
Ini pertama kalinya Tito mengikuti pemakaman. Bahkan malah menjadi tukang gali kuburnya sekaligus.
Jantung berdebar kencang, lutut pun gemetar saking takutnya dalam hal menggotong dan mengurus jenazah masuk liang lahat.
Wajah-wajah sedih, tangis kesedihan. Mengiringi acara pemakaman yang dikerjakan dengan cepat.
Ada seorang pemuka agama dan anak keluarga jenazah yang ikut masuk kedalam liang lahat. Sehingga Tito bisa bergegas naik ke atas sembari menghela nafas lega.
Tinggal Mas Soleh saja yang menghandle di bawah. Mengatur dan menyusun papan-papan penutup tubuh jenazah sebelum ditimbun dengan tanah.
Mana aku tahu urusan begini? Dulu waktu Ibu meninggal dunia, aku masih sangat muda. Masih berusia 8 tahun. Bahkan sampai saat ini aku sendiri sudah lupa seperti apa wajah almarhumah Ibuku.
Tito menoleh pada seorang anak lelaki yang mencolek lengannya sambil tersenyum.
"Maaf, Bang! Tadi ada pelajaran tambahan!" bisiknya pelan dan Tito hanya mengangguk.
Hm. Ini rupanya si Afif!
Afif sepupunya Mas Soleh turut serta membantu Tito mengurug tanah kubur.
Rupanya pemuda itu cukup cekatan dan sudah faham tata tertib adab pemakaman.
Setelah selesai, para kerabat keluarga almarhum mulai sibuk mendekat untuk tabur bunga. Kemudian pemuka agama sebagai wakil keluarga menyampaikan permintaan maaf atas nama almarhum. Beliau lalu meminta doa semuanya yang hadir dan memohon pada Yang Maha Kuasa semoga almarhum mendapat pengampunan, ketenangan serta juga tempat yang layak di Sisi-Nya.
Setelah pemakaman selesai, satu persatu orang pergi meninggalkan area kuburan.
Hujan perlahan juga berhenti. Sudahi kesedihan mengiringi seorang insan manusia yang baru saja mati.
Tito masih berdiri di samping mas Soleh dan Afif. Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya mendekatinya seraya berkata, "Den Sakuntala, Tuan Besar menunggu Aden!"
Tito menoleh kanan dan kiri. Memastikan kalau bapak-bapak itu bicara padanya.
Sakuntala? Siapa itu Sakuntala? Tanya hati kecil Tito. Cukup lama ia bengong sampai akhirnya memberi kode dengan menunjuk telunjuk pada dirinya sendiri.
"Iya, Aden Sakuntala! Tuan menunggu di mobil!"
Tito akhirnya menyadari, kalau Sakuntala itu adalah Sakur. Karena Mas Soleh menyikut lengannya sambil berbisik, "Sudah, sana! Siapa tau ada job gede!"
Tito hanya tersenyum kecut.
Job gede, ya?! Hiks, apa sih job gede tukang gali kubur?
Tito mengekor bapak-bapak yang mendatanginya barusan. Menghampiri sebuah mobil mewah Lamborghini Avendor SVJ.
Gokiiil!!! Yang naik mobil malah aki-aki!!! Mirip bang Hotman Paris banget dandanannya cuma lebih tua! Baju branded, jam tangan mahal dan perhiasan melingkar di setiap jarinya yang sudah terlihat agak keriput!
Tito terperanjat. Kagum dan takjub sekaligus. Bisa-bisanya pria tua yang duduk di dalamnya yang memiliki mobil mewah terbatas produksinya itu. Ck ck ck... Ini mah kayanya bukan kaleng-kaleng! Tujuh turunan mungkin ga bakalan melarat macam kehidupan keluarga Bang Sakur! Gumam Tito dalam hati.
"Kau sudah berfikir untuk pulang ke rumah?"
Tito termangu. Pertanyaan yang membuatnya berfikir berkali-kali. Ada apa antara Bang Sakur dan bapak tua yang keren ini?
"Pulanglah! Papi dan Mami memaafkanmu!"
Hah?!?
Ternyata Tito menyadari satu hal.
"Sebelas tahun Papi rasa bisa membuat mata dan hatimu terbuka. Bahwa hidup tak melulu cinta. Apalagi rumah tangga. Harta, uang... Teramat diperlukan untuk menunjang kebahagiaan. Sekarang kau sadar khan? Pulanglah! Ceraikan istrimu! Mami menerimamu kembali ke rumah!"
Rahang Tito mengeras. Ia akan bersikukuh mempertahankan prinsip hidup yang diyakininya.
"Kenapa? Kau sudah rasakan bagaimana rasanya jadi orang miskin! Kau udah menelpon Mamimu kemarin dan Kau menangis kalau Kau sudah lelah dengan kemiskinanmu menikah dengan Sabrina!"
Oh... Ternyata, begitu rupanya!
