SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
MISI BARU MENJADI 'WENDI'


Tito segera beranjak dari pinggiran gedung. Rasa takut pada ketinggian menyeruak menyelimuti kalbunya.


Ia memang memiliki riwayat kelemahan pada indera penglihatannya, sehingga ia tak punya keberanian untuk melakukan kegiatan di atas ketinggian.


Tapi kali ini, penglihatannya teramat jelas sekali. Bahkan matanya mampu melihat orang-orang yang berkerumun dibawah, berteriak sesekali padanya yang berdiri di pinggir gedung tua.


Tito mencari pintu keluar untuk turun dari gedung bertingkat yang sudah usang dan tidak terpakai lagi itu.


Benar saja. Gedung ini ada 5 lantai.


"Alhamdulillaaah.... kamu turun juga, anakkuuu!"


Seseorang langsung memeluk tubuh Tito erat sesampainya dilantai bawah. Ibu setengah baya tadi rupanya.


"Pulang ya, nak! Kita lupakan semua yang sudah terjadi. Jangan kamu ingat-ingat lagi, ya?!"


Sejujurnya Tito tak paham pada apa yang ibu itu ucapkan. Tapi mengingat 'dirinya' yang seharusnya telah wafat karena sabetan samurai ketika tawuran, ia hanya mengikuti alur cerita yang system beri padanya.


Tito hanya manut menurut. Ketika ibu itu membimbingnya masuk kedalam sebuah angkutan kota. Dimana semua pandangan penumpangnya menatap dengan sorot mata aneh.


Seolah tak ingin Tito pergi kabur atau melarikan diri, ibu itu mengapitnya dengan sangat erat. Bahkan sesekali menghapus peluh Tito yang menetes dikedua belah pelipisnya.


Tak begitu lama, angkot berhenti didepan gang jalan yang penuh bocah-bocah tengah bercanda penuh gelak tawa.


Seperti tengah ada keramaian, sepanjang jalan gang dipenuhi banyak tukang dagang. Juga terdengar suara musik dangdut lewat pengeras sound sistem dari arah yang punya hajatan.


Tito dan ibu itu memasuki sebuah rumah mini dan hanya ada satu kamar didalamnya. Tapi ternyata rumah itu bertingkat 2 lantai. Karena Tito melihat tangga kecil yang terbuat dari papan menempel dipojokan rumah.


Seorang bapak setengah baya turun dari lantai atas melewati tangga itu.


"Udah aku bilang, jangan bawa si Wendi pulang kesini!!! Dia ntar pasti kepikiran nekad bunuh diri lagi gara-gara anak si Saodah yang nikah itu!!!"


"Habisnya mamah bingung, pah! Mau dititip dirumah Mbak Lani pun disana ga ada yang ngawasi!"


Tito hanya menyimak percakapan yang sepertinya pasangan suami istri itu. Terdengar mirip suara 'adu otot' karena vokal mereka yang terbilang keras.


Eh? MC-nya mau bunuh diri lagi???


Hhhhhh..... Tito memijit pelipisnya yang terasa pening.


Kepalanya semakin berat seiring perutnya yang terasa mual. Seketika keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya termasuk wajahnya.


Dan tiba-tiba,


Gubrak


Tito pingsan tak sadarkan diri.


..............


Ia terbangun sendirian didalam sebuah kamar kecil berukuran sekitar 3x3 meter saja.


Sepertinya ini kamar dilantai atas. Karena dasarnya beralas papan triplek yang bisa bersuara jika aku berjalan dengan sembrono!gumam hati kecil Tito.


"Wen....! Nih, mamah buatin sop ayam kampung kesukaan kamu! Abisin ya, Wen!"


Baru Tito hendak mencari cermin, untuk memastikan 'wajahnya' kali ini seperti apa. Bagaimana rupanya. Ternyata mamahnya Wendi sudah memanggilnya dan membawakan semangkuk sop yang masih mengebul dan sepiring nasi putih.


Harum aromanya menggugah selera makannya.


"Makan ya? Dari kemaren kamu ga makan gara-gara anak perempuan sialan itu!"


Eh? Kata-kata mamahnya Wendi membuat Tito mengernyit. "anak perempuan sialan".


Hhh... Terserahlah! Yang penting aku makan dulu. Perut ini melilit lapar, minta diisi! gumam Tito dalam hati.


Masakan mamanya Wendi beneran enak. Tito makan sangat lahap. Sampai habis sepiring nasi dan semangkuk sop yang dibawa mamanya Wendi.


