
Tito mengikuti motor Ridho yang ada didepannya. Mereka meliuk-liuk bermain dijalanan ibukota yang sedikit berdebu karena sudah masuk musim kemarau.
Mereka memasuki sebuah kawasan pembangunan perumahan yang masih terbengkalai pihak pengembang.
Tito hanya mengekor. Meski hatinya bingung, kemana Ridho membawanya pergi. Dan sepertinya ini bukan jalur kesekolah mereka.
Ridho berhenti di sebuah bangunan yang sudah jadi tapi belum beres. Masih berbentuk semi permanen bangunan tembok batako saja.
Ada beberapa motor. Satu, dua... sembilan. Jadi sebelas dengan motor Cakil dan Ridho.
Cakil menghela nafasnya. Mengatur sedikit alur pernafasannya. Guna menghadapi bocah-bocah tanggung yang lumayan banyak sepertinya yang ada didalam bangunan itu.
Meski usianya telah dewasa, tapi ziper juga ia jika harus berada ditengah keramaian anak-anak remaja. Takut juga ia tak bisa mengimbangi obrolan mereka yang kadang tak bisa Tito prediksi kemana alur ceritanya.
"Dho! Tunggu gue, oi!!!"
"Hadeeeuh! Lu lelet kayak anak perawan yang lagi datang bulan! Buruan, Bambang!!!"
Hadeuh, ni bocah!
Tito tak berkata-kata. Hanya mengekor Ridho memasuki bangunan yang terbengkalai itu.
"Cak! Kemana aja lu? Baru nongol!"
Tito tersenyum kaku. Mirip kanebo lama yang udah kering. Ia pura-pura sok akrab sambil melambaikan tangan kanannya kearah pemuda tanggung yang menegurnya itu.
Benar saja, perkiraannya. Ada sekitar 18 anak berseragam sekolah didalamnya. Ditambah ia dan juga Ridho, menjadi 20 orang.
Salah seorang dari mereka membuka ikatan sebuah karung beras yang bersender ditembok samping mereka.
Ada clurit, parang, pisau jagal sampai pisau lipat. Bahkan beberapa gir motor yang dimodiv dengan gesper identik para pelajar.
Eh??? Buat apa itu semua???
Tito termangu.
Sepertinya... Akan ada kekerasan nantinya!!! Tawuran!!!!!!!!!!!!
Sepertinya!!!
Astaghfirullaaah... Aaarrrgggh...
"Klean mo tawuran ya?"
Hening seketika. Semua pasang mata tertuju pada Tito. Membuat Tito merinding juga mendapatinya.
"Hahaha...!!!" Suara tawa mereka kompak menggema. Bahkan ada beberapa orang sampai terbatuk-batuk saking serunya tertawa terbahak-bahak.
"Plis, dengerin saran gue oi!! Mending kita semua gas pol kuy ke sekolah! Kita belajar aja yang bener, gaess! Belajar sampe lulus sekolah dan dapat nilai baik. Dapet pujian guru dan orangtua pastinya!!"
"Hahaha... Si Cakil kesurupan setan tobat apa setan ustad, ya?"
"Hei klean istighfar!!! Ga da ustad jadi setan!!!"
"Hahaha... ******, candaan lu damage abis, Cak!!! Hahaha... Ikut stand up komedi masih buka ga ya?!? Hahaha... anjriiiit!!! Gue ampe kebelet pipis gegara si Cakil!!!"
"Tujuan klean tawuran itu apa, boss? Mempertahankan harga diri sebagai pelajar bergensi kah? Atau hanya solidaritas sesama pelajar yang ga pake otak waras? Bikin keonaran di jalan raya, mengganggu kenyamanan sesama pengguna jalan. Apa manfaatnya?"
Tito berusaha memperbesar suaranya. Meski agak terdengar gemetar. Tapi didunia nyata, ia adalah orang dewasa 25 tahun. Yang harus dan merasa wajib menuntun dan mengingatkan para bocah tanggung dihadapannya ini yang hendak melancarkan aksi tawurannya.
"Cak! Sejak kapan lu ambil kursus ceramah? Lu sekarang udah pensiun modiv gesper kepala gir ya? Banting stir jadi ustad abal-abal?"
"Bukan, bro! Gue cuma pusing aja sama kelakuan kita yang ga guna selama ini. Ga ngerti lagi mau gimana arah hidup tujuan kita!"
"Maksudnya?"
"Maksud gue, kita semakin ga jelas! Kumpul-kumpul gini ga ada gunanya. Ga ada manfaatnya. Malahan bikin onar dan kerusuhan. Orang yang ga bersalah malah kena sasaran! Bolos sekolah, mempermalukan nama baik sekolah dan juga orangtua. Itu kalo bukan kegiatan ga guna, apa namanya?"
"Woooi.....anjiii*m....hahaha...!!! Nasehat Cakil Tingkat Tinggi! Hahaha... over dosis minum apaan lu, Cak? Bukannya elu justru yang selalu ngajak kita-kita cabut n' nyerang anak SMK Pegassus yang sering bully katain sekolah kita sekolah kandang burung. Lupa lu sama omongan lu yang lalu?"
???????
Ya Allah, Gusti!!! Sakit kepala Tito tiba-tiba.
Ucapan salah seorang dari mereka membuatnya lebih banyak berfikir. Berusaha tenang dalam situasi yang agak memanas. Panas karena nasehatnya yang mungkin dianggap bualan bagi mereka.
Tapi yang pasti, yang harus ia lakukan adalah mencegah para bocah ini untuk melakukan penyerangan yang mengakibatkan tawuran.
Hhh... Tito menghela nafas panjang.
"Kemon, bro!!! Anak-anak Pegassus udah pada otewe ke jalur lintas nih! Eksekusi sudah diwaktu yang tepat! Kuy, cabut!!!"
Tito tersentak kaget. Satu persatu dari mereka mengambil senjatanya masing-masing dan keluar bangunan menuju kendaraan sepeda roda dua mereka.
Bahkan beberapa dari mereka langsung tancap gas menjalankan kendaraannya berlalu pergi.
Mungkin mereka ketua genk ini. Tito bingung dan hanya bisa berteriak kesal melampiaskan emosinya.
"Aaarrrgghhh...!!!"
"Cak! Kuy!!!"
Ridho membetot kerah kemejanya membuat Tito pun akhirnya tanpa sadar berlari mengejarnya dan menghidupkan mesin motornya.
Ya Allaaah... Ampunilah dosa-dosa mereka.
Tito mengimbangi laju kendaraan teman-teman Cakil yang ada didepannya. Sesekali ia berteriak bagai orang gila.
"Woooy, gaeeesss!!! Balik arah, wooooy setaaaaaan!!!!!!! Jan antar nyawa ditawuran wooooy!!!!!!!!"
Pusing ngegeremet, entah apa lagi bahasanya. Mencoba menyalib satu dua motor kawanannya guna menghalangi mereka tawuran.
"Plis woooy!!! Balik araaaaaah!!!!!!!"
Percuma Tito teriak dan berusaha menyadarkan mereka. Karena mereka sudah ada di arena 'tawuran' yang dipenuhi ranjau timpukan batu dan bocah-bocah sepantaran Cakil yang ternyata ada beberapa puluhan.
What???... Ya Allah gustiiiiiiii...
-Bersambung-