
Tito berhasil menggagalkan rencana Risma mengajak anak-anaknya untuk menenggak racun bersama-sama.
Kini Risma terlihat agak tenang.
Tapi Tito masih was-was karena permasalahan masih akan terus datang meruntuhkan kekuatan iman.
Apalagi kini rumah besar mereka akan disita negara atas impact dari korupsi yang Anton lakukan. Itu adalah resiko perbuatan yang dilakukan sang kepala keluarga dan saat ini sedang mendekam dalam tahanan negara.
Mama Risma kembali panik setelah mendapati panggilan telepon di ponselnya dan berbincang serius via handphone itu dengan seseorang.
"Lebih baik kita pergi dari dunia ini bersama-sama! Mama sudah putuskan, tak apa menderita di akhirat. Daripada dunia juga ikut memberikan tekanannya yang sangat dahsyat ini!" kata Risma. Kali ini semakin bertekad membuat Florence menangis ketakutan.
"Jangan, Ma! Jangan! Vino ga mau! Vino ga rela jika kita semua harus mati!!! Itu artinya Mama ga cinta Papa! Mama mau meninggalkan Papa yang sekarang berjuang sendirian di penjara! Padahal Papa korupsi untuk kesejahteraan Mama dan juga kita!!!"
Risma termangu. Betapa dewasanya ucapan Vino, putra sulungnya. Ia tak pernah menyangka kalau Vino justru kini bisa menguatkannya.
Vino... Putra pertama sekaligus anak kesayangan mereka. Tumbuh besar di lingkungan kaum borju yang tak pernah mengenal kata 'TIDAK'. Sedari kecil terbiasa dilimpahi kasih sayang berlebih bahkan secara materi. Hingga Anton kadang gelap mata memakai uang apapun demi memanjakan anak istri tercinta.
Tito ternyata justru kini begitu bijak menasehatinya soal urusan dunia.
"Ma..."
Risma memeluk erat tubuh Sang Putra. Tangisnya pecah dibahu Tito. Tubuh sang anak yang kini tingginya melebihi dirinya beberapa belas senti.
"Mari kita satukan kekuatan, Ma!"
"Caranya! Caranya bagaimana, Vin? Kita akan jatuh miskin bahkan hidup melarat! Hik hik hiks..."
"Yang sabar ya Ma!? Mari kita cari jalan keluarnya dengan fikiran tenang dan jangan terlalu gegabah, cepat ambil keputusan."
"Besok kita pasti diusir pihak kejaksaan dari rumah ini, Vin!"
"Mama... Hik hik hiks... Kita mau kemana sekarang, Ma?" Ambar dan Florence menangis merangsek pelukan mereka.
"Apa... Mama Papa ga punya sodara? Atau tempat lain buat kita numpang tinggal ssbentar saja?" tanya Tito mencari tahu.
Risma menggelengkan kepalanya, lesu.
"Kita bisa mengontrak rumah, atau kostan! Jangan patah semangat, Ma!" ujar Tito lagi.
"Dimana? Terus... Untuk hal-hal lain sebagainya? Biaya hidup kita selanjutnya?"
Tito ikut bingung. Risma kembali kelimpungan.
Please, please...! Jangan berkeinginan untuk bunuh diri! Please...
Tito berdoa dalam hati. Berharap penuh semoga Mamanya Vino tak berfikir pendek dan akhirnya mengambil jalan pintas.
Tok tok tok
Tok tok tok
Risma kembali tegang wajahnya. Pintu rumah diketuk seseorang.
"Siapa?" tanya Tito hati-hati dari balik pintu yang tertutup rapat.
"Dept collector Bank Kencana!!!"
Seketika wajah Risma dan ketiga anaknya pucat pias.
"Keluar!!! Kalau tidak, kami akan membuka paksa. Dan jangan salahkan tindakan kami karena akibat kelakuan kalian yang lalai membayar hutang!!!"
Tito menjaga Mamanya Vino dan kedua adiknya.
"Mundur, Ma!"
"Vin... Mama takut!"
"Kakaak... Hik hiks..."
"Ada Vino. Kalian jangan takut!" kata Tito tegas.
Sang Mama hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Fikirannya makin kacau. Bagaimana bisa putra sulungnya yang kurus meskipun jangkung dan baru berumur 14 tahun itu menjaga dirinya serta dua putrinya yang masih kecil. Apalagi di luar sana pastinya orang-orang tinggi kekar, sangar dan gahar.
Tito membuka pintu rumahnya.
"Mana, Mamamu?" tanya salah seorang dept collector berwajah hitam menakutkan. Membuat hati Tito menciut juga.