"Alhamdulillaaah! Akhirnya anakku mau makan juga! Sampe habis pula!!!"


"Masakan mama enak! Makasih ya mah!"


"Wendi??? Akhirnya nak!!! Kamu maafin mama, kamu mau ngomong sama mama!!!"


Tito sedikit jengah dipeluk erat mamanya Wendi. Karena ia tidak terbiasa disayang orang lain. Bahkan orangtuanya sendiri nyaris tak pernah memeluknya selama ini.


Tito hanya diam menyimak.


Ternyata permasalahan si Wendi adalah putus cinta dan gegana ditinggal nikah mantannya.


Hhh... Rumitnya cinta.


Tito hanya menundukkan kepalanya seraya menarik nafas panjang.


Cinta memang aneh dan membingungkan. Rumusnya membuat para penganutnya kadang berbunga-bunga, bahagia dan berpesta pora. Tapi kadang menggila, menangis, meraung-raung menahan rasa sakitnya yang tak bisa ia deskripsikan dengan kata-kata.


Tito sendiri belum pernah merasakan sakitnya putus cinta. Lha wong dia belum pernah jatuh cinta, nembak cewek, terus ditolak. Alhamdulillah, ia belum punya keberanian sebesar itu.


Walau ia pernah punya rasa suka yang besar pada beberapa gadis teman sekolahnya dulu. Hanya sebagai pengagum rahasia saja dari kejauhan. Itulah sebabnya, Tito begitu menyukai grup band Sheila On 7 sejak ia masih kelas 6 SD dulu. Karena liriknya yang pas, ngena dihatinya. Dan lagu favoritnya yaitu : Pengagum Rahasia.


"Mah! Berapa umurku sekarang?" tanya Tito tiba-tiba membuat mamanya Wendi menatapnya dengan mata terlihat berkaca-kaca.


"Mau 28 tahun ya? Sabar ya, jodoh pasti datang pada waktunya, Wen! Papa punya kenalan orang pintar dari Blitar! Cuma waktunya belum ada, karena papa ga bisa ambil cuti dari kerjanya buat kita sowan ke Blitar!"


O_orang pintar? Ke Blitar? Mau apa pergi ke orang pintar? Minta cepet sapet jodoh?


Tito hanya melongo. Selama ini ia banyak berteman dengan berbagai kalangan. Terutama kalangan kaum menengah kebawah. Yang banyak bercerita ini-itu.


Cerita hal klenik sampai hal ghoib. Dari minta doa dari ustad dan kiyai sampai minta jampi-jampi dari orang pintar atau dukun sakti.


Yang pasti ia tidak suka hal mistis macam begitu. Tito lebih suka mengaji dan mengkaji buku-buku agama serta doa-doa mustajab yang sering ia beli di toko buku Gramed*a.


Baginya, cukup tahu kalau ghaib itu ada dan nyata. Tapi tak harus dan wajib ia selami. Kecuali Allah Yang Maha Ghoib. Wajib kita ketahui. Sebagai muslim yang baik.


Guru mengajinya sewaktu kecil selalu berkata, mintalah apapun itu hanya pada Allah Ta'ala saja. Karena hanya Allah-lah yang Maha Tahu Segalanya. Termasuk jodoh dan rezeki.


Kata-kata itu yang selalu ia jadikan panduan dalam menjalani hidupnya selama ini. Walau kadang gersang dan kesepian, tapi ia selalu yakin pada kebesaran Allah. Tuhannya yang berusaha ia temui lima kali dalam sehari.


Walau kadang sholatnya ada bolong disana sini dengan alasan berada dikemacetan ataupun banyaknya kerjaan, Tito selalu berusaha menjalankan hidupnya direl yang benar.


Hanya sujud pada Tuhan, ia ceritakan semua beban batinnya. Itulah yang jadi kekuatan baginya ditengah himpitan kekejaman nasib duniawinya.


DING


(SYSTEM MENDETEKSI KESELURUHAN PERFORMA HOST)


Oke.


KEKUATAN : 30 %


KESEHATAN : 50 %


KECEPATAN : 40 %


KECERDASAN : 40 %


KETAMPANAN : 60 %


NOMINAL REKENING : RP. 3.000.000,00


ASSET : NOL


KEMAMPUAN/SKILL : NOL


MISI : LANJUTAN


HADIAH : SATU BUAH SEPEDA MOTOR YAMAHA R15


Hm...


(SYSTEM LANJUTKAN, YA ATAU TIDAK)


Lanjut.


(MISI ONLINE)


-Bersambung-