SYSTEM : Berganti Seratus Wajah

SYSTEM : Berganti Seratus Wajah
EPISODE BIMO ARGO DAN AKHIR KISAHNYA


Tito termangu sendirian di atas ranjang. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore.


Setelah pergumulan panasnya tadi siang dengan Rihana, istri Bimo Argo, ia masih merasakan bat*ngnya panas dan ngilu. Rihana menyep*ngnya terlalu kuat.


Seperti mimpi, ia menjadi pria dewasa yang sebenarnya. Merasakan barang berharganya memasuki tempat yang tidak seharusnya. Karena ia belum pernah menikah. Hhh...


Tito menyesal, telah menjadi manusia kotor yang sudah melakukan hubungan diluar nikah. Hati kecilnya meminta pengampunan Tuhan.


Walaupun saat ini ia adalah Bimo Argo, tetapi tidak sepantasnya juga meladeni permintaan Rihana berc*nta sampai tiga ronde.


Tapi... Antara rasa bersalah dan dosa yang kini melingkupi hatinya, Tito juga tak bisa membohongi perasaannya yang senang.


Ia belum pernah merasakan kenikmatan surga dunia seperti saat ini seumur hidupnya.


Sejak kecil hingga tumbuh remaja, hidupnya selalu dipenuhi dengan kesedihan bahkan kepahitan.


Pernah sekali mengungkapkan rasa sukanya pada gadis manis yang satu kelas dengannya di masa SMP kelas tiga, justru sakit hati yang ia dapatkan dan masih membekas sampai saat ini.


"Eh, ngaca dulu dong sebelum elo bilang suka sama gue! Cuih! Berani banget sih lo bilang suka sama gue dan minta balasan jawaban! Ga! Gue sama sekali ga suka sama elo! Gue baik cuma karena lo baik, sering kasih contekan PR aja koq! Please ya Tito Juling, jangan kege'eran jadi cowok!"


Sejak saat itu, Tito tak pernah punya keberanian mendekati gadis-gadis yang disukainya. Sebelum mengungkapkan rasa itu, ia akan berfikir ulang beribu-ribu kali. Tak ingin sakit hati, tak ingin semakin terluka.


Jadi, cukup disimpan saja sendiri. Rasa suka itu dalam hati.


............


Tito keluar dari kamarnya, setelah mandi dan memakai pakaian yang tersedia di dalam lemari yang ada di ruang ganti mewah disamping kamar tidurnya.


Benar-benar seperti hidup dalam dunia novel yang berkisahkan tentang gaya hidup seorang CEO. Pakaian yang tergantung di capstocknya pun semua pakaian kerja bermerk semua.


Tito sampai bingung memilihnya dengan mata membulat terpana.


Kini ia sudah berpakaian lengkap ala mafia. Kemeja putih, rompi, jas kombinasinya ditambah dasi.


Tito tak bosan mematut dirinya di depan cermin.


Sungguh beruntungnya pria ini! Bertubuh nyaris sempurna, tampan, keren, banyak uang dan juga memiliki perusahaan.


Tetapi tetap saja ada yang kurang. Istri yang disinyalir tidak setia dan mendua dengan pria lain selain dirinya. Ck. Dunia ini dipenuhi orang-orang yang semakin gila!


Kini Tito mengelilingi rumah besar milik Bimo Argo. Duduk manis di meja makan dan beberapa pelayan melayaninya dengan sopan.


Seorang pelayan yang sudah ia kenal tersenyum manis pada Tito.


"Selamat malam, Tuan!" sapanya ramah.


"Malam! Oiya, siapa namamu?" tanya Tito seperti biasa.


Gadis itu seperti bingung dan menggaruk-garuk kepalanya sembari menyeringai.


"Aulia, Tuan!"


"Terima kasih Aulia! Oiya, dimana istriku?"


"Nyonya... Pergi keluar, Tuan!"


"Kemana?"


"Sepertinya ke kantor agency untuk pemotretan, Tuan!"


"Apa Nyonya memang pergi keluar setiap hari?" tanya Tito, berusaha menyelidiki sesuatu yang tak ia ketahui.


"Apa Tuan lupa? Nyonya khan memang bekerja di malam hari dan pulang pagi hari!?"


Hah?!? Kerja apaan? Lha?? Khan suaminya holang kaya? Mengapa istrinya tetap bekerja, dimalam hari pula? Kerja apa malam sampai pagi begitu?


