SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
KISAH FARHAN, ANAK SEKOLAHAN PART 2


Tito menuruti perkataan dokter.


Dirinya kini sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dan Tante Marni, Mamanya Syakila dengan setia menemaninya serta bahkan mengantarkan ke rumah besar Farhan yang sepi.


"Papa Farhan masih di Brau Kalimantan Timur. Sinyal juga susah. Jadi menitipkan Farhan sama Tante. Tidak apa-apa ya?"


Tito hanya mengangguk. Tak tahu harus berkata apa karena belum mendapatkan clue dari SYSTEM.


Kamar besarnya terasa sangat dingin dengan suhu AC yang maksimal sepertinya.


Gile! Kamar kostan gue cuma ada kipas angin kecil, tapi delapan ratus ribu biaya perbulan kostnya. Ini kalo dikost-in berapaan ini harga perbulannya!? Tito memicingkan matanya.


Dia melihat sebuah figura berwarna keemasan.


Terlihat gambar seorang anak laki-laki dan anak perempuan berpose hangat, berangkulan. Anak perempuan itu adalah Syakila.


Hm... Sepertinya aku sudah mulai mengetahui kegundahan hati Farhan soal niatan pernikahan Papa dan Mamanya Syakila.


Tito menghampiri meja belajarnya. Membuka-buka buku LKS pelajaran yang tergeletak di atasnya.


...FARHAN SETIAWAN...


...KELAS : 11 MIPA 1...


Wow, lumayan juga otaknya! Anak IPA rupanya!


Tito tertarik pada sebuah amplop warna biru muda yang terselip di pinggirannya.


Eh? Koq amplopnya dicoret-coret gini nama teruntuknya? Apa... Ini surat cinta buat Syakila?


Hai Sya!...


Jangan tertawa


Jangan juga ledekin aku, ya.


Coz I FALLING IN LOVE WITH YOU


FARHAN SETIAWAN


Yang selalu setia mencintaimu.


Hmm... Seperti yang kuduga. Anak ini jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Dia shock. Ternyata Papanya ingin menikahi Mama gadis pujaannya. Hhh... Cinta oh cinta. Dari dahulu, begitulah cinta. Deritanya tiada akhir. Ck!


Tito berdecak.


Ia terkejut, pintu kamarnya diketuk.


Pasti Tante Marni, Mamanya Syakila!


Tito membuka perlahan daun pintunya.


Ia menyembulkan kepalanya hingga terlihatlah wajah Tante Marni yang masih cantik jelita walau sudah matang usianya.


Pantas saja jika Papanya jatuh cinta.


"Makan, Yuk?" ajaknya lembut sekali.


Tito menelan ludah. Perutnya memang keroncongan sedari tadi pagi. Dan ini sudah menjelang siang.


Diayunkan langkahnya mengikuti wanita cantik itu sampai ke ruang makan.


Harum aroma masakan Tante Marni membuat nafsu makan Tito semakin tergugah.


"Tante masak apa?"


"Sop ayam sama goreng ikan mujaer. Kata Papa, itu makanan favorit Farhan! Iya khan?"


Tito menelan air liurnya. Ia mengangguk.


Tante Marni melayaninya dengan baik sekali. Sesekali bibir mungilnya tersenyum simpul.


"Maaf, ya... Kalau masakan Tante tidak seenak harapan Farhan!" ujarnya pelan.


"Tidak. Masakan Tante sangat enak!" puji Tito yang melahap makanan yang terhidang itu dengan suka cita.


"Syukurlah, kalo Farhan suka!"


Tito meneruskan makannya. Cucuk duri ikan mujaer besar, jadi dia tak perlu terlalu khawatir ketulangan. Rasanya juga tak kalah enak dari rasa ikan gurame yang mahal.


Marni sesekali melirik calon anak tirinya yang makan dengan lahap sekali. Ia tersenyum senang. Akhirnya Farhan bersedia juga makan masakannya.


Tak seperti dua hari yang lalu, pemuda yang seumuran dengan putri semata wayangnya itu dengan frontal membuang sayur dan lauk pauk yang dibawanya dengan rantang makanan dihadapan Hendra, Papanya Farhan.


Tentu saja kejadian itu langsung mendapat tindakan tegas dari Sang Papa. Hendra langsung menampar pipi Farhan. Ia memarahi Farhan di depan Marni karena bertingkah sangat tidak sopan.


Hendra tak percaya, anaknya berlaku sedemikian padahal sudah sangat mengenal janda satu anak itu karena putrinya Marni adalah sahabatnya sejak SMP.


Rumah mereka memang berdekatan. Hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Hingga mereka nyaris bisa bertemu setiap saat kapanpun itu.


Dulu sebelum Hendra menancapkan benih cinta di taman bunga hati Marni, Farhan sering main ke rumahnya untuk bertemu Syakila.


Mereka sering bermain dan belajar bersama karena satu kelas di SMP.


