
"Woooy... balik arah wooooy!!!"
Tito masih diatas sepeda motornya. Ia berhenti dipinggir jalan. Mematikan mesin motornya dan menarik tangan Ridho yang mulai beraksi memutar-mutarkan gesper berkepala gir-nya.
"Dho, balik Dho! Jan maen-maen sama nyawa, Dho! Inget orangtua lu dirumah, Dho! Antara kita yang mati, atau orang yang mati! Dua-duanya udah pasti pilihan yang justru merugikan diri kita sendiri. Plis Dhoooo!!! Dengerin gueeeee...!!!"
Craaak!!!
Suara apa itu?????
Apa itu yang kena tebas??????
........
"Cakiiiiiil!!!"
Suara teriakan teman-teman Cakil membuat Tito menoleh kebelakang.
"Eh? Koq??? Leher gue kenapa ini? Banyak darah ini!!!"
Tito hanya menatap satu persatu wajah teman-teman Cakil.
"Cakiiil!!! Cakil, jan mati luuu!!! Hik hik hiks.... Woy, setan!!! Bertahan bro!!! Woooy, cepetan bawa si Cakil woooy!!! Mundur, munduuuuur!!!"
Suara Ridho terdengar parau menahan isak tangis. Sedang Tito masih berdiri dengan gagah sambil memegangi tengkuk lehernya yang basah banjir darah.
"Khan gua kata juga apa, bro! Tawuran ga guna! Hanya mendapatkan celaka, sampe nyawa taruhannya!"
"Bawa si Cakil, Mad!!! Woy, mo kemana lu pada??? Heeei....!!!"
Suara sirene mobil polisi meraung memekakkan gendang telinga orang yang mendengarnya. Membuat semua orang yang terlibat tawuran, belingsatan lari tunggang langgang.
Tito masih dengan tangan kanannya memegangi leher belakangnya, dipapah Ridho yang berurai airmata.
"Tuh khan Dho! Sapat khan leher gue?!? Ini semua gegara tawuran Dho! Jangan lagi tawuran, Dho!!"
"Diem lu, mony*t! Jan banyak bacod!!! Lu harus kuat, Cak!!! Kita harus segera ke rumah sakit! Biar leher lu segera dijahit! Hik hik hiks..."
"Pikir sama elu, Dho! Gimana kalo lu mati, gimana keluarga lu, orangtua lu! Kalo orang yang mati juga, gimana keluarga lu, orangtua lu juga! Jangan lakuin tawuran lagi ya, Dho! Janji, lu harus sadarin teman-teman lu, untuk ga lagi tawuran. Ya?!?"
"Udah, diem! Kalo lu ngebacot mulu, darahnya bakalan lebih banyak keluar! Tar lu kehabisan darah, Bambang! Hik hik hiks....."
"Gue bukan Bambang, Ridho!!! Gue Tito. Tito Sulistyo! Panggil gue abang! Coz umur gue 25 tahun, 2 bulan lagi 26 tahun!"
"Iya! Terserah lu, Tukijan! Lu kudu bertahan!!! Woooy... bantuin napaaaa?!? Orang-orang pada buta apa? Ga liat nih orang sekarat?! Wooooooiiii...!!!!!"
Ridho menjerit meraung-raung menyaksikan tubuh Cakil (Tito) makin melemah dan jatuh terhempas kebawah trotoar jalanan ibukota.
Ia tak sanggup melihat darah segar yang terus muncrat dari tengkuk leher Cakil (Tito). Airmatanya pun terus meleleh.
Ridho masih mengguncang-guncang tubuh kawannya yang tengah mengalami pendarahan hebat akibat ditebas batang lehernya oleh samurai lawan.
"Dho! Jangan nangis, Dho! Muka lu jelek kalo nangis! Mending bantuin gue nyebut asma Allah! Gue rela mati asalkan kalean janji, ga ada tawuran lagi! Bilang sama yang laen ya! Ini amanat terakhir dari gue!"
"Dasar sarap! Jangan ngomong aneh-aneh, Cak! Hik hik hiks...huaaa...Caaak!!!"
"Laa ilaaha illallaah.... Muhammaddar Rosulullaah.....!!!!!!"
"Caaaaaaaaak!!! Cakiiiiil....."
Tito memejamkan matanya. Mengucap bismillah dan kalimat tauhid. Ini mungkin adalah kematian yang nyata baginya.
Namun Tito bersyukur melewatinya dengan hati yang damai dan bahagia.
Tiada lagi yang namanya tawuran dimuka bumi ini. Yang hanya menghasilkan tangis dan kekecewaan dari semua akibat pertikaian tawuran.
Seperti ditarik dalam lorong labirin yang berwarna putih, tubuh Tito bagaikan tersengat aliran listrik yang maha dahsyat.
"Ya Allah! Aku pasrahkan jiwa raga ini hanya pada-Mu saja!" Hanya kalimat itu yang mampu ia lontarkan didalam hatinya.
DING (HOST GAGAL)
Hah???
DING (MISI GAGAL. TIDAK MENDAPATKAN KESEMPATAN KEMBALI KE TUBUH ASAL)
Huaaa...!!! Gimana dong niii???
DING (SISA MISI SEMBILAN PULUH SEMBILAN WAJAH)
(AMBIL KESEMPATAN YA ATAU TIDAK)
Ya, ya iyain ajalah. Daripada gue ga bisa balik ke tubuh sendiri! Tito membatin kesal.
...........................................................
"Wendiiiiiiiiiii!!!!! Jangan, Wendiiiiiiiiiiiii!!!!! Turun, Naaaaak!!!! Jangan lompaaaaat!!!!!!"
Suara teriakan parau seorang wanita paruh baya dari bawah menyadarkan Tito.
Matanya membulat, melotot melihat pemandangan kearah bawah.
Hah????!?!
Eh??? Koq wanita itu mondar-mandir berteriak-teriak kearahnya sambil terus melambaikan kedua tangannya.
Tito tersadar. Ia ada diatas sebuah gedung.
Seperti gedung tua. Mungkin sekitar 4 atau 5 lantai kah?!?
Lho???
Sedang apa dia, ada berdiri dipinggiran puncak gedung???
Mau apa???
Ya Tuhaaan...!!! Apa lagi ini?!?
Tubuh manusia manalagi yang kini ia rasuki? Hhh...
DING
DING
(MISI : MENGGAGALKAN KEMATIAN BUNUH DIRI MANUSIA YANG SAAT INI HOST MASUKI RAGANYA)
Tugas berat!!!
(JIKA HOST BERHASIL MENYELAMATKANNYA, HADIAH SEBUAH SEPEDA MOTOR YAMAHA R15 MENJADI MILIK HOST)
Hah??? Tito meremang. Antara merinding tapi senang. Wadidaw banget hadiahnya.
Baik. Aku coba!
-Bersambung-