SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
KISAH SEDIH DI HARI MINGGU


Kisah sedih di hari Minggu


Yang slalu menyiksaku


Kutakut ini 'kan kubawa


Sampai mati


Hhh...


Tito menghela nafas panjangnya. Gelisah di hari Minggu yang seharusnya ceria, tapi seperti biasa, suram tanpa makna.


Motornya kini diberikan pada Yoga adiknya yang terlahir dari rahim Mama Ida.


Dengan kalimat-kalimat nasehat dan ceramah yang panjang, seperti biasa... Ayah serta Mama Tirinya Tito berhasil menguasai dirinya.


Padahal Tito sama sekali belum puas mengendarai motor barunya yang didapat dari misi SYSTEM BERGANTI SERATUS WAJAH. Motor yang keren dan sangat ia damba-damba. Hanya sekali Tito pakai, itupun untuk mengunjungi rumah Ayahnya dan dia pulang ke kostan dengan angkutan umum kembali.


Hhh... Miris.


Tapi mau bagaimana lagi.


Tito tak berani melawan kata-kata Ayahnya. Apalagi membangkang ucapan Mama Tirinya. Banyak faktor yang membuat Tito hanya bisa pasrah dan legowo dengan semua keinginan mereka.


Taufik Fernando adik kandungnya menelpon. Memarahi Tito yang tak pernah bisa melawan kehendak orangtua dengan alasan 'tak mau durhaka'.


Taufik kesal dan sebal. Ia mencak-mencak seraya memaki Tito untuk lebih pedulikan diri sendiri ketimbang mereka.


Ayah walaupun sudah pensiun tetapi memiliki penghasilan setiap bulannya. Jadi seharusnya mereka masih bisa bertahan walaupun Yoga akan masuk kuliah.


Setahu Taufik juga Tito, Ayah memiliki warisan lahan beberapa ribu meter. Pernah Ayah bilang, itu cukup untuk biaya ke-empat anaknya jika ingin melanjutkan kuliah. Tapi nyatanya, baik Tito maupun Taufik hanyalah tamatan SMU saja. Mereka tak dilanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dengan alasan terbentur biaya.


Sekarang keduanya malah mengumpulkan dua anak terdahulu, untuk dimintai bantuan tahun depan adik tiri mereka masuk kuliah.


Lalu kemana tanah atau uang dari lahan ribuan meter itu? Tito dan Taufik tak habis fikir.


Kini Tito hanya bisa terpekur sendirian di kamar kostan. Hari Minggu kelabu.


Hm. Aku lupa, aku punya rumah mewah di bilangan Menteng Raya! Dan itu adalah kawasan elit Ibukota. Juga tempat berkumpulnya para Sultan!


Tito mengambil dompet Dior yang berisikan kunci rumah mewah hadiah misi dari SYSTEM.


Ia ingin memastikan dan perlu pembuktian kalau-kalau rumah itu ternyata milik orang. Dia masih setengah percaya dengan kinerja SYSTEM yang tiba-tiba merasuk tubuh serta kinerja akal sehatnya. Semua masih seperti mimpi bagi Tito walaupun dia telah mendapatkan sebuah sepeda motor yang kini diminta Ayah untuk Yoga.


Ditelponnya Rasyid.


Tito mengajak temannya itu turut serta menyambangi rumah miliknya.


Tentu saja Tito tak berani berkata sejujurnya tentang kepemilikan rumah mewah itu. Hanya memberi penjelasan kalau itu adalah rumah tuan besar yang mempercayakannya pada Tito karena harus pindah ke negera Paman Sam.


Tito dan Raysid berdecak kagum.


Rumah dengan pengamanan super ekstra dan CCTV disetiap sudut ruangan kecuali ruang kamar.


Tito bagaikan bocah cilik yang berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat rumah megah tapi kosong melompong itu.


Oiya. System cuma bilang, hadiah rumah megah. Tidak bilang berikut isinya. Jadi ya... Beginilah. Kosong melompong tanpa satu barang pun.


"Syid! Mau tinggal di sini gak bersamaku?" tanya Tito membuat Rasyid termangu.


Sejujurnya ia tertarik. Tapi ia takut akan ada embel-embel lain karena penjelasan Tito tentang rumah ini menurutnya penuh teka-teki.