DING
(HOST MEMILIKI KEMAMPUAN ILMU BELA DIRI YANG MUMPUNI. JUGA MEMPUNYAI HADIAH ISTIMEWA PERMEN PIL HITAM UNTUK MEMBUAT TUBUH KEBAL, DAN PIL WARNA PIL WARNA PUTIH UNTUK MEMINDAHKAN RASA SAKIT KE TUBUH LAWAN)
Huaaa... Oh terima kasih, Boss! Kuambil semuanya!
(PERMEN PIL KASAT MATA SEDANG DIPROSES)
DING.
(SELESAI)
Tito segera mengambil satu permen pil kebal tersebut. Lalu memasukkan kedalam mulutnya.
"Mau apa kalian?"
Keempat orang bertubuh tambun merangsek Tito memaksa masuk ke dalam rumah mereka.
"Bayar hutang! Ini sudah tiga bulan tunggakannya gantung belum dilunasi!" teriak mereka tepat di muka Tito.
Tentu saja Tito kesal dan mendorong tubuh kedua orang sampai ke pojok pintu.
"Heh!? Berani sekali kau bocah!!!"
Salah seorang dari mereka menarik kerah kemeja sekolah Tito.
"Jangan!!! Jangan apa-apakan anakku!!!" jerit Risma mencoba melindungi putranya.
"Bayar hutangmu! Kalau tidak, anakmu ini akan kami bawa sebagai jaminan!"
"Tidak, jangan!!! Aku tidak punya apa-apa lagi! Jangan bawa putraku!" pekik Risma lagi.
Plak
Tito menampar orang yang sedang mengintimidasi Mamanya Vino. Semuanya diam menatap padanya dengan mata tak percaya.
"Kau...?!?"
Plak plak plak
Tito menyeringai. Ia memang tersungkur karena tubuh anak lelaki yang ditempatinya tak terlalu kuat menahan dorongan yang tiba-tiba, tetapi tak merasa sakit sedikitpun. Malah tertawa padahal tiga tamparan telak mengenai pipi kirinya.
"Vino!!!"
Mama Vino berteriak histeris. Ia segera membantu Tito berdiri.
"Ma, Ma! Buka mulut Mama!" bisik Tito membuat Risma memicingkan mata, bingung. Tetapi ia menurut juga. Dan membuka lebar bibirnya. Tito segera memasukkan pil kasat mata berwarna putih itu kedalam mulut Risma.
Bug.
Seorang yang bertubuh kekar menendang Risma dengan kekuatan maksimal sampai Risma dan Tito kembali terjatuh.
"Aduuh!!!"
Dia yang menendang, tapi dia pula yang mengaduh. Hm.
Pengaruh pil yang dimakan Risma langsung bereaksi.
"Vin...!"
"Tenang, Ma! Kita akan aman!" bisik Tito lagi. Kini ia kembali berdiri dibarisan paling depan. Menjadi benteng pertahanan Risma dan kedua anak perempuannya yang masih kecil-kecil.
Bug.
"Heugh!!!"
Lelaki itu seketika melotot. Perutnya sakit dan tangannya langsung memegang perut dengan tubuh terhuyung.
"Sial!!! Bocah ceking ini berani menonjokku!" ujarnya dengan suara mengandung amarah.
Dia kembali maju untuk menghajar Tito setelah keadaan perutnya kembali normal.
Tetapi Tito kini sudah siap dengan kuda-kudanya.
Srek
Plak, prak
Gubrak
Bahkan tubuh lelaki dewasa itu jatuh terjengkang setelah Tito menengkas sebelah kaki kanannya dan menampar serta memukul telak bahu kirinya.
Rasain!!!
Ambar dan Florence berteriak kegirangan. Keduanya bahkan bertepuk tangan memberi aplouse pada kakaknya.
Salah seorang yang tadi hanya diam menonton, lalu menarik tangan Risma.
"Dasar kalian, ya? Sudah tak mampu bayar hutang, tapi kalian masih sombong dan berani melawan bahkan menghajar kami!"
"Mamaaa..."
Florence menjerit melihat sang Mama ditarik semena-mena.
"Kalian adalah lintah penghisap darah!!! Bisa-bisanya menari diatas penderitaan orang lain! Kami hanya pinjam lima puluh juta. Bagaimana bisa berbunga sampai jadi empat ratus juta. Pemerasan itu namanya!!!" teriak Risma kesal.
"Itu khan sudah kau dan suamimu sepakati dari awal! Kalian sudah tanda tangan kontraknya. Berarti wajib mengikuti aturan main yang sudah kalian setujui! Kalian menggantungnya, tak bayar bunga juga. Itulah konsekuensinya meminjam uang pada boss kami, Bu!"
"Terlalu banyak bacod perempuan ini!" sela yang satunya lagi, langsung menampar Mama Vino.
Plak
"Adauwww!!!"
Tito tersenyum menatap Risma yang terbelalak. Risma memegang pipinya sambil bergumam seorang diri, "Ga sakit!?!"
Tito mengangguk.
Kini Tito mundur, mendekati Risma.
