
Malam ini Tito tidur dengan hati tenteram. Berharap esok pagi ia bangun dengan tubuh lebih baik lagi. Atau bila mungkin, ia ingin kembali pada raganya sendiri.
Tito sangat merindukan kehidupannya kini.
Padahal dulu ia sering mengkhayal, menjadi orang lain dengan kehidupan yang lebih baik dari kehidupannya sendiri. Yang penuh derita dan airmata baginya.
Tapi ternyata, setelah kini ia rasakan, menjadi diri sendiri itu adalah yang paling baik.
Dan benar kata pak Ustad guru ngajinya dulu, "Allah sudah menciptakan diri kita sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangan, disesuaikan dengan kapasitas diri kita yang memang telah Allah rancang dengan begitu sempurnanya."
Keesokan harinya Tito terbangun dengan wajah terasa lebih segar. Dikamarnya tidak ada cermin besar. Hanya ada sepotong kaca itupun sudah tinggal setengah kemungkinan karena jatuh dan terbelah.
Ia berusaha melihat seraut wajah milik "Wendi' dipantulan cermin itu.
Wajah lelaki dewasa 28 tahun.
Sebenarnya wajahnya cukup manis. Lumayanlah kalau dalam pandangan Tito. Lebih diatas dia sedikit nilai tampannya.
Tapi entah kenapa Wendi bisa sampai diputuskan Siska secara sepihak tanpa perasaan. Apa ada yang salah dengan sifat Wendikah? Sehingga mereka bisa putus dan Siska menikah dengan orang lain?
Tito menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia tak ingin semakin pusing dengan semua pertanyaan yang menumpuk dikepalanya.
Saat ini fokusnya hanyalah untuk dirinya dan juga keluarga barunya.
Menilai kalau dulu Wendi adalah karyawan sebuah perusahaan besar sekelas Astr*. Sudah pasti gaji bulanannya pun cukup terbilang bagus dalam ukuran UMR. Entah juga!
Tapi mengapa dikamarnya yang kecil ini, nyaris tak terlihat barang mewah sedikitpun? Bahkan tv yang menempel didindingnya hanya pajangan. Tidak bisa distel karena sudah rusak.
Menilik cerita papanya Wendi tadi yang katanya Wendi adalah sarjana Tehnik, harusnya, laptop, tape mix sound sistem atau minimal arloji harusnya ada diatas meja belajar usang yang penuh coretan itu. Tapi semua itu tidak ada.
Hhh...
Tito membuka beberapa buku yang tergeletak tak beraturan diatasnya. Buku bacaan komik semua.
Ternyata meskipun usianya sudah 28 tahun, Wendi masih suka membaca buku-buku komik.
Usia memang tidak bisa menentukan tinggi rendahnya tingkat kedewasaan.
Buktinya, Wendi. Padahal umurnya 3 tahun kurang diatas Tito. Berpendidikan tinggi, sarjana teknik pula. Berbeda jauh dengan Tito yang hanya lulusan SMU saja. Tapi Tito jauh lebih dewasa. Mungkin karena kehidupan yang keras menempa Tito.
Itulah hidup. Mengapa banyak sekali orang aneh didunia ini. Sangat tidak mencerminkan dengan yang seharusnya sesuai umurnya. Mungkin karena mereka terbiasa hidup dengan mudahnya.
Tito akhirnya menemukan sebuah handphone tergeletak diujung bawah meja. Terlihat mati tak bisa dibuka. Sepertinya batereinya habis.
Ia mencari kesekeliling kamar kecil itu. Siapa tahu ada chargeran yang bisa ia gunakan untuk men-charger hape milik Wendi itu.
Setelah cukup lama membongkar isi laci dan lemari baju Wendi, akhirnya Tito menemukan apa yang ia cari.
Segera di chargernya hape Wendi yang dingin.
Agak lama karena sepertinya seharian telepon seluler itu dibiarkan tanpa batere.