"Terus... Apa kita boleh tinggal dimarih?" Rasyid balik bertanya.


"Ya boleh lah!"


"Terus, yang ngurus rumah ini siapa? Kita? Apa ada pembantu lain? Terus, ini yang bayar PAM, listrik, Wifi, siapa? Jangan bilang kita yang harus bayar semua! Kau gila, jangan mau aja ditawari tinggal gratis tapi ujung-ujungnya bikin hidup makin miris! Aku ga mau! Apalagi kita ini calon pengangguran, To! Kemungkinan besar gaji kita bulan ini pun entah keluar entah tidak!"


Iya juga ya?! Aku harus tanya SYSTEM soal ini. Percuma punya rumah besar dan mewah, tapi tak sanggup bayar listrik, air, dan lain sebagainya.


Tito mengurut dahinya yang mulai pening.


"Iya ya. Aku tak berfikir sejauh itu!" ujar Tito.


"Coba kau tanya pada Boss Besar rumah ini dulu! Gimana aturan mainnya! Kau punya nomor pribadinya khan?"


Tito menggeleng.


"Yassalam! Janc*k kau, To! Ini urusan ilegal jadinya. Bisa-bisa kita disangka maling yang nyantroni rumah kosong orang kaya sama pihak RT RW setempat! Aku gak ikutan ah! Pamit pulang duluan, ya To!?"


"Syid, Rasyid! Tunggu dulu!"


Tito tak bisa mencegah Rasyid untuk pergi dari rumahnya. Biar bagaimana pun, Rasyid juga tak salah menuduhnya yang macam-macam dan takut bersinggungan dengan hukum.


Rasyid adalah orang bersih yang tak suka hal-hal gila. Itu sebabnya Tito nyaman dan klop berteman dengan pemuda yang umurnya lebih muda darinya itu.


Kini tinggallah Tito seorang diri.


Menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal karena bingung. Selain akses rumah yang masuk ke dalam kompleks, cukup menyulitkan Tito yang tak punya kendaraan untuk keluar masuk jalur umum jalan raya.


Hm... Gimana ini ya?


System, Boss System! Apakah aku bisa berdiskusi denganmu?


Tak ada jawaban.


Hening.


Tak ada respon dari SYSTEM BERGANTI SERATUS WAJAH yang biasanya langsung terdengar suara merdunya memberitahukan semua yang ingin Tito ketahui.


Mungkinkah SYSTEM sedang healing seperti tempo hari?


Tito ingin sekali merasakan tinggal di rumah mewah, meskipun rumah mewahnya itu kosong melompong belum ada perabotan rumah tangganya. Tetapi Tito akhirnya bersikukuh akan pindah minggu-minggu ini juga.


Tito punya uang di ATM tabungannya. Meskipun nominalnya tak bisa dia sebut banyak, tapi cukup juga untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari walaupun belum punya pekerjaan tetap.


Untuk kasur, ia masih bisa pakai yang akan dibawanya dari kostan. Lemari, Tito pikir bisa beli lemari plastik saja yang lebih simple dan mudah dibawa juga.


Tapi bayar listrik?...


Seketika Tito memperhatikan lampu-lampu kristal mewah yang menggantung di setiap flavon ruangan rumahnya.


Ini pasti sangat besar voltasenya. Kira-kira berapa watt tegangan listrik di rumah ini ya? Waduh?!? Bisa jutaan perbulan buat bayar tagihan listriknya! Benar kata si Rasyid!


Tito masih memikirkan lagi kepindahannya.


Namun Tito masih ingin berada di rumah megahnya sampai sore hari. Daripada di kostannya yang sumpek dan pengap, ia ingin disini lebih lama lagi.


Siang pun menjelang, dan perutnya mulai terasa lapar.


"Aku harus cari makanan dulu untuk mengisi perut yang keroncongan!" gumamnya seorang diri.


Tito berjalan keluar rumah. Mencari minimarket atau warung yang mungkin ada di sekitar perumahan elit.


"Ha, ada pangkalan ojek di ujung sana!" pekiknya dan mempercepat langkahnya.


"Bang ojek! Tolong antar ke Indo April ya?"


"Siap, Bang!"


