
DING
DING
(HOST DALAM MISI BARU)
(BERGANTI WAJAH YANG KELIMA, SISA SEMBILAN PULUH LIMA WAJAH LAGI)
Kemana lagi nih?
"Uhuk uhuk uhuk!"
Tito terbatuk-batuk. Hujan mengguyur tubuhnya yang sudah kuyup dan kedinginan.
Ditangannya terdapat sebuah cangkul.
Eh? Dimana ini?
Melotot seketika biji matanya melihat tubuhnya ada dalam sebuah galian berbentuk kotak persegi panjang berukuran 2 x 1 meter.
Waduh?
Tito menoleh ke arah belakangnya. Ada seorang laki-laki dewasa lain yang juga sedang melakukan hal yang sama seperti dirinya ditengah derasnya guyuran hujan.
Ternyata Tito dan lelaki itu adalah tukang penggali kubur.
Waduh? System? Ini... Horror banget ini!
Tito menggigit bibir bawahnya cemas.
Hujan terus turun tanpa peduli pada tubuhnya yang basah kuyup di dalam lubang yang sudah sekitar satu meter.
"Kur! Ujannya makin gede! Udahan dulu yok, lanjut lagi entar!"
Tito nyaris loncat karena terkejut disapa tiba-tiba oleh lelaki yang berdiri memunggunginya itu.
"Eh, iya. Ayok!"
Tito menuruti langkah lelaki itu. Langkahnya tertatih dan nyaris terpeleset jatuh di tanah merah becek sekitar kuburan.
Gila! Ini pekerjaan paling horror. Gali kuburan pas hujan besar ditambah kilat yang sesekali menyambar. Dan cuma berduaan doang! Hiks.
Tito merasakan bulu kuduknya merinding. Berjalan melewati batu-batu nisan yang dingin membatu ditengah hujan besar seperti ini sudah seperti sedang adu nyali. Untung bukan di malam hari.
...TEMPAT PEMAKAMAN UMUM CIBERUK...
Tito melirik tulisan yang terpampang di baliho. Ia dan lelaki yang diprediksi berumur sekitar 35 tahun itu berjalan lebih cepat. Warung bilik yang sudah nampak beberapa meter dihadapan mereka.
Hhh... Syukurlah! Kini aku dalam posisi aman! Hiks, Boss! begini amat ya, cari cuan itu! Susahnya minta ampun dan ujiannya juga berat betul! Batin Tito dalam hati.
"Bu, kopi panasnya dua!" kata lelaki yang bersama Tito pada ibu-ibu pemilik warung.
"Iya, Mas!"
Tito mengusap wajahnya yang basah air hujan bercampur keringat. Ia menoleh kanan dan kiri bangku kayu yang panjang tapi agak reyot yang mereka duduki itu.
"Tumben cuma berdua. Si Afif kemana?" tanya ibu pemilik warung. Sepertinya mereka sudah saling kenal satu sama lain.
"Sekolah siang, kayaknya!"
"Ooh!"
Tito hanya menyimak obrolan guna menambah pengetahuan tentang jati diri MC yang kini sedang dirasukinya.
Ternyata mereka bertiga adalah tukang gali kubur. Satu membernya adalah anak muda yang masih sekolah kelas tiga SMK. Lumayan berani juga. Out of the box kerjaan sampingannya.
Afif namanya. Sepupu dari Mas Soleh. Sementara Tito sendiri masih menerka-nerka siapa namanya. Tadi Mas Soleh memanggilnya 'Kur'. Apa namanya 'Syukur', 'Kurdi' atau mungkin 'Parkur'? Entahlah. Tito masih menunggu lewat obrolan panjang ibu warung dengan Mas Soleh.
"Bapak! Bapak! Ibu pingsan di kamar mandi!!!"
"Bang Sakur! Itu anakmu, Bang!!!"
Tito terkejut. Mas Soleh menepuk bahunya tiba-tiba.
"Ibu?" gumam Tito agak bingung.
