
Tito terbangun dari tidurnya di alam nyata.
Dia terkejut, rumah mewahnya kini sudah seperti layaknya rumah pada umumnya. Lengkap dengan perabotan. Bahkan perabotan mahal yang sesuai.
Tito terpesona. Dia berjalan berkeliling ke semua ruangan dengan mulut ternganga dan pupil mata melebar.
Semua serasa mimpi.
Tadi siang semua ruangan masih kosong melompong. Kini, bagaikan sulap dan juga ilmu sihir, semua bagian rumahnya dipenuhi aneka barang rumah tangga.
Kamar utamanya bahkan mendapat ranjang ukuran king dan semuanya lengkap dengan sprei serta kelambu premium.
Tito sangat senang sekali.
Ia menghela nafas lega. Senyum sumringahnya mengembang lupa pada derita hidup di masa lalu.
Setelah hampir setengah jam mensyukuri nikmat Tuhan padanya, Tito makan nasi padang yang tadi dibelinya dengan sangat lahap.
Tito terkejut setelah membuka lemari esnya yang dua pintu. Isi kulkasnya itu penuh dengan berbagai makanan dan minuman. Bahkan ada daging serta sayur mayur juga buah-buahan segar.
Terima kasih Boss SYSTEM. Terima kasih ya Allah!
Tito melihat angka waktu di ujung ponselnya. Pukul 20.03 WIB. Berarti saat ini sudah pukul delapan malam lebih tiga menit.
Ia mengukuhkan dirinya untuk tetap stay di rumah besar itu. Dan tak pulang ke kostan malam ini.
Tetapi ternyata tinggal di rumah besar dengan banyak kamar sendirian itu tak senikmat yang Tito bayangkan.
Menyalakan televisi besar yang menempel di dinding, mencoba mengotak-atik kotak musik home theater, kemudian tertarik dengan laptop serta kecanggihan alat-alat teknologi yang ada di rumah mewahnya, tetapi ujung-ujungnya Tito terserang rasa bosan juga.
Tito melangkahkan kakinya ke luar rumah. Duduk di teras jadi pilihannya.
Tiba-tiba,
"Latisha!!!"
Plak.
Tito berdiri dari duduknya setelah mendengar suara tamparan. Lagi-lagi ia mengintip dari balik celah teralis pagar besi pintu gerbangnya.
Ada apa lagi dengan gadis sipit itu? Gumam Tito seorang diri.
Tito merasa miris. Gadis itu terlihat begitu tertekan karena hidupnya seperti selalu dalam ancaman.
Kini Ia bahkan terlihat ditampar oleh seorang pria yang usianya bahkan jauh dibawah dirinya.
Tito menilik, usia pemuda itu sekitar 15-16 tahunan saja. Tetapi arogansinya sudah begitu besar sampai berani menampar perempuan yang usianya lebih tua darinya.
Ck! Apa aku perlu turun tangan bantu dia? Tindakan anak lelaki itu agak keterlaluan!
Tito belum bergeming. Ia menahan diri walaupun geram.
Hanya memantau dari celah pagar rumahnya menatap ke arah rumah Latisha yang pagar rumahnya masih terbuka.
Pemuda itu masuk kembali, meninggalkan Latisha seorang diri. Tak lama gadis itu berjongkok dengan wajah tenggelam diantara kedua belah lututnya yang tertutup.
Tito mendengar samar suara isak tangisnya yang tertahan.
Cukup lama hanya berdiam dan mengintai, Tito akhirnya memberanikan diri untuk keluar gerbang rumah untuk menghampiri Latisha.
"Berdiri, Latisha!"
Gadis itu mendongak.
Tito menyodorkan sapu tangan bahan dari saku celana jeansnya.
"Kamu...,"
"I_iya. Terima kasih atas bantuan Mas yang tadi."
Suara Latisha gemetar dan tergagap. Tito seperti merasakan getaran kesedihan gadis sipit itu. Ia ingin sekali membantu Latisha, tapi tak tahu caranya bagaimana. Selain ingin menjadi teman yang bisa menjadi tempat Latisha berkeluh kesah.