Dan ketika hampir setengahnya, karena rasa penasaran yang tinggi pada diri Wendi, Tito menyalakan hape itu.
Tring
Tring
Tring
Ada beberapa notice pesan masuk di aplikasi What'App nya.
Dari : My Lady
Abang, Siska tunggu didepan jalan gang.
Abang!! Tolong buka hapenya! Siska pengen ketemu abang! Pliss
satu lagi pesan,
Abang Wendi! Kumohon, bang...
Ada pemberitahuan juga 'panggilan tak terjawab' ada 13 kali.
Treeet... Treeet... Treeet...
Hampir Tito melompat karena kaget mendapati handphone yang dipegangnya tiba-tiba berdering.
...[Hallo!? Abang? Abang Wendi?]...
"Iya. Wendi disini!" jawab Tito agak gugup.
...[Siska sekarang ada diujung jalan, Bang! Ada di warung kang Tomi! Siska mau ketemu abang!]...
Ujung jalan? Warung Kang Tomi? Dimana itu? Tito tidak tahu.
...[Hallo? Bang? Kesini, Bang! Cepetan! Siska nunggu Abang Wendi datang!]...
Tut tut tut tut
Gadis itu mematikan ponselnya.
Tito hanya termangu. Fikirannya melanglang, mengingat-ingat sesuatu.
Bukankah gadis yang bernama Siska ini minggu kemarin baru saja melaksanakan pesta akad pernikahannya?
Bahkan telinganya sendiri masih normal mendengar suara musik yang menggetarkan gang perumahan mereka karena ternyata mereka masih dibilang tetanggaan. Karena masih satu RT.
Lalu buat apa ia menelpon Wendi, menchat bahkan mengajak Wendi untuk ketemuan?
Apakah hal ini pantas? Sedangkan Siska kini berstatus sebagai 'istri orang' dan hubungannya dengan Wendi sudah berlalu sejak 3 bulan lalu, kata mamanya Wendi.
Tito sebenarnya enggan mengikuti perintah perempuan yang bernama Siska itu. Hati kecilnya menolak karena 'itu berbahaya'. Tapi dia juga penasaran pada apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi pada diri 'Wendi'.
Setelah mengganti celana boxernya dengan celana jeans yang menggantung dikapstok kamarnya, Tito bergegas turun kelantai bawah rumah Wendi.
Rumah sepi. Papa Wendi sepertinya sudah berangkat kerja dan mamanya tengah pergi kepasar. Mungkin.
Tito mencoba mengingat jalan keluar gang. Menengok kanan kiri gang yang sepi. Ia berjalan agak hati-hati karena khawatir ada orang yang mengenalnya dan memanggil namanya.
Gang semakin menjauh mendekati jalan raya yang mulai terdengar bising suara roda-roda kendaraan yang lalu lalang.
Seorang gadis berdiri diseberang jalan raya, didepan sebuah warung nasi sederhana sambil melambaikan tangannya pada Tito.
Sepertinya, itu dia gadis yang bernama Siska! kata hati Tito.
Siska seorang diri. Padahal kini Siska statusnya baru saja berganti menjadi 'istri orang'.
Kemana suaminya?
Apa tidak apa-apa kalau Tito menemui Siska berduaan begini?
Tidakkah Siska takut pada pandangan orang jika melihat mereka berduaan walaupun hanya mengobrol saja?
Padahal mungkin sekitaran gang mengenal mereka berdua. Apakah tidak akan terjadi sesuatu?
Tito hanya menelan salivanya. Menengok kanan kiri bersiap menyebrang jalan raya.
Gadis itu mendekat kearah Tito yang sudah sampai ditepi sebrang jalan.
Tito menelan salivanya. Gadis yang cantik. Pantas Wendi gelindingan jungkir balik mengorbankan semua harta dan perasaannya.
DING
DING
(HOST MODE ON SIAGA)
Ada apa? Kenapa harus siaga?
SYSTEM : (LAWAN TERDETEKSI MEMAKAI SUSUK)
Hah?!? Koq system bisa melihat hal goib juga.