"Iya! Ayo pulang dulu!" kata seorang anak laki-laki yang umurnya sekitar sepuluh tahunan.
"Mas...?!" tanya Tito minta pendapat Soleh.
"Pulang dulu bentaran, gih! Masih hujan juga. Kayaknya jenazahnya juga ga mungkin dikubur sekarang. Tunggu reda!"
Tito mengangguk.
Ia langsung ikut mengekor bocah lelaki yang barusan memanggilnya bapak.
"Pake payung, Pak!"
"Ga usah, kamu aja! Bapak udah kuyup ini. Nanti malah kamu ikut kebasahan kena baju Bapak!" jawab Tito membuat anaknya itu tersenyum lebar.
Ternyata rumah mereka tak terlalu jauh dari area TPU.
Rumah semi permanen yang terasa pengap karena gentengnya jauh lebih rendah dari rumah pada umumnya itu Tito masuki dengan penuh kehati-hatian karena tubuh yang basah.
Seorang perempuan tergolek lemah tak berdaya hanya didampingi bocah perempuan berumur sekitar lima tahunan yang tengah menangis tersedu.
"Ibu...! Ibu!?!" panggilnya lembut sembari mencoba membangunkan perempuan pingsan dihadapannya.
"Bapak! Ibu, Pak! Ibu ga bangun-bangun!" pekik bocah perempuan yang langsung meloncat ke arah Tito.
"Baju Bapak basah, Nak!" ujar Tito. Dia tak ingin bocah manis yang sedang menangis itu ikutan basah terkena bajunya.
Tito mengangkat tubuh perempuan kurus yang adalah istri Sakur, pria yang kini ia tempati jasadnya. Dibawanya ke atas dipan kayu yang hanya dialasi kasur lantai yang sudah tipis dan agak bau pesing itu.
Tito merasa dadanya sesak. Miris sekali. Kemiskinan sepertinya begitu menyenangi pasangan suami istri yang memiliki dua buah hati yang masih kecil-kecil ini.
Tito terisak.
Tito menepuk-nepuk pipi perempuan itu. Airmatanya berlinang, menangisi nasib dua bocah yang masih kecil-kecil andaikan perempuan itu dipanggil Yang Maha Kuasa.
"Bu... Bangunlah!" ucap Tito mendekat ke wajah perempuan yang pucat itu. Di usapnya pipinya. Di tepuk pelan bahkan Tito sampai terbawa perasaan dan mencium pipinya beberapa kali supaya sang istri sadar.
"Bangun, Buuu! Buuu... Hik hik hiks!"
Kini anak lelakinya pun ikut menangis.
DING
DING
(SYSTEM ADA OBAT BANTUAN KESADARAN)
Tolong, aku mau! Please, system!
(HADIAH BONUS MISI BISA DIAMBIL SEKARANG SETELAH PROSES SELESAI BERLANGSUNG)
10 %, 20 %, 30 %, 40 %, 50 %, 60 %, 70 %, 80 %, 90 %, 100 %
(SILAKAN HOST AMBIL DI SAKU CELANA BAGIAN KANAN)
Terima kasih, Boss!
Tito merogok saku celananya. Mengambil sebuah permen berbentuk pil dan membuka mulut perempuan pingsan itu segera.
Kini ia tinggal menunggu reaksi kerja pil kasat mata itu di tubuh Ibu dari Anak-anaknya.
Dan...
"Ibu! Bapak, Ibu sudah sadar!!!" pekik bocah lelaki yang wajahnya kini terlihat senang.
"Pak!..."
Suara lirik perempuan bermata sayu itu membuat Tito langsung memeluknya sambil menangis haru.
"Syukurlah, syukurlah kamu bangun!"
"Pak..., bajumu basah!" gumam sang istri dengan tersenyum tipis.
"Hehehe... Iya! Aku masih kerja. Langsung pulang karena anak kita ini menyusul ke TPU."
"Kamu menggigil kedinginan!" katanya lagi, tak urung membuat Tito kembali meneteskan air mata.