"Jangan takut, Ma! Mama ga akan ngerasa sakit sedikit pun! Tapi hati-hati! Jaga Ambar dan Flo! Takutnya mereka mengancam dan menyandera adik-adik yang ga bisa apa-apa!" bisik Tito di telinga Risma.
"Oke!"
Kini Risma mencoba mengatur posisinya. Sehingga Ambar dan Florence berada tak jauh dari belakangnya dan para penagih hutang sangar itu tak bisa menjangkau kedua putrinya.
"Nih tampar, nih! Pukul aku, kalau kalian berani!" tantang Risma. Tentu saja keempat pria kekar itu terbakar emosi.
Mereka berencana merempuk Risma.
Dan salah satu dari mereka berhasil memukul bahu kanan Risma sampai terdengar suara keras.
Bug
"Aaa...!!!"
Yang satu lagi kemudian menjambak rambut Risma, tetapi dia langsung melepas dan memegangi kepala serta rambutnya sendiri dengan kaki berjingkrak-jingkrak.
Tito dan Risma tertawa.
"Pergilah! Jangan ganggu keluarga kami!"
"Kami ini disuruh atasan untuk menagih hutang Papa Mamamu! Bukan mengganggu! Kami juga bakalan kena masalah kalau tak bisa bayar hutang!" ujar salah seorang dengan kaki terpincang-pincang.
"Kami sudah melarat! Ambillah apapun yang kalian mau!" jawab Tito membuat keempatnya langsung berpencar mencari barang berharga.
"Vino! Apa-apaan kamu?" Risma cemas karena salah seorang membuka lemari berisi koleksi tas mahalnya.
"Ma! Hutang wajib dibayar! Dosa hukumnya dan akan terus membayangi hidup kita jika masih memiliki hutang!"
"Tapi itu tas-tas Coco Channel Mama harganya,"
Vino menarik tangan Mamanya. Mencoba menahan dan menenangkan.
"Tunggu!!!"
Tito mencoba melihat apa saja yang mereka bawa. Ada tiga tas mahal Risma, sepatu Jordan ori milik Vino, laptop dan beberapa jam tangan mahal milik Anton.
"Laptop jangan!"
Mereka menuruti perintah Tito lalu memberikan laptop itu padanya.
"Terima kasih!" ujar mereka sambil berlalu pergi.
"Hhh..."
"Vin..."
Mereka duduk di sofa bersama-sama seraya menghela nafas panjang.
"Ma! Apa Mama masih punya barang berharga di kamar?" tanya Vino.
"Kenapa?"
"Ayo kita kumpulkan! Semua! Barang berharga Ambar juga Flo!"
"Untuk apa?"
"Untuk kita jual! Kita bisa mencari tempat tinggal selanjutnya dari hasil seluruh harta yang tersisa!"
Mereka mulai dari kamar Risma. Mengumpulkan satu persatu barang yang sekiranya bisa dilelang karena memiliki nilai jual tinggi.
Lalu kamar Vino. Banyak juga, setidaknya bisa untuk diubah menjadi uang demi bisa bertahan hidup untuk beberapa bulan ke depan.
Kamar Ambar, kamar Florence bahkan kamar tamu pun tak luput dari mata awas Tito yang mengkroscek barang yang bisa mereka jual murah via toko online lewat laptop yang tadi.
Tito dan Risma beserta Ambar juga Flo tidur satu kamar. Mereka saling menguatkan satu sama lain, berjanji akan selalu bersama dalam keadaan apapun dan tetap berusaha berjuang untuk masa depan yang akan datang.
Bunuh diri bukanlah akhir yang baik. Bunuh diri juga tak akan menyelesaikan masalah. Hanya memotong kesusahan hidup di dunia. Tetapi justru membuat hidup di alam barzakh semakin tersiksa. Naudzubillah.
Mereka tidur dengan hati jauh lebih lega dari malam-malam sebelumnya. Walaupun kelopak mata mereka bengkak karena kebanyakan menangis, tetapi mereka kini jauh lebih kuat mental dan psikisnya. Ada Tito yang selalu memberi motivasi.
Bahkan sebelum tidur, Tito juga mengajak mereka untuk sholat tahajud nanti malam.
Risma tak percaya, Sang Putra telah tumbuh dewasa dan mampu memberinya banyak pencerahan.
Tito membangunkan mereka pukul satu malam. Walau penuh drama, akhirnya mereka bisa juga sholat sunnah berjamaah.
...............
"Mama! Tengok, Ma!!!"
Ambar yang langsung mencek toko online mereka berteriak senang. Barang-barang yang ditawarkan semalam kini banjir transferan.
Ini adalah jawaban doa langsung dari Tuhan. Mereka mendapatkan uang dengan melelang murah barang milik mereka untuk bisa mengontrak sebuah rumah nantinya.
...-BERSAMBUNG-...