"Mau... Main ke rumahku?" tanya Tito pelan.
Netra Latisha menatap penuh wajah Tito yang baru kali ini merasa diperlakukan oleh seorang perempuan. Ada semburat merah jambu menjalari pipi kanan dan pipinya. Wajah Tito seketika merona.
"Itu rumahku. Kalau kamu tidak sedang sibuk atau...sedang butuh teman, aku senang sekali kalau kamu mau mengunjungiku disana!"
Hm? Apa... Perkataanku tak terdengar aneh? Koq jadi seperti pria mesum yang menyuruh seorang gadis mendatangi kediamannya?
Tito merasa sedikit cemas dengan ucapannya sendiri.
"Maksudku, mmm bukan mengandung unsur...,"
"Terima kasih. Saya masuk dulu ya, Mas? Khawatir Mama saya memanggil. Terima kasih banyak atas kebaikannya. Kapan-kapan Saya akan mampir dan main ke rumah Mas! Permisi!"
Tito termangu. Latisha berjalan masuk perlahan sembari menutup pintu gerbang rumahnya dengan senyuman tipis tersungging di bibir ke arahnya.
Tito melihat kesedihan yang teramat dalam di riak bola mata Latisha. Kesedihan yang kurang lebih sama dengan kesedihan hatinya.
Memiliki Ibu Tiri itu tidak enak rasanya. Apalagi kalau sudah menyangkut adik tiri dan balas budi. Sepertinya, kehidupannya dengan Latisha tak jauh berbeda. Itu yang bikin Tito simpati dan ingin mengenal gadis sipit itu lebih akrab lagi.
DING
DING
DING
Boss System? Ada misi? Ini udah malam banget lah, Boss! Aku lelah ingin istirahat. Please..
(MISI DIPENDING IYA ATAU TIDAK)
Pending, Boss! Mau istirahat dulu. Kerja keras bagai kuda itu tak baik untuk kesehatan jiwa dan raga.
(ASSYIAP. TETAPI ADA KONSEKUENSINYA. KENA DENDA RP 200.000,00)
Aduh? Yaelah, Boss! Upsss... Oke. Saya terima konsekuensinya.
(BAGUS. HOST MULAI BISA MENGENDALIKAN KEKUATAN EMOSI YANG ADA DALAM DIRI. HOST MENDAPAT BONUS RP. 500.000,00)
Wow. Sering-seringlah baik hati ya Boss! Rezeki pasti akan mengalir lancar buat Boss System! Terima kasih.
(OKE. SELAMAT REHAT. MISI DINON-AKTIFKAN SAMPAI BESOK)
Terima kasih, Boss.
..............
Malam ini Tito merasakan kasur super busa yang lembut dengan bantal dari bulu angsa asli.
Seluruh perabotan rumahnya adalah kualitas premium semua. Sehingga kini ia merasa bak seorang raja. Sprei bedcovernya tercium harum aroma pewangi pakaian kelas atas di rumah binatu tempat para seleb mencuci.
Sungguh bagai mimpi yang menjadi nyata.
Lewat aplikasi mobile banking di hapenya, Tito bisa melihat keseluruhan total rekening tabungannya. Tertera sejumlah nominal Rp. 30.900.000,00. Baginya itu adalah tabungan terbanyak Tito sepanjang hidupnya.
Ayah... Aku kini hidup bagaikan di alam mimpi. Ibu... Mungkin ini adalah jawaban doa-doamu di masa lalu semasa hidupmu. Aku mulai merasa lebih percaya diri kini. Hidup yang keras, tak lagi terlalu kukhawatirkan berlebih. Setidaknya, walau pekerjaanku belum jelas saat ini, tetapi aku memiliki rumah dan sejumlah uang tabungan. Terima kasih ya Tuhan!
Doa Tito pada Sang Kholiq atas nikmat yang diberikan.
-BERSAMBUNG-