Itu sebabnya Marni maupun Hendra begitu percaya diri kalau putra-putri mereka yang sudah begitu dekatnya akan serta merta menerima keputusan mereka untuk membangun rumah tangga.


Ternyata... Perkiraan mereka salah besar.


Hanya Syakila putrinya saja yang setuju. Tidak dengan Farhan, putranya Hendra.


Hhh... Marni tahu, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa masuk ke kehidupan Hendra yang juga seorang duda satu anak.


Sementara Hendra, menduda sejak istrinya meminta cerai lima tahun lalu. Marni tak ingin tahu kenapa sampai Mamanya Farhan ingin pisah dari Hendra. Itu adalah privasi kehidupan Hendra dimasa lalu.


Yang penting, Hendra baik, bertanggung jawab dan serius ingin membina rumah tangga dengannya yang sudah sejak tiga tahun menjanda.


Sungguh hubungan yang rumit.


Marni ingin mengakhiri jika pada akhirnya ada hati yang terluka.


Marni mengerti. Farhan pasti takut dirinya akan seperti Mamanya yang pergi juga nantinya.


Marni tahu. Dan sebelum Hendra benar-benar menikahinya, ia lebih memilih mundur demi mental Farhan yang sempat down sampai nekad ingin bunuh diri.


"Farhan... Tante Marni dan Papa Farhan tidak jadi menikah. Kami... Memutuskan hubungan. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi, ya?"


Tito menatap netra Marni. Wanita itu tersenyum dengan wajah menunduk. Ia seolah pura-pura sibuk agar tak terbaca kedalaman hatinya lewat dua bola mata yang beriak sedih.


"Tante...!"


"Ya?"


"Maafkan Farhan! Maaf, Tante! Tindakan Farhan sudah kelewat batas!"


Marni menggeleng. Ia tersenyum mengangguk seraya berkata, "Tante mengerti perasaan Farhan!"


Tiba-tiba...


"Mama...! Ngapain sih dari tadi Mama ga pulang-pulang? Ayo, pulang! Mama khan punya anak satu-satunya yaitu aku! Bukan dia! Ga perlu lagi urus dia! Khan Mama sudah putus juga dari Om Hendra!"


Tito merasa bersalah sekali.


Syakila tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang tamu dan hanya berdiri di depan pintu.


"Sya! Makan dulu, Sya!" ajak Tito.


"Ga usah lo bermanis-manis sama gua! Hubungan lo sama gue, END!!!"


Tito termangu dengan wajah membeku.


"Sya! Syakila!!!"


Tito berlari mengejar Syakila yang lebih dulu melesat keluar.


Marni tak bisa berkata apa-apa selain membatu.


"Sya, tunggu!"


Tito berhasil meraih pangkal lengan Syakila.


"Lepas! Ih, sakit!!!"


Tito segera melepasnya.


Kini mereka ada di depan jalan kompleks yang sepi. Siang hari yang panas. Tak ada seorangpun yang lalu lalang lewat.


"Sya!"


"Cukup, Han! Lo boleh benci dan hina gue. Tapi jangan lo hina Mama gue!!!"


"Aku gak menghina Mamamu! Aku sayang Mamamu karena aku MENCINTAImu!"


Pucat seketika wajah Syakila. Matanya melotot menatap Tito yang ikut degdegser dipandangi sedekat itu.


"Farhan?!"


"Aku serius, Syakila! Kamu... Adalah perempuan yang paling kucinta dalam hidup ini!"


"Umur kita masih sangat muda, Farhan! Baru 16 tahun. Kita belum boleh pacaran!"


"Kita gak bisa pacaran kalo Papa Mama kita nikah!"


Wajah Syakila memerah.


"Kamu beneran cinta aku? Kenapa baru bilang sekarang?" gumam Syakila yang kini turut kelimpungan.


"Itu karena kamunya yang gak peka'! Aku suka kamu dari awal, makanya sengaja ajak berteman dan bersahabat!"


"Ish! Bohong! Lo bilang sama gue, lo naksir Lolita anak IPS 3 itu! Dasar, cassanova lo!"


"Itu justru bo'ongan, Sya! Itu sengaja kukarang buat bikin kamu jelous doang!"


"Ah, aku gak ngerti, Farhan!"


Grep.


Tito meraih jemari Syakila. Ia inginkan gadis manis ini jadi kekasihnya. Kekasih Farhan maksudnya.


"Tapi kita egois kalo mengorbankan perasaan Mamaku dan Papamu, Han!"


Iya juga sih! Gimana dong? System? Gimana ini? Aku gak mau bocah tanggung ini bunuh diri karena cintanya kandas karena Papanya menikahi Mama Syakila.


"Kita... Pacaran diam-diam!" bisik Tito membuat Syakila mundur selangkah.


"Jangan! Khan gue udah pacaran sama si Tom! Ish! Lo gila ya?!?"


Hah? Rupanya gadis ini sudah punya kekasih!


...-BERSAMBUNG-...