(SYSTEM BISA MENDETEKSI KEMAMPUAN TELEPATI DAN ILMU HITAM YANG ADA DI TUBUH LAWAN HOST)
Lawan? Jadi... Perempuan ini adalah lawanku sekarang? Upsss... Ternyata lawanku bukan saja lelaki dan harus baku hantam pula rupanya.
(SYSTEM MENDETEKSI PEREMPUAN YANG ADA DIHADAPAN HOST ADALAH LAWAN DARI ORANG YANG KINI RAGANYA SEDANG HOST GUNAKAN)
(APAKAH HOST INGIN MENGGUNAKAN KEMAMPUAN MENANGKAL SUSUK PEMIKAT LAWAN?)
Oh oke. Tito hanya bisa merenung.
"Abang Wendi!"
Gadis itu, Siska namanya, menarik tangan Tito dan masuk kedalam saung warung yang berterpalkan warna biru. Mungkin ini warung Kang Tomi! gumam Tito dalam hati.
Tito menurut. Ikut duduk dikursi panjang disamping Siska.
"Bang! Yang sabar ya? Bukan maksud Siska melukai hati abang!"
Hm... Perempuan ini bermulut manis rupanya! hati kecil Tito berkata.
"Ada apa Siska memanggilku?"
"Abang? Abang koq nada suaranya dingin banget sih sama Siska? Siska sedih ish dengernya..."
"Siska! Maaf, nanti suamimu marah. Kamu baru saja menikah kemaren. Jadi, lebih baik jangan lagi hubungi aku. Nanti suamimu salah faham!"
"Abang? Abang beneran ngomong gitu sekarang? Bukannya, abang kemaren-kemaren yang selalu bilang, Siska jangan pernah tinggalin abang, meskipun Siska udah jadi milik orang?! Abang sekarang koq bisa ngomong gitu?"
Waduh??? Ini perempuan, ternyata ya?!?
"Suami kamu kemana?"
"Ada, masih tidur!"
Tito hanya memandang Siska dengan tatapan tak mengerti. Suaminya masih tidur, tapi dia menchat lelaki lain dan mengajaknya ketemuan yang notebenenya adalah mantan pacarnya yang belum bisa move on.
Ada apa? Apa Siska menikah karena perjodohan? Siska menikah karena paksaan orangtua? Atau karena kedua orangtua Siska dan Wendi yang konon kabarnya tidak pernah akur sesama tetangga?
Entah! Tito belum mendapat jawabannya.
"Abang! Kita ke mall yuk? Ada lipstick keluaran warna terbaru bang!"
Tito hanya bengong. Tak bergeming. Meski mungkin dia jatuh cinta pada wanita ini, tapi akal sehatnya berkata, untuk apa menurutinya? Toh dia itu 'bukan miliknya'. Bahkan sangat berdosa jika dia mengikutinya.
"Siska! Kenapa kamu menikah dengan lelaki lain? Kenapa kamu ga tunggu aku melamar kamu dan kita jadi sepasang suami istri yang saling mencintai?"
Siska diam. Mematung. Tak bisa berkata-kata. Entah apa yang ada difikirannya. Tito tidak bisa menerka karena wajah Siska yang terlihat begitu datar meski agak terkejut.
"Khan aku udah bilang, mamaku dan bapaku ga ingin kita lanjut kejenjang pernikahan, bang!"
"Kenapa? Bukannya kita udah pacaran lama? Bahkan kita juga udah nabung bersama buat ngadain pesta pernikahan kita? Bahkan sekarang, aku yang miskin ga punya apa-apa, juga ga punya kerjaan. Lalu buat apa sekarang kamu datangi aku lagi? Buat menjadi teman saja? Atau apa?"
Siska terlihat menunduk. Hingga bisa Tito dapati juga, bulir-bulir airmatanya menetes dari kedua bola matanya yang indah.
Tito melihat seorang lelaki masuk kedalam saung terpal.
