
Tito terperanjat. Wajah cantik berada kurang dari beberapa sentimeter saja dari mukanya.
"Ugh!" leng*hnya pelan.
"Sayang,... Kamu sudah sadar?!"
Eh?! Oiya, lupa. Aku saat ini sedang menjadi Bimo Argo. Dan perempuan cantik ini adalah Rihana istrinya.
Cup.
Kecupan hangat bib*r Rihana membelalakan kedua bola mata Tito.
"Sayang!... Kamu mau makan sesuatu? Mau kubuatkan chicken wrap? Salad sayur? Atau kebab? Mau?"
Tito menelan air liurnya. Semua yang disebutkan Rihana menerbitkan selera makannya. Seketika ia mengangguk mengiyakan.
"Mau? Oke, aku buat dulu ya sebentar!?"
Hm. Istri yang baik. Gumam Tito dalam hati.
Ketika Rihana pergi meninggalkannya keluar kamar, Tito bangkit dari tempat tidur. Berjalan pelan mencari cermin. Ia ingin melihat wajahnya yang sekarang.
Dibalik pintu lemari sepertinya suka ada cermin yang tersembunyi. Tito mencoba membukanya karena ada anak kunci yang menggantung.
Benar saja. Ada kaca cermin lumayan besar. Kini Tito termenung menatap pantulan wajah yang kini dirasuki rohnya.
Hm. Pria dewasa. Bertubuh tinggi kekar, berwajah lumayan tampan. Tapi kenapa pria ini ingin bunuh diri? Kenapa ya?
Tito tak mendengar suara system. Berarti saat ini dirinya sedang sendiri tanpa pantauan system yang biasanya memberinya panduan.
Tito melihat sekeliling kamar.
Benar-benar kamar yang besar dan indah. Sangat berbeda dengan kamar kostannya yang hanya berukuran 4 x 5 meter dan sering telat bayar sewa bulanannya.
Dia berdecak kagum. Semua ornamen serta wallpaper kamarnya sungguh estetik. Membuat Tito penasaran sampai meraba permukaan dindingnya. Wallpaper tiga dimensi. Pantas keren sekali!
Tito berusaha mencari clue dengan membuka-buka lemari dan laci meja nakasnya.
Ada sebuah amplop coklat besar.
Ia penasaran sekali dan tertarik membukanya. Ingin tahu apa isi di dalamnya.
Tito terbelalak.
Tergambar jelas wajah perempuan yang terbidik kamera. Dan sebuah adegan yang terekam membuat Tito termangu.
Rihana dengan hanya memakai pakaian dalam saja seperti sedang melakukan adegan tujuh belas tahun keatas dengan seorang pria tampan !
Pantas saja! Gumam Tito sembari menelan saliva.
Ternyata Rihana berselingkuh dari Bimo Argo.
Tito tak habis fikir. Pria flamboyan, dewasa, mapan dan juga tampan sekelas Bimo Argo pun bisa-bisanya diselingkuhi oleh istrinya. Apalagi dirinya yang hanyalah pria biasa, standar, miskin, tak berharta juga tak bertahta, apa kabarnya. Sungguh dunia sangat kejam di zaman sekarang ini. Hhh...
Ceklek.
"Sayang! Makanannya sudah siap!"
Rihana menghentikan langkahnya. Ia berdiri tertegun dengan wajah tegang dan tangan memegang pinggan nampan berisi piring makanan masakannya.
"Sini, aku lapar sekali!"
Tito benar-benar tak tahan mencium aroma harum dari makanan yang dibawa Rihana. Dia tak peduli pada kejadian yang beberapa waktu lalu menjadi keributan terbesar pasangan suami istri itu. Bahkan kamar ini baru saja dibersihkan asisten rumah tangga mereka karena hancur berantakan bagaikan kapal pecah.
Rihana senang. Wajahnya ceria dan langsung menyajikan makanan andalannya dalam menyenangkan perut suaminya yang sudah sepuluh tahun menjadi teman hidupnya.
Tito tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan makan makanan mewah yang rasanya tidak familiar di lidahnya itu.
Hm... Lumayanlah. Walaupun terlalu gurih rasa keju dan saus mayonaisenya!
Dia tahu rasa-rasa dari makanan luar walaupun tak terlalu. Dulu Koko Chandra sering mentraktir Tito dan Rasyid makan makanan dari restoran negara lain walaupun hanya pesanan lewat aplikasi gofood.
Rihana mengusap bibir Tito yang penuh dengan lelehan mayonaise. Tentu saja membuat Tito menepis halus jemari Rihana.
"Maaf...! Ada lelehan mayo dibibirmu, Sayang!"
Tito kembali asyik menikmati kebab tortila yang sangat banyak potongan dagingnya. Sampai tumpah-tumpah ke piring saji isiannya ketika Tito menggigit sedikit demi sedikit kulit tortila-nya.
"Sayang, ini minumnya!"
Rihana benar-benar berusaha memanjakan sang suami. Sepertinya ia ingin membuat Bimo Argo melupakan perbuatan kejamnya bercinta dengan pria lain dibelakangnya.
Cih!
"Terima kasih!" ucap Tito. Semakin membuat Rihana merasa diatas angin, sang Suami tak lagi menggugat cerai dirinya.
Wanita itu melakukan sentuhan yang membuat bulu-bulu Tito meremang. Perlahan naik ke bagian pangkal pahanya.