"Maaf...! Kemarin Saya cuma sedang merasa sangat lelah. Tapi hari ini, Saya melihat sendiri, bukan Saya saja yang menderita, Pa! Tapi Sabrina juga. Apalagi kini kami sudah punya dua anak!"
"Jangan takut! Masa depan anak-anakmu, Papi yang tanggung! Asal kau ceraikan Sabrina! Dia tidak sepadan denganmu yang berdarah bangsawan! Dia membawamu pada penderitaan hidup!"
"Maaf, Papi! Saya tetap akan bersama Sabrina. Meskipun kami hidup susah, tapi Saya bahagia."
"Bullshiiiit! Cinta membutakan matamu!!! Lihat dirimu, Sakuntala! Lihat!!! Bajumu jelek, tubuhmu juga rusak karena harus kerja keras demi menghidupi Sabrina yang sekarang sering sakit-sakitan. Tidakkah kau sadari itu?"
"Iya, Papi! Aku memang sangat keras dalam bekerja. Aku memang dituntut harus menghidupi istri dan anak-anakku! Tapi Aku bahagia! Aku senang, anak istriku menyayangiku setiap hari setiap waktu! Walau kami harus makan sekali sehari, walau kami harus membagi empat mi instan sebungkus, tapi kami bahagia! Papi lihatlah! Betul, kami hidup dalam kemiskinan. Betul memang, kami dalam penderitaan. Tapi setiap hari kami tertawa bersama, bergembira meski di atas luka. Kami bahagia, Papi!"
Tito menoleh ke arah Sabrina yang datang dengan diapit kedua anaknya.
Tito mencium punggung tangan Papi Sakur Sakuntala. Dia mengangguk hormat dan berlalu pergi. Berjalan pelan melangkah menuju anak dan istrinya.
"Dasar anak bodoh! Kau lebih memilih hidup susah ketimbang hartaku yang berlimpah ruah! Dasar bodoh!!!"
Pria tua itu berteriak menangis. Memaki dan menghardik Tito yang berlalu meninggalkannya demi untuk menghampiri istri dan anak-anak Sakuntala.
"Mas...! Kasihan Papi dan Mamimu! Pergilah! Pulanglah pada mereka! Aku ikhlas, Mas! Asalkan jangan bawa anak-anak kita turut bersamamu! Aku bisa mati jika tanpa mereka!"
Tito terenyuh mendengar ucapan pelan Sabrina. Dipeluknya perempuan bertubuh kurus itu dengan airmata yang berurai.
"Jangan ucapkan apapun, Sabrina! Aku tidak akan meninggalkanmu! Aku tidak akan meninggalkan istri dan anak-anakku!"
Tito dan Sabrina saling berangkulan. Mereka mengapit putra-putrinya yang turut terisak menangis.
Hari ini, Tito yang seorang pria berumur 26 tahun kembali memetik sebuah pelajaran hidup. Bahwa hidup memang keras.
Uang dan juga harta memang sangat penting untuk menunjang kebahagiaan. Tetapi keharmonisan pasangan, pengertian dan kebaikan hati pasangan hidup adalah yang utama. Pasangan yang mampu memberikan dorongan serta support dirinya untuk terus survive menaklukan dunia. Dan dengan bangga menepuk dada 'Akulah Sang Juara'.
Tito teringat pepatah, Di Balik Pria Sukses Ada Wanita Hebat.
Tito berharap jika tahun-tahun belakangan ini ia dan Sabrina hidup susah, moga tahun berikutnya mereka hidup cukup dan tetap bahagia. Aamiin...
"Ayo kita pulang!"
"Ayooo!!!" Sabrina menguatkan Tito dengan senyuman.
"Ayo, ayo! Vitaaa... Ayo kita balapan lari!" teriak Adi pada adik perempuannya.
"Jangan lari, jalanan becek, nanti jatuh!" larang Sabrina tapi segera dicegah Tito.
"Biarkan mereka berlari! Cukup doakan, semoga mereka tidak sampai jatuh. Dan kalaupun sampai terjatuh, doakan mereka bisa bangkit kembali dan berdiri serta berjalan lagi!"
Gokil. Kata-kata gue, teramat bijaksana! Tito tersenyum dalam hati.
Sabrina mengapit lengannya hingga menempel buah dad*nya. Tito langsung merinding dan memejamkan mata.
Ya Tuhan! Jangan biarkan aku khilaf dan jadi insan bodoh yang melakukan perzinahan! Tolong ingatkan aku selalu!
Tito tak ingin berbuat lebih ketika dirinya sedang menjalani tugas, seperti ketika dirinya menjadi Bimo Argo dan menggauli istri dari pria tersebut.
Matahari kembali bersinar cerah. Senja perlahan menyapa hati mereka yang mendamba hidup bahagia meskipun tinggal di rumah yang sangat sederhana.
...-BERSAMBUNG-...