SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
MISI DATANG


DING


(HOST SIAP MENJALANI MISI SELANJUTNYA? IYA ATAU TIDAK)


...Hm. Baiklah....


Tito baru saja selesai menikmati segelas minuman cereal dan beberapa potong roti sobek ketika SYSTEM tiba-tiba datang dengan membawa tugas misi untuknya.


Kepala sakit sekali. Tubuhnya kembali merasakan sensasi berputar-putar dalam lorong labirin putih bahkan sampai 360°.


Bug.


Tito terkejut. Ia mendapatkan pukulan keras tepat kena dadanya hingga terjungkal dan terjatuh.


Bruk.


"Hahaha... Mampus luuu! Makan tuh tokay. Sama aja khan rasanya kayak lo dikasih makan duit haram korupsian bokap lo! Hahaha..."


"Hahaha... Biar tau rasa dia!"


"Dasar anak koruptor!!! Lo itu pantasnya membusuk dalam bui! Sama kayak bapak lo yang udah makan duit rakyat! Anak setan, bapak jin, emak kuntilanak! Hahaha... Makanannya duit haram ratusan miliyar! Cuih! Mending bunuh diri aja lo dari pada hidup juga, percuma!!!"


Tito yang terduduk di lantai kamar mandi gelap dan berbau pesing, hanya bisa mendengarkan celotehan pedas mereka yang di luar sana.


Rupanya kali ini MC adalah anak seorang koruptor. Bahkan kehidupannya pun harus mendapat bullyan padahal bukan dosa pribadinya sendiri. Hhh...


Tito menghela nafasnya.


Samar-samar terdengar lagi suara kasak-kusuk itu.


"Eh ada guru piket, ada guru piket!"


"Bubar, bubar!!!"


"Jangan sampe kita ketauan mengunci anak sialan itu di dalam sini! Ayo, kabur!!!"


Lamat-lamat terdengar suara langkah kaki berlarian meninggalkan tempat penyekapan.


Perut Tito seketika terasa begitu mual.


Walau berusaha menahan agar tak sampai memuntahkan seluruh isi dalam perutnya, ia tetap tak mampu jua.


Seketika ambrol karena bau segala rupa yang menyerang indera penciumannya.


Tito meyakini muntah di dalam sebuah lubang WC yang bau menyengat.


Tok tok tok


"Ada orang di sini?"


Tito langsung balas menggedor pintu.


"Ada, Pak! Tolong saya!" teriaknya kencang.


Kreeek...


Pintu kamar mandi terbuka. Cahaya matahari ikut menyeruak membuat Tito memicingkan matanya.


"Vino? Siapa yang menguncimu di dalam sini?"


Tito menggeleng lesu. Dia memang benar-benar tidak tahu siapa saja yang tadi menyekapnya di dalam sana.


"Hhh...! Bersihkan dulu tubuh dan wajahmu di washtafel kamar mandi guru! Ayo!"


Tito mengangguk sambil mengucapkan, "Terima kasih, Pak!"


"Mamamu menjemputmu! Beliau menunggu di kantor Kepala Sekolah. Bapak turut prihatin ya, atas keadaan Papamu. Semoga permasalahannya segera teratasi!"


"Terima kasih, Pak!"


Tito mengekor Pak Guru yang membantunya itu.


"Hei, Vin? Itu kamar mandinya. Kenapa kamu masih mengikuti Bapak? Bersihkan dulu itu kotoran yang ada di pakaian!"


"Ba_baik, Pak! Terima kasih banyak!"


Tito menunduk dan setengah berlari masuk ke dalam toilet khusus para guru. Sungguh sangat berbeda dengan toilet yang tadi.


Ia kini mematut dirinya di depat pantulan cermin yang ada di depan.


Bocah SMP yang berseragam putih dengan celana kotak-kotak selutut. Lumayan manis walau wajahnya suram tanpa senyuman.


Tito mencoba tersenyum. Ternyata... senyumnya makin membuat wajah anak lelaki yang kemungkinan berusia 14 tahunan itu tambah manis.


Sayangnya, hidup anak ini kacau balau karena bokapnya korupsi. Hhh... Speechless aku dengan keadaan yang membuat jiwa raganya begitu tertekan. Bullyan demi bullyan...pasti selalu ia dapatkan dari berbagai circle lingkungannya. Hhh... Semoga kau kuat menghadapi cobaan dunia yang kejam ini, Vino!


Tito mengingat ketika Pak Guru tadi menyebut namanya 'Vino'.


