TAHUN


JENIS KELAMIN : LAKI-LAKI


KEKUATAN : 25 %


KESEHATAN : 60 %


KECEPATAN : 20 %


KEPINTARAN : 40 %


KETAMPANAN : 75 %


NOMINAL REKENING : RP. 2.000.000,00


ASET : NOL


KEMAMPUAN/SKILL : NOL


MISI : LANJUTAN


Tito hanya bisa termangu mendengarkan suara perempuan yang mengaku SYSTEM BERGANTI SERATUS WAJAH itu mengoceh tentang hal-hal yang tak ia fahami kecuali di dunia game.


Tito mengantuk. Ia lelah jiwa dan raga. Masih meraba-raba pada apa yang saat ini dialaminya.


-Bersambung-