Betapa aku menginginkan seorang istri yang perhatian padaku! Yang selalu peduli pada keadaanku walaupun baik atau buruk kehidupanku! Hiks, Tuhan! Aku inginkan istri yang seperti ini! Mendapatkan perhatian manis begini membuat hatiku lumer meleleh dan luluh seketika.
"Ambilkan baju ganti untuk Bapakmu, Adi!" katanya pelan dan lembut sekali pada bocah laki-laki yang rupanya bernama Adi.
"Ah, tak perlu. Aku masih harus pergi lagi ke pemakaman. Kerjaku belum selesai, Bu!" tukasku membuat Adi nampak kebingungan.
Istri bang Sakur bangun perlahan dari rebahannya.
"Tidurlah! Istirahat saja dulu, Bu! Aku sudah tenang melihatmu sudah sadar. Sebentar lagi aku berangkat lagi. Kasihan Mas Soleh yang menunggu di warung kopi!"
"Pak!... Maafkan Ibu, ya? Ibu menjadi penghalang kebahagiaanmu menuju masa depan yang cerah. Menikah denganku justru hanyalah kepahitan dan kemiskinan yang kamu dapatkan!"
Tuhan...! Mengapa air mata ini tak bisa berhenti mengalir? Mengapa perkataan perempuan ini begitu menyayat hatiku hingga sedihnya terasa begitu menyakitkan?
Tito menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak tahu harus berkata apa. Tetapi hatinya meluap bahagia, karena memiliki istri sebaik perempuan ini. Memiliki dua buah hati yang manis dan baik serta penurut pada orang tuanya.
Memang ekonomi mereka sangatlah lemah. Tetapi cinta yang kuat dan keteguhan hati untuk selalu bersama, bahu membahu menghadapi kejamnya dunia, bagi Tito itu adalah anugerah yang luar biasa. Itu yang selalu Tito damba selama ini dalam hidupnya.
Cup.
Dikecupnya pipi istrinya.
"Aku sayang kamu! Tetaplah setia disampingku, meskipun kemiskinan sedang menguji kita!"
Hiks. Hebatnya kata-kata yang meluncur dari bibirku!
Tito mengambil segelas air yang ada di meja kayu di samping dipan.
Diberikannya pada istrinya dan membantunya menuang ke arah bibir mungilnya. Sang istri menyisakannya setengah. Air matanya meluncur dari kanan dan kiri. Tatapannya begitu tulus dan penuh cinta kasih.
"Aku pergi kerja lagi ya, Bu? Sehat-sehatlah terus. Jangan tinggalkan Aku dan anak-anak kita meskipun kita ada dalam kemelaratan!"
Perempuan itu mengangguk pelan.
Tito berjalan kembali keluar, setelah mengelus kedua kepala putra-putrinya.
Ia mengusap butiran airmata yang tersisa di pojok pupil netranya.
Hujan masih deras, tetapi semangat kerjanya justru semakin membara.
DING
(HOST MENDAPATKAN HADIAH ISTIMEWA. SATU BUAH RUMAH TYPE CLUSTER DI PERUMAHAN ELIT MENTENG RAYA)
Waaah!!!
Tito bahkan langsung sujud syukur di tanah lapang yang becek banjir air hujan.
Terimakasih ya Allah, terima kasih system! Ini mimpi apa beneran?
(HOST BISA LIHAT DAN BUKTIKAN SENDIRI SETELAH KEMBALI KE KEHIDUPAN ASLI HOST)
Terima kasih, Boss! Terima kasih banyak ya Tuhanku Yang Maha Agung!
"Bang Sakuuur!!! Woooi, cepetan! Jenazah udah di jalan! Ayo gali kuburnya lagi, biar cepet selesaaai!"
Sayup-sayup suara Mas Soleh berteriak memanggil Tito yang masih tersungkur di atas tanah lapang.
"Eh iya, Maaas!!!" teriaknya pula sambil melambaikan tangan.
...-BERSAMBUNG-...