SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
INI KISAH UWING PART 1


Tito menjitak bocah-bocah yang mengerumuninya. Dia tertawa lepas. Hatinya bahagia. Sungguh diluar espektasinya. Betapa dunia anak-anak sangatlah luar biasa.


Tiada beban meskipun tekanan menerpa. Hanya sekelumit beban fikirannya saja. Tidak seperti orang dewasa. Yang sangat ruwet jalan hidupnya dengan semua cobaan dan himpitan tekanan kehidupan.


Mereka tertawa bersama. Merasakan betapa dunia indah meski banyak duka dan luka.


Seorang anak perempuan masuk sambil menangis. Dibelakangnya ada anak laki-laki lebih besar mungkin tiga atau empat tahun dari bocah perempuan itu. Mereka berdua terlihat sedih.


"Kenapa?" tanya seorang anak yang tadi mencandai Tito.


"Uang ngamen kita dipalak bang Sodam!" kata anak perempuan itu, membuat hati Tito terenyuh.


Ya Tuhan! Ternyata mereka adalah sekumpulan anak jalanan. Yang hidup menggelandang tak punya arah tujuan. Yang berusaha memperpanjang umur dengan berbagai cara dijalanan kerasnya ibukota.


Tito menitikkan airmatanya. Bukan karena ia lelaki cengeng. Tapi ia adalah pria dewasa berusia hampir 26 tahun. Yang selama ini bagaikan katak dalam tempurung. Meratapi nasibnya yang jomblo seumur hidup. Dan mengumpati kekurangannya pada Tuhannya.


Padahal diluaran sana, bejibun manusia-manusia lain yang dipenuhi dengan beban penderitaan yang teramat sangat.


Tito masih mengamati mereka, para bocah yang duduk bersila dilantai gedung yang kotor.


Tak mereka pedulikan lagi cuaca hujan besar diluaran sana. Jika mereka tengah berkumpul merapat seperti ini. Asik bercengkerama sambil bercanda, walau kadang saling pukul. Tapi mereka adalah wajah-wajah polos malaikat Tuhan didunia.


"Emang duitnya uda ada berapa?" tanya Tito pada dua bocah yang ternyata kakak beradik itu.


"Udah dapet 23 ribu. Terpaksa, aku ga buru-buru pulang! Harus cari lagi, buat beli beras emak kami."


" Memangnya bapak kamu kemana? Koq kalian ngamen cari duit buat beli beras emak?"


Bug!!!


Tito kaget juga nyeri ulu hatinya. Mendapati salah seorang bocah memukul dadanya.


"Sakit, tauuu!!!" gerutunya pada bocah itu. Ia berusaha menahan ucapannya. Tidak boleh berkata kasar pada bocah yang masih ingusan. Itu namanya mendidik yang tidak baik.


"Dasar b*go! Lu ngeledek itu namanya! Uda tau bapanya si Udin sama si Hana kabur kawin lagi sama janda bohay dari kampung Melayu! Elu malah ngeledekin mulu!"


"Ga ngeledek, khan cuma tanya. Karena gue ga tau!"


"Hadeeuh, dasar dodol! Sa ae lu, karung goni!"


"Ish, karung goni,... lu tuh karung semen!"


"Diem kantong kresek! Sesama kresek jan saling debat!"


"Ish, suara lo kayak senar gitar putus!"


"Heleh, lu katro, kayak suara lu bagus aja! Maen okulele nada kemana suara kemana, udah sok-sok'an berasa punya suara emas!"


"Ish, emang suara gue emas! Emak gue juga bilang gitu!"


"Iya, suara emas-emas!"


"Huaa hahaha, suara Mas Paijo! Hahaha..."


Mereka ribut seperti anak bebek. Saling bersuara mengeluarkan argumennya. Terdengar lucu dan menggelitik. Membuat Tito sangat terhibur percakapan mereka.


"Nama lu siapa?"


"Bengek lu ya, nanya nama melulu? Ish ish ish... akibat bunuh diri ga jadi, jadi gila nih si Uwing! Apa kepala lu kebanyakan digebukin mak tiri lu ya, Wing? Jadi beg* ga ketulungan!"


Tito menangkap percakapan itu.


Jadi namaku sekarang ini adalah Uwing. Hidup di jalanan karena punya emak tiri yang kejam. Seperti itu, rupanya! Gumam hati kecil Tito.


Sungguh dunia ini begitu kotornya. Banyak juga ternyata bocah-bocah yang korban KDRT akibat kesalahan kedua orangtuanya.


Padahal apa salah mereka. Mereka tidak minta dilahirkan dalam keadaan yang buruk. Dan itu juga bukan kesalahan mereka. Justru merekalah korban dari kejahatan dan ketidak dewasaan mereka para orangtua yang terlibat dalam percekcokan rumah tangga.


..............


"Wing, tuh emak lu udah nungguin!" bisik Udin membuat Tito langsung menoleh pada seorang perempuan bertubuh tinggi besar yang sedang menatap tajam padanya.