"Jangan!!!" tegas Tito membuat Rihana sedikit gentar.
Wanita ini pandai sekali mengambil hati!
DING
DING
Yeeay, akhirnya kau datang juga, system!
(PROSES PENYATUAN TUBUH HOST DENGAN MC DIMULAI)
10 %
30 %
40 %
50 %
60 %
70 %
80 %
90 %
100 %
(MISI ONLINE)
(HADIAH MISI RP. 10.000.000,00)
(BONUS SEBUAH RUKO MINIMALIS DIBILANGAN MENTENG UNTUK USAHA JIKA HOST BERHASIL MENJALANKAN MISI DAN MENYELAMATKAN MC)
Woow, boleh juga tuh! Makin tertantang nih!
(SELAMAT MENJALANKAN MISI)
Terima kasih, sys!
(SYS? SYSTEM TAK BERGENDER. TOLONG SEBUT NAMA SYSTEM LENGKAP. JANGAN DIPOTONG)
Aih? Nama suara Sys suara perempuan. Itu gender khan?
(HANYA UNTUK PENYEMANGAT HOST YANG SEORANG LAKI-LAKI KESEPIAN TAK PERNAH MENGOBROL INTENS DENGAN PEREMPUAN)
Hiks... Iya juga.
Tito menghela nafas.
Rihana masih menatap wajahnya. Entah apa isi kepalanya. Benarkah wanita ini mencintai sang suami setulus hati? Atau diam-diam justru memendam rasa benci sampai tega menyelingkuhi?
"Hubunganku dan Reyhan itu cuma settingan, Yang! Hanyalah urusan pekerjaan. Dan kami dituntut untuk profesional!"
Ucapan Rihana membuat Tito menatap serius wajah cantik wanita dihadapannya.
"Pekerjaan apa?"
"Mas khan tahu, aku dan Reyhan adalah model. Kita menikah bukan setahun dua tahun. Tapi sudah sembilan tahun. Itu artinya kamu sudah mengenalku luar dalam!"
Hm... Ternyata seperti itu.
Tapi mengingat foto mesra yang tadi kulihat diamplop coklat yang kini kau sita sepertinya bukan seperti itu.
Apa gambar foto yang dilihatnya itu adalah settingan? Padahal sangat jelas bibir keduanya saling bertautan. Hm? Apa segamblang itukah profesionalitas pekerjaan sebagai seorang model?
Tito memegang tangan Rihana.
"Apa kita punya anak?" tanyanya kaku.
Rihana menggelengkan kepalanya.
Hm. Pantas saja. Rupanya pernikahan mereka yang sudah berjalan sembilan tahun itu sepi tanpa celotehan riang anak-anak. Bisa jadi Rihana memang menginginkan hadirnya anak. Lalu, selingkuh dengan Reyhan yang sesama model. Who knows!?!
Tito menelan saliva. Matanya tiba-tiba tanpa sadar menatap dua gundukan dibagian depan tubuh Rihana.
Hiks. Masih tanpa penyangga.
Tito adalah pria dewasa. 26 tahun, normal dan sangat sehat.
Melihat pemandangan indah di depan mata, tentu saja 'adik kecil'nya langsung terbangun dari tidur panjangnya.
Ia, mulai memiliki pikiran picik.
Saat ini aku adalah Bimo Argo. Suaminya Rihana, model cantik ini. Jadi..., halal dong kalau aku...meminta 'sesuatu' padanya? Hiks. Aku... Belum pernah melakukan hubungan s*k dengan lawan jenis. Belum berani untuk membeli jajanan walau banyak yang berdagang diluaran sana. Hiks... Bolehkah...
Tito menelan air liurnya yang sedari tadi seakan menetes.
Rihana adalah wanita dewasa berusia 34 tahun. Tentu saja dia sudah berpengalaman dalam melihat dan menilai gelagat pria semacam Tito yang menatapnya penuh hawa nafsu.
Tentu saja Rihana yang melihat Tito adalah Bimo Argo tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Sembilan tahun menikah dengan CEO Perusahaan pakaian dal*m pria bernama Bimo Argo yang muda, tampan, bertalenta dan anak orang kaya. Rihana selalu bisa membuat Bimo Argo jatuh cinta lagi dan lagi kepadanya.
Untuk kali ini pun dia begitu percaya diri. Sang Suami pasti akan kembali mempercayainya karena jatuh cinta setengah mati padanya walaupun dia sudah ketahuan main gila dengan asisten pribadi sekaligus model andalan perusahaannya, Reyhan Vasco.
Rihana dengan gemulai mengambil piring bekas kebab yang Tito makan. Ia lalu naik ke atas paha Tito dengan gaya centilnya yang elegan. Tentu saja batang antena Tito seketika makin menegang dan berdiri tegak, seperti tiang upacara di hari senin yang siap dipasang bendera. Hiks.
Tito pasrah.
Mengikuti permainan Rihana yang seolah menuntunnya.
Siang itu... Siang pertama cair*n kent*l yang keluar dari junior Tito memasuki tempat asing yang selalu ia impikan.
Jelegeeerrr
Petir menyambar di langit. Hujan turun langsung deras bak sengaja ditumpahkan dari atas ketinggian.
Tito... Untuk pertama kalinya kehilangan keperjakaannya. Kesian.
-BERSAMBUNG-