
"Mama..., aku....amnesia! Aku lupa siapa aku ini sebenarnya. Boleh ga, aku minta mama jelasin siapa aku!?"
"Hah?!? Apa itu amesia?? kurang darah???"
"Anmesia itu lupa ingatan mah! Mungkin aku tadi diatas gedung kebentur kepalanya. Jadi beneran ga ingat apa-apa!"
Tito mencoba berbohong demi mengetahui 'siapa diri'nya kini. Hanya jalan inilah satu-satunya guna mengorek keterangan siapa 'Wendi' yang sebenarnya.
Mama Wendi hanya menatapnya dengan penuh kebingungan. Tito paham, pasti kata-katanya agak sulit diterima dengan akal sehat.
"Wendi! Nama kamu Wendi Sulaeman. Lahir pas bulan puasa hari kedua, mama lupa tanggal lahir bulan sama tahunnya! Tapi 3 bulan lalu kamu baru dapet kejutan ulang tahun dari Siska yang ke-28 tahun. Jam 12 malem Siska minta mama bantuin bangunin kamu ngasih surpres. Tapi belum seminggu habis itu kalian putusan! Kamu marah besar sama mamah! Kamu bilang, mamah yang bikin siska mutusin kamu!"
"......"
Tito termenung. Ia tenggelam dalam cerita mamanya Wendi.
Mama Wendi terisak saat kisah Wendi meluncur dari bibirnya. Tangannya mengusap-usap tangan dan kaki Tito. Seperti seorang anak yang tengah merajuk ibunya.
"Demi Allah, mama ga pernah kepingin merusak hubungan kamu sama Siska! Biarpun keluarga kita ga akur, tapi mama ikhlas kamu pacaran sama Siska anaknya si Saodah itu. Mama pasrahkan jodoh kamu sama Yang Kuasa saja! Tapi khan, ternyata... Allah ga menjodohkan kamu sama Siska! Semua terbuka, satu persatu Wen! Itu lihat,... mereka malah bikin hajatan besar-besaran nikahin si Siska. Ga peduli perasaan kamu! Padahal baru 3 bulan putusan dari kamu! Kamu..... kamu nekad mau bunuh diri loncat gedung bekas perkantoran dialun-alun kota tadi pagi. Untung mama ikutin kamu pergi, Wen!"
"Jangan gitu lagi ya Wen! Ga boleh punya fikiran buruk gitu. Perempuan didunia ini banyak. Bukan cuma si Siska saja! Kamu cuma lagi terpuruk. Mama tau, kamu terpuruk banget. Baru 4 bulan kena PHK dari PT Astr*, terus diputus Siska. Padahal uang kamu udah kamu kumpulin di Siska. Buat modal nikah. Emang dasar itu perempuan ga bener! Persis moyangnya, si Saodah! Liatin aja,... mama doain rumah tangganya ga bener! Pasti Allah punya cara buat ngebuka keburukan mereka. Pasti itu, Wen! Doa ibu yang anaknya teraniaya pasti diijabah Allah!"
Tito hanya menunduk. Memilin-milinkan jemarinya. Bingung hendak berkata apa. Hanya diam menyimak semua ucapan mamanya Wendi.
Ia sendiri aslinya berumur 25 tahun dan mau ke 26 tahun. Jadi belum terlalu berfikir kearah memiliki suatu hubungan serius apalagi pernikahan.
Tapi mengingat Wendi yang sudah 28 tahun, berpacaran sampai menabung bersama, tapi kandas ditengah jalan lalu ditinggal menikah duluan oleh orang yang begitu disayanginya,.. pasti suatu "pukulan yang hebat".
Wajar juga jika Wendi putus asa. Nyaris lompat dari ketinggian untuk mengakhiri penderitaan yang membuat luka batinnya.
Apalagi jika mencerna perkataan mama Wendi. Cinta yang terbalas dusta. Entah benar entah salah, tapi pastinya membuat yang menjalaninya frustasi hingga nekad bunuh diri.
Tapi.... Apa juga manfaatnya bunuh diri? Apa semua permasalahan akan berakhir disini saja?
Tidaklah!
Selain dosa besar, bunuh diri juga tidak menyelesaikan masalah.
Setahu Tito, dari abah Engkus Kusnadi, guru mengajinya di Kebon Jati dulu...."Orang yang matinya bunuh diri, tidak akan Allah terima rohnya didunia juga diakhirat."
Benar khan?
"Maafin aku selama ini ya Mah! Mungkin Wendi ada salah, sampai aku ngalamin hal sedih seperti ini!"
Mamanya Wendi semakin kencang menangisnya. Membuat seseorang menyembul dibalik pintu kamar Wendi. Yaitu papanya.
"Ada apa lagi? Hah? Kenapa lagi??" tanyanya sambil tergopoh-gopoh menghampiri istri dan anaknya itu.
"Wendi, pah! Wendi sudah berubah, pah! Alhamdulillah!"
"Alhamdulillah! Syukurlah kalo anak kita sudah normal lagi fikirannya. Hhh... Alhamdulillah!"
"Apa aku ini anak papa mama satu-satunya?" tanya Tito membuat pasangan suami istri itu saling pandang.
"Adekmu Reni khan ada di pesantren! Masa lupa! Khan kamu sendiri yang nyaranin Reni dimasukkan sekolah asrama khusus agama?! Kata kamu, ngeri liat pergaulan anak jaman sekarang!"
Tito tersenyum kaku. Ia hanya menarik nafas pendek. Tak tahu harus berkata apa.
"Wendi! Jangan berfikiran pendek lagi! Buat apa adek kamu jauh-jauh kamu kirim sekolah agama ke kota Baru, tapi justru kamu yang lemah iman cuma karena perempuan. Percuma titel sarjana teknikmu! Jika otakmu didengkul, frustasi gara-gara perempuan! Papa bisa nikahin kamu sama perempuan lain yang lebih cantik dari si Siska! Khan dulu papa pernah mau ngenalin kamu sama anak temennya papa, tapi kamu nolak dengan alasan ada Siska."
"Iya, pah!"
"Udah, pah! Inget kolesterol sama darah tinggimu! Jangan terlalu emosi!" Mamanya Wendi mengingatkan Papanya Wendi. Membuat Tito jadi teringat pada ayahnya.
Hhh...
Ayah ! Bagaimana kabarmu, Ayah? Apa mama Ida mengurus Ayah dengan benar? Semoga saja! Taufik,... Gimana kabarmu, bro? Tetaplah semangat mencari cuan untuk membahagiakan anak istrimu, bro! Aku disini, mungkin inilah cobaan dari Tuhan! Kesana kemari menjadi 'orang pilihan' yang harus kujalankan! Hati kecil Tito berkata.
Ia hanya bisa mengusap wajahnya. Agak sedikit gemetar mengingat "Cakil" yang tewas diujung samurai akibat tawuran.
Apakah ia dalam tubuh "Wendi" juga akan mengalami naas yang sama?
Yakni kematian juga?
Entahlah...
Tito hanya pasrahkan cerita hidupnya pada Sang Maha Kuasa. Juga pada SYSTEM BERUBAH SERATUS WAJAH yang menempatkannya di program layaknya *mainan. Who knows? Nobody*! Termasuk Tito sendiri.
Kapan ia bisa kembali ke tubuhnya, kecuali...jika ia bisa menyelesaikan MISI yang SYSTEM berikan. Katanya.
-Bersambung-