Mereka meluncur menuju sebuah minimarket waralaba yang ternyata tak terlalu jauh letaknya dari rumah Tito. Hanya sekitar satu atau satu setengah kilometer saja.


Bruk.


Tito menabrak seorang perempuan berambut panjang dan ikal. Poninya nyaris menutupi kedua mata yang terlihat sipit.


"Maaf!" kata perempuan itu.


"Tidak apa-apa!" jawab Tito.


Tito kemudian melanjutkan tujuan awalnya. Belanja makanan dan jajanan.


Sebelum itu Tito melipir dulu ke sebuah kotak ATM yang tersedia. Ia mengambil uang senilai lima ratus ribu rupiah dari rekening tabungannya. Dan kembali berbelanja makanan juga minuman.


Di depan kasir, ternyata antrian ada empat orang.


Tito mendengar sedikit keributan dari antrian paling depan.


Rupanya gadis yang tadi menabraknya.


"Mbak, maaf! Uang saya kurang lima belas ribu rupiah! Kurangi saja belanjaannya, Mbak! Maaf!"


"Aduh, Mbak maaf, saya kasir baru. Saya juga belum tahu caranya meretur barang! Mohon maaf, aduh... Mana ini supervisornya ya?"


Antrian tambah panjang karena kasir dan gadis itu sama-sama panik. Sementara di minimarket itu orang yang jaga hanya dia sendirian. Tiga diantaranya ternyata sedang makan siang.


"Berapa kurangnya, Mbak?" tanya Tito maju ke depan meja kasir.


"Lima belas ribu rupiah, Mas!"


Tito menyodorkan uang dua puluh ribuan.


"Terima kasih! Mas tinggal dimana? Nanti saya ganti setelah pulang dan ambil uang di rumah!" ujar gadis itu lembut pada Tito.


"Tidak usah, tidak apa-apa!"


"Aih? Seriusan ini?"


"Iya!"


"Terima kasih!"


Tito hanya tersenyum sembari anggukan kepala.


Gadis itu kembali mengucapkan kata terima kasih setelah barang belanjaannya selesai dipacking Mbak Kasir.


"Terima kasih!"


"Sama-sama!"


Tito hanya melirik dan melihat selintas ke arah mana gadis sipit itu pergi.


Dilihat dari pakaiannya yang sederhana, gadis itu sepertinya hanyalah seorang asisten rumah tangga saja. Walaupun kulit dan wajahnya wajah menak, tetapi dari kaos, celana lagging dan sandal jepitnya yang murah, Tito sudah bisa menerka.


Tito kembali berjalan pulang setelah antriannya tiba dan barang belanjaannya telah masuk wadah belanja ramah lingkungan.


Sebelum memanggil ojek setempat, Tito tak lupa membeli sebungkus nasi Padang di sebelah minimarket.


"Abang pekerja baru di rumah ini ya?" tanya tukang ojek, kepo.


"Iya, Bang!"


"Oh!"


Tito tak ingin orang tahu identitas dirinya. Jadi ia lebih suka cari aman dengan mengiyakan saja pertanyaan orang yang tak dikenalnya.


Ketika Tito hendak menutup pagar besinya yang tinggi, tiba-tiba Tito melihat gadis yang tadi di minimarket Indo April.


Oh... Rupanya ia kerja disitu!


Rumah majikannya tepat berada di seberang rumah Tito.


Tito seakan berfikir jauh ke depan menatap gadis itu dari celah pintu gerbang pagar rumahnya.


Tiba-tiba,


"Latisha! Belikan aku tokiyaki di ujung jalan itu!"


Seorang gadis berpakaian modis membuat gadis sipit itu melonjak kaget.


Pasti itu anak majikannya! Gumam Tito dalam hati.


"Aku baru pulang dari Indo April, Ega! Masih capek karena jalan kaki. Kamu bisa pergi beli sendiri dengan sepeda motormu!"


Eh? Koq gitu, sama anak majikan???


"Mamaaa...! Si Upik Abu niiih, berani lawan akuuu!!!"


Plak.


Seorang wanita separuh baya tiba-tiba datang dan menampar gadis sipit itu.


"Dasar anak tak tahu diri!!! Disuruh adik sendiri malah membangkang seenak udelmu!"


Hah???


...-BERSAMBUNG-...