Hiks. System... Minta bantuan, dong! Kata hati kecil Tito.


DING


(ASSYIAP. HOST BUTUH ALAT BANTUAN, TINGGAL KEDIP MATA. ADA PERMEN KASAT MATA DI SETIAP SAKU KANTUNG CELANA HOST)


Oke. Mohon petunjuk keterangan kegunaannya!


(SAKU KANTONG CELANA BAGIAN KANAN, PERMEN KASAT MATA WARNA HITAM. KEGUNAANNYA UNTUK MEMBUAT HOST KEBAL DARI SEGALA PUKULAN. PERMEN WARNA PUTIH DI SAKU KANTONG BAGIAN KIRI ADALAH UNTUK MEMINDAHKAN RASA SAKIT KE LAWAN)


(SATU PERMEN SEHARGA RP. 500.000, 00)


Waduh? Ternyata... Ga gratis nih?


(TIDAK DIPERJUAL BEBAS DAN TIDAK DIGRATISKAN PULA. KENCING SAJA BAYAR ITU DI MALL, HOST)


Hiks. Ternyata system mata duitan juga. Ga mau rugi ya!?!


(MANA ADA ORANG MAU RUGI, HOST)


O_oke.


( LANJUT? IYA ATAU TIDAK)


(KHASIAT PERMEN DIMAKSIMALKAN : SEDANG DALAM PROSES)


10 %


20 %


30 %


40 %


50 %


60 %


70 %


80 %


90 %


100 %


(KHASIAT PERMEN DALAM KONDISI MAKSIMAL)


Tito merogoh kantong celananya. Dia memilih permen warna hitam. Tito khawatir Ibu Tiri Uwing akan memukulinya seperti cerita teman-temannya waktu di basecamp gedung tua tadi.


Hiks. Uang lima ratus ribuku raib!


Tito menaruh permen kasat mata berwarna hitam itu ke dalam mulutnya. Ajaib. Bahkan permen itu langsung larut menghilang di atas lidahnya tanpa terasa apapun. Kecuali...tubuhnya yang berasa kesemutan.


Plak.


Benar dugaannya. Tito langsung ditampar Ibu Tiri Uwing.


Eh? Beneran ga terasa sakit! Pipiku koq biasa aja malah!


Plak. Plak plak plak!


Bug bag bug!!!


Ibu tiri Uwing seperti orang yang kesurupan. Membabi-buta menampar serta memukuli bocah kurus kecil dan hitam yang kini dirasuki rohnya Tito.


"Dasar anak bangor! Pulang ke rumah baju kotor, muka kotor, sampe masa depan lu juga kotor!!!"


Ya Allah, bu! Jangan seperti itu lah, dalam berkata-kata. Setiap ucapan adalah doa. Dan Ibu itu adalah ibu sambungnya Uwing. Secara harfiah, harus mau merawat dan mengurusnya juga karena sudah jadi istri bapaknya si Uwing.


Tito bersyukur, telah memakan permen pil kasat mata yang dijual system. Jika tidak, sudah tamat riwayatnya kini.


"Mati aja lu sana! Batin gue ngurusin hidup lu yang ga jelas begini! Bapak lu juga udah pasrahin lu sama gue! Padahal buat jajan semblak sama es boba gue tiap hari aja dia ga mampu, malah nyerahin gue anak bangor model elu!"


Prak.


Tito terkaget-kaget. Sebuah pot kembang sedang, penuh pasir tanah dan tanaman bunga matahari nyaris menimpa tubuh mungilnya.


Dengan begitu teganya, Ibu tiri itu melemparnya ke arah Uwing (Tito)


Untung, untung! Selamet, selamet! Bathin Tito gemetar.


"Apaan sih? Berisik banget lo pada? Ada apaan? Dasar perempuan, bisanya nyerocos bae kerja lo! Uwing sini, lo!!!"


Tito makin terkejut mendapati hardikan dari seorang pria tinggi besar. Dengan badan bertelanjang dada penuh tato menyeramkan depan belakang.


Sontak Tito kembali merogoh saku kantong kirinya. Permen kasat mata warna putih kini ada di ujung dua jari telunjuk dan jempolnya.


Hap.


Lima ratus ribuku, melayang sia-sia! Huaa...


Plak!


"Aduh!!!"


Plak plak plak!!!


"Adaaauwww!!!"


Tito bersorak dalam hati. Hip hip huraaa! Hip hip huraaa... Hip hip huraaa! Selamat menikmati pukulan tanganmu sendiri! Hahaha...


"Kenapa sih, Bang? Lebay beud lu! Mukul si Uwing kenapa jadi lu yang teriak?"


Ibu tiri Uwing gemas melihat suami dajjalnya yang tampak aneh sendiri.


Kini dia kembali menarik tangan anak tirinya.


Plak! Desigh!


"Huaaa!!!"


Tamparan dan tonjokan mautnya justru dia sendiri yang rasakan.


Ck ck ck! Senjata makan tuan!


-Bersambung-