Kini ia harus mencari Ruang Kepsek setelah hampir sepuluh menit membersihkan noda-noda kotor dan berbau di wajah serta pakaian terutama bagian bok*ngnya.


"Vino!"


Seorang wanita paruh baya berdiri dari duduknya setelah melihat Tito mengetuk pintu ruangan Kepala Sekolah dan masuk setelah dipersilakan.


Tito menatap seraut wajah cantik namun auranya bahkan jauh lebih kusam dari wajah anak yang kini tubuhnya ia tempati.


"Ayo kita pulang, Nak!" katanya lagi seraya menarik pergelangan tangan Tito.


"Kami pamit, Pak! Terima kasih atas kebaikan Bapak dan Para Guru di sini yang sudah membimbing putra saya Vino Herlambang. Kami permisi pamit undur diri!"


Tito mengangguk hormat pada pak Kepala Sekolah dan ikut melangkah pergi dari ruang Kepsek.


Wanita itu menuntun tangan Tito tanpa banyak bicara.


Lorong aula sekolah yang sepi karena masih jam pelajaran membuat suara ketukan highheel yang di pakai Mamanya Vino terdengar nyaring di telinga.


Tak tok


Tak tok


Tak tok


Sekolah yang bagus. Pasti biaya SPP dan operasionalnya juga sesuai dengan standar akreditasi.


Tito berdecak kagum melihat gedung sekolahnya membuat wanita yang menggenggam jemarinya menoleh.


"Mama sudah mengeluarkanmu dari sekolah. Mulai besok, kamu bukan lagi murid sekolah sini, Vin!"


Tito menoleh sesaat.


"Kenapa, Ma? Apa karena kasihan sama Vino yang selalu kena bully?" tanya Tito dengan suara tertahan.


"Jadi kamu juga di bully di sekolah elit ini? Mama kira cuma Ambar dan Florence saja. Ternyata kamu juga? Hhh..."


Tito terdiam. Tak melanjutkan perkataannya lagi.


Cukup lama berdiri, sampai ada sebuah mobil Toyota Yaris datang berhenti tepat dihadapan mereka.


Tito dan Mama Vino masuk ke dalamnya.


"Terima kasih pak Mustadi! Saya tidak tahu harus bagaimana jika tanpa bantuan Bapak!"


"Tidak apa-apa, bu Risma! Ini sudah menjadi tugas saya sebagai kuasa hukum pak Anton Himawan sampai beliau resmi disidangkan!"


Ternyata pria parlente ini adalah pengacara Papanya Vino! Gumam hati Tito.


"Anak-anak sudah ditarik dari sekolah masing-masing?" tanya pak pengacara lagi.


"Sudah, Pak! Vino yang terakhir. Hhh... Saya..., rasanya seperti dunia ini kiamat. Gelap gulita ketika Mas Anton terkena kasus tangkap tangan melakukan tindakan suap dan langsung digelandang reserse TIPIKOR!"


Tito tak ikut nimbrung ke dalam pembicaraan serius. Hanya duduk diam dan mendengarkan.


Keluarga ini sedang mengalami masa yang berat! Hanya kalimat itu yang ada dalam fikiran Tito.


"Saya akan berusaha membela pak Anton sampai akhir!" jawab Sang Pengacara itu, singkat.


"Terima kasih banyak, Pak Mustadi!"


Mobil bagus itu kemudian berhenti di gerbang sebuah rumah mewah nan megah. Bahkan tiga kali lipat lebih besar dari rumah kepunyaan Tito.


"Hati-hati selalu!"


"Iya. Terima kasih!"


Mama Vino melambaikan tangannya pada Sang Pengacara yang kembali memacu mobilnya meninggalkan mereka.


Vino terkesima ketika pintu gerbang hitam itu terbuka sedikit dan mereka berjalan masuk.


Rumah yang tamannya luas mirip istana-istana kerajaan di komik-komik manga, manhua dan manhwa. Sangat rapi serta tertata apik sekali.


Pintu rumah mereka bahkan begitu besar, terdiri dari dua belah sehingga terkesan benar-benar bagaikan istana.


"Ambaaar!!! Floreeence!!!"


Mama Vino berteriak memanggil dua anaknya lagi. Rupanya anak pasutri ini ada tiga. Dan Vino adalah anak sulung mereka.


Satu orang anak perempuan yang Tito perkirakan berumur tujuh tahun turun dari lantai atas tangga rumah mereka yang besar.


"Mamaaa! Kak Vino!!!"


"Mana Kak Ambar?" tanya Mama Vino.


