SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
KISAH WENDI SELESAI


"Wendiii...!!! Keluar kau!!!"


Suara ribut-ribut diluar rumah Wendi. Membuat Tito bangkit dari tidurnya. Matanya memandang kearah jam dinding. Pukul 02.14 siang.


Tito segera bangun dan bergegas turun kelantai bawah rumahnya.


Seorang pria berdiri dengan wajah terlihat sangat marah. Tiba-tiba ia menerjang tubuh Tito dan...


JLEB


Apa ini?


Apaan ini???


Tito menatap wajah pria itu tak berkedip. Hanya pandangan penuh pertanyaan tak mengerti. Apa yang telah terjadi? Mengapa ia seperti mengalami dejavu?


Apakah ini adalah kisah tragis Wendi? Hingga perjalanan hidupnya harus berakhir disini? Karena apa?


Tito belum bisa menerka cerita hidup Wendi sepenuhnya.


Apa salah dan kekurangannya, hingga hidup Wendi berakhir tragis dan hanya derita. Derita karena cinta?


Airmata Tito meleleh. Ia menangis tanpa suara.


"Ya Allaaah....Wendiii!!!"


Sayup terdengar suara teriakan mamanya Wendi. Tito mulai merasa tenang.


Mama Wendi memeluk tubuh Tito yang bersimbah darah dibagian dadanya. Meraung-raung ia mendapati tubuh anaknya yang luka parah akibat senjata tajam yang ditusukkan seseorang kedada kanannya.


"Mama! Maafin semua kesalahan Wendi, ma! Wendi minta maaf, belom bisa membahagiakan mama juga papa!"


"Siapa yang buat anakku jadi seperti iniii... ??? Tolooong, tolooong!!!"


Tito mulai terpejam. Merasakan sesak dadanya yang makin hebat. Berdoa pada Pencipta-Nya semoga nyawanya dicabut dengan tanpa rasa sakit berlebih.


Berharap Tuhannya mengampuni segala dosanya.


Lagi dan lagi, fikiran Tito melayang pada kedua orangtuanya. Pada ayah dan juga mamah tirinya. Pada adiknya Taufik serta istri dan anaknya yang sedang lucu-lucunya.


Tito juga teringat Rasyid. Kawannya itu padahal sedang PDKT dengan anak pemilik warung kopi dibelakang klinik akupuntur tempat mereka bekerja.


Semoga Rasyid jadian dengan Dwi dan hidup bahagia hingga naik kepelaminan.


DING


DING


DING


(HOST GAGAL DALAM MISI KEDUA)


Huaaa... Aku lupa kalau aku harus menyelamatkan nyawa manusia yang kurasuki raganyaaa!!! Tito menutup wajahnya. Kesal juga sebal.


Jlegeeerrr


Tito tersentak mendengar suara petir dan kilat yang menyambar.


Ia tersentak sekali lagi. Mendapati dirinya yang tengah duduk diatas ketinggian gedung tua.


Tubuhnya basah air hujan. Dan tangan mungilnya menggigil kedinginan.


Eh? Tangannya koq mungil begini?


Koq?


Eh?... Ini seperti jemari tangan bocah cilik?


Terlihat keriput karena kelamaan dibawah derasnya guyuran air hujan.


Tito segera beranjak. Masuk kedalam gedung tua yang terlihat gelap dan menakutkan.


Sayup-sayup terdengar suara teriakan dan tawa anak-anak dilantai bawahnya.


Sepertinya ada yang sedang bermain sepak bola. Ada yang bermain lompat tali juga.


Tito menuruni anak tangga gedung yang kusam dan dipenuhi coretan serta tinta pilok tak puguh karuan.


Sesosok tubuh mungil, kurus dan penuh luka disekujur tangan dan kakinya. Ada luka bekas, ada luka yang masih baru juga.


Hhh... Apalagi ini??!


Tito hanya bisa menelan ludahnya dan menarik nafas panjang. Merasa kegetiran lagi karena kini ia ada didalam tubuh seorang bocah lelaki yang mungkin usianya sekitaran 12-14 tahunan.


"Hahaha... Si Uwing ga jadi bunuh diri! Takut lu ya denger suara geludug?"


Tito menatap bocah yang tertawa menunjuk kearahnya.


Bocah inilah sepertinya, kunci dari siapa anak yang kini ia rasuki raganya.


"Kenapa mesti bunuh diri? Bunuh diri itu dosa!"


Bug!!


Sebuah bola melayang tepat kedadanya. Membuat Tito merasakan sesak. Dan........... Ia pingsan semaput seketika.


"Uwiiing....!!! Bangun Wiiing! Hadeeeuh, ini anak nyusahin deh! Kalo mau mati, ya mati aja. Jangan nyusahin orang woy!!!"


Seperti berada dalam mimpi. Meski Tito pingsan. Tapi ia bisa melihat dan merasakan, banyaknya bocah yang membopong tubuhnya. Mengganti kaosnya yang basah dengan sarung bau tengik yang tergantung ditali rafia yang ada disekitaran gedung tua tak terpakai itu.


Ini bangunan tua. Sepertinya ini adalah tempat basecamp para bocah usia belasan.


Tapi kenapa bocah-bocah itu berada disini?


Bukannya berada dirumah masing-masing?


Apalagi, cuaca hujan deras dan petir kilat menyambar saling bersahutan.


Mengapa mereka malah asyik berkumpul digedung tua yang menyeramkan ini?


Bahkan... bukan saja anak laki-laki. Ada juga beberapa anak perempuan.


DING


DING


DING


(HOST MODE ON MISI SELANJUTNYA : MISI KE SEMBILAN PULUH DELAPAN)


Tito bangun dari pingsannya.


Didapatinya ia tengah dikerubuti bocah-bocah belasan yang memandangnya dengan tatapan beragam.


"Udah sadar lu, Wing? Mau minum? Nih... (Tito menyambar botol air mineral ditangan bocah itu saking hausnya) Itu boleh nemu diluar, ... bekas orang!"


Uhuuuk...!!! Tito terbatuk setelah mendengar bocah tadi mengatakan kalimat yang terdengar santai "bekas orang".


Hhh... Gimanaaa kalo ini minuman bekas orang yang berpenyakitan? Hadeeeuh, bisa-bisa tertular virus penyakitnya entar!


Tito duduk mematung.


"Nama aku siapa ya? Kalian siapa?"


Semua tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Tito. Bahkan 2-3 anak menubruknya, menindih dan meninjunya pelan. Membuat Tito meringis kesakitan.


Ini sudah menjadi kebiasaannya. Pura-pura lupa dan bertingkah layaknya orang amnesia guna mencari keterangan tentang jati diri orang yang ia rasuki raganya.


System, apa aku bisa mendapatkan keterangan darimu sebelum menjalankan misi? Coz dua misiku terdahulu gagal karena tidak tahu misi apa dan peringatan apa yang harus aku perhatikan.


(MAAF, HOST. KEMAMPUAN DAN KETANGKASAN ANDA MASIH DI BAWAH 20 %. JADI HOST BELUM BISA MENGGUNAKAN ALAT BANTUAN DARI SYSTEM. SELAMAT MENIKMATI)


Hiks. Memangnya ini layanan bioskop atau restoran ternama? Pake acara ucapan SELAMAT MENIKMATI!


(APAKAH SYSTEM HARUS MENGUCAPKAN SELAMAT 'MATI' LAGI)


Duh. Gabut sekali Andah! Gerutu hati Tito.


(NAMA SAYA SYSTEM, BUKAN ANDAH)


???


-Bersambung-