Mungkin ini yang namanya kang Tomi, pemilik warung ini! terka hati Tito.
Tito mengangguk memberi hormat. Lelaki yang mungkin usianya sekitar 35-40 tahun itu tersenyum padanya. Berarti ia memang mengenal Wendi dengan baik juga, sepertinya.
"Mending kalian jangan ketemuan disini! Akang ga mau warung akang disangka sarang dosa, jadi tempat pertemuan terlarang kalian!"
"Iya, kang maaf ya!?"
Tito hendak pergi keluar saung. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik jemari Siska yang begitu lembut terasa.
"Abaaang!" suara Siska merajuk terdengar sangat indah ditelinga Tito. Membuatnya kembali duduk dikursi panjang.
Hanya suara 'ckckck' milik kang Tomi yang mengganggu kedua insan yang kini belum jelas status hubungannya itu.
"Siska!... Pulanglah! Buatkan suamimu kopi dan sarapan. Meski kamu tidak cinta dia, bukan berarti kamu bisa seenaknya memperlakukan dia seperti itu. Dia juga tidak punya salah meskipun dia menikahimu yang tidak punya cinta padanya. Tapi, aku juga lelaki Siska! Bagaimana rasanya kalau aku adalah dia!"
Tito berdiri. Melangkah pergi meninggalkan Siska yang masih termangu.
Hati kecil Tito mungkin menyesal telah berani mengucapkan kata-kata pedas seperti itu pada seorang perempuan. Yang mungkin benar-benar cinta Wendi dan sangat Wendi cintai.
Tapi jika pertemuan ini dilanjutkan, semua sama 'tidak benarnya'.
Tito pulang kerumah Wendi dengan perasaan tak nyaman.
Entahlah, mengapa hatinya terasa dilanda kesedihan yang mendalam. Mungkin juga ini adalah perasaan terluka dijiwa Wendi yang menyatu dalam jiwanya. Membuatnya tidak tahu mengapa airmatanya mengaliri pipinya.
Tito mengeram dalam kamar. Hatinya terenyuh. Melihat kondisi Wendi yang sangat lemah dan begitu terpuruk itu.
Bahkan ditengah kelemahannya, Siska masih berusaha melakukan tipu daya padanya. Masih berusaha menggodanya dengan kelemahlembutannya yang membuat Wendi susah move on.
Apakah perempuan semua sama seperti itu? Selalu memainkan sisi kelemahannya untuk menarik perhatian kaum adam? Apakah sebodoh itu kami, kaum Adam dimata kalian wahai kaum Hawa?
DING
(HOST BERHASIL MENDAPATKAN SATU BUAH SEPEDA MOTOR YAMAHA R15)
Woaaa!!!... Yang bener nih? Terus, motornya mana sekarang?
(HADIAH TERSEBUT KINI SUDAH SYSTEM KIRIM KE ALAMAT HOST YANG ASLI LEWAT PAKET)
Hm. Thanks, system! Hiks... Aku beneran kepingin kembali ke kehidupan normalku.
(HOST AKAN KEMBALI JIKA MISI BERHASIL DISELESAIKAN)
Hiks. Berarti misi ini belum selesai nih?
(SEPERTINYA SIH BEGITU. SABAR HOST! NAMANYA UJIAN, PASTI BANYAK COBAAN. KALAU BANYAK CUCIAN, NAMANYA LAUNDRY KILOAN)
Huaaa... Ini system muridnya komedian Komeng ya?
(BUKAN. SYSTEM ADALAH SYSTEM YANG DIBUAT OLEH ILMUAN GABUT YANG HAUS AKAN HIBURAN. JADI, DEMI MENGHIBUR HATI YANG SEPI KARENA JARANG MELAKUKAN FACE TO FACE DENGAN LAWAN JENIS, SANG ILMUWAN PENCIPTA SERING STAND UP KOMEDI SENDIRIAN. JADI AGAK RECEH)
???
-Bersambung-