Gadis mungil itu mengangkat bahu dan tangannya, tanda tidak tahu.


"Ambaaar!!! Ambar!"


"Vino! Cari adikmu di kamarnya!"


Tito menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tetapi langkahnya tetap diayunkan menuju lantai atas. Pura-pura tahu letak kamar Ambar, adiknya Vino.


Lantai dua. Kamar-kamar mirip kastil karena pintunya yang berwarna gold berjejer rapi lima pintu.


Tito mengetuk semua pintu satu persatu.


"Ambar! Ambar!!!"


Tok tok tok


"Ambar!"


Nyaris melonjak kaget, ketika Tito membuka pintu ketiga. Sangat jelas, Ambar yang bertelanjang dada tepat berdiri menghadap pintu.


"Kyaaa!!! Kak Vinooo!!!" pekiknya keras sekali.


"Maaf, maaf! Cepetan turun! Mama menunggu!" teriak Tito dengan wajah memerah sambil kembali menutup pintu kamar Ambar.


Ternyata adiknya Vino itu masih gadis kecil. Dadanya pun belum tumbuh. Baru bertunas sedikit saja pucuknya. Membuat Tito tertawa malu seraya mengusap raut wajahnya yang sempat tegang.


Kini mereka berempat telah berkumpul di sofa ruang tengah.


Mama Vino menggenggam jemari anak-anaknya satu persatu.


"Dengar, kalian semua! Sepertinya pihak pengadilan akan menyita rumah ini dalam waktu dekat! Kita... Harus segera bergegas!"


"Hah?!? Pindah dari rumah ini, Ma?" tanya Ambar dengan mata membulat.


"Engga' mauuu!!!" rengek Florence lebih lirih lagi.


Tito sendiri hanya menghela nafasnya dengan kepala tertunduk.


Lumayan rumit dan pelik permasalahan ini.


Ia pun yang seorang dewasa berusia 26 tahun, sepertinya tak bisa banyak membantu Mama Vino dalam memberi ide. Karena saat ini dirinya hanyalah bocah 14 tahunan saja. Baru kelas tujuh SMP.


"Engga' mau pindah, Maaa!" Florence dan kini Ambar juga turut merengek pada sang Mama.


"Ya sudah! Kalau kalian ga mau pindah, bagaimana kalau kita... Minum racun sama-sama?"


"Mama!!!" seru Tito kaget pada ajakan opsi bunuh diri massal satu keluarga.


"Mi_minum racun?" pekik Ambar terkejut sekali.


Mama mereka mulai panik mendapati tatapan aneh anak-anaknya. Airmatanya menetes dan makin mengucur deras, membuat Tito merasa sangat kasihan melihat wanita itu yang mulai terserang depresi.


Tito berinisiatif memeluk Mama Vino.


"Jangan lakukan itu, Ma! Jangan!" larangnya sambil mengusap pelan bahu Sang Mama.


Kedua adiknya yang masih berusia sebelas dan tujuh tahun itu ikut menangis. Bingung.


"Mama ga tau harus berbuat apa lagi. Hik hik hiks...! Mama bingung! Sementara penyelidikan Papa semakin menjerumuskan kita semua pada penderitaan yang makin nyata. Kalian semua dibully di sekolah. Mama juga habis diserang para netizen di medsos. Buat apa lagi kita hidup kalau tanpa kenyamanan bahkan keamanan? Hik hik hiks..."


"Ayo, Ma! Iya. Ambar setuju, Ma! Hik hik hiks..."


"Jangan berfikir sebodoh itu, Ma!" teriak Tito sembari menatap ketiga perempuan beda generasi itu.


"Jangan! Tidak boleh bunuh diri! Bunuh diri itu dosa!!! Selain kalian akan langsung masuk neraka setelah kiamat, di alam kuburpun kalian akan disiksa tanpa ampun! Kalian mau, dijadikan bahan bakar di dasar kerak neraka jahanam?"


Tito selalu teringat pada cerita almarhum Ibunya serta ustadz guru ngajinya di masa kecil.


Kini ia tengah berjuang meyakinkan perasaan Mama serta Ambar yang sedang kacau.


"Tapi... Bagaimana dengan keadaan kita jika kita terus hidup, Vin? Mama ga sanggup menderita. Apalagi harus juga melihat dan membiarkan kalian ikut menderita juga! Hik hik hiks..."


"Pasti ada jalan, Ma! Tuhan pasti akan berikan jalan walaupun perlahan. Pasti, Ma! Pasti!!! Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya! Vino sangat percaya itu!"


...-BERSAMBUNG-...