"Nyonya kerja apa?"


"Eh? Lho? Tuan khan tahu, Nyonya kerjanya apa?!" Aulia malah balik tanya. Tito jadi bingung dibuatnya.


"Ya Nyonya kerja apa?" tanya Tito lagi.


"Mm... Modeling, Tuan! Pemotretan, catwalk, undangan jamuan makan malam para pengusaha. Seperti itu, Tuan!"


Hm... Begitu rupanya. Ternyata Bimo Argo memiliki istri model yang cantik jelita dan super sibuk rupanya.


"Tolong tuliskan alamat kantor agency istriku, Aulia!"


"Eh? Bu_bukannya Tuan tahu tempatnya? Tuan sering ke sana juga setiap harinya selepas pulang dari kantor!"


Aulia menutup mulutnya karena merasa lancang kebablasan.


"Dengan siapa aku biasa kesana?"


"Pak Dedy supir pribadi Tuan. Kadang dengan Tuan Reyhan, aspri Tuan."


"Pak Dedy mana?"


"Ada di bawah, Tuan!"


"Bilang padanya, aku mau ke tempat kerja istriku!"


Tito bertingkah layaknya seorang CEO yang gagah perkasa. Aktingnya kini jauh lebih baik dari pertama kali ia masuk ke raga MC yang diperintahkan system.


Mulai dari anak sekolah, pria bujang dewasa, lalu anak kecil dan kini pria metropolis yang maskulin, Tito semakin dalam berkarakter memainkan peran yang ia dapatkan.


Bahkan hari ini Tito yang culun telah beranjak dewasa dan mendapatkan kenikmatan surga dunia dengan menyetubuhi istri dari MC yang kini diperankannya. Hhh...


...........


Pak Dedy mengantar Tito ke tempat Rihana bekerja.


Sebuah bangunan kokoh tinggi dan gelap. Seolah tiada penampakan aktifitas di dalamnya. Ternyata, ada bagian pintu rahasia yang menghubungkan dunia lain di dalamnya. Dunia aj*p-aj*p para pecinta kemaksiatan dan mafia-mafia kegelapan.


Tito yang sengaja minta didampingi pak Dedy untuk masuk ke dalamnya langsung termangu melihat pemandangan night club rahasia yang hanya orang-orang tertentu saja yang tahu.


Lampu diskotik yang berkerlap-kerlip membuat kepala Tito pusing. Ditambah musik hingar bingar dengan hentakan beatnya yang keras, semakin membuat Tito mengeryitkan dahi.


"Cari Rihana, Pak!" tugasnya pada Pak Dedy, supir pribadinya.


"Tuan Bimo! Selamat datang!"


Seorang pria berpakaian motif serba polkadot menyambut kedatangannya bak tamu agung.


"Silakan duduk, Tuan! Lama baru kelihatan. Sepertinya bisnis Anda semakin menggurita saja!" katanya bermulut manis.


"Aku kemari mencari istriku!" ujar Tito langsung pada intinya.


DING


(SYSTEM MENDETEKSI AKAN ADANYA KERIBUTAN)


Hah? Keributan apa?


(SYSTEM MENAWARKAN PERMEN PIL ILMU BELA DIRI SEHARGA RP. 500.000,00)


Duh! Lama-lama system seperti apoteker!


(AMBIL YA ATAU TIDAK)


Oke, aku ambil. Tapi, berapa total rekening tabunganku sekarang?


(REKENING TABUNGAN HOST SENILAI RP 11.100.000,00)


Hm. Baik. Terima kasih infonya.


DING


(PERMEN PIL DALAM STATUS PROSES)


10 %


20 %


30 %


40 %


50 %


60 %


70 %


80 %


100 %


(PERMEN BERADA DI SAKU DALAM JAS SEBELAH KIRI. SIAP DIGUNAKAN)


(ADA HADIAH BONUS BERUPA PISTOL REVOLVER KALIBER 38)


(AMBIL YA ATAU TIDAK)


Senjata Pistol untuk apa?


(JAGA-JAGA DIRI LAH HOST)


Hm. Lain kali saja. Aku tidak butuh senjata sepertinya. Terlalu berbahaya.


(AMBIL YA ATAU TIDAK)


Tidak.


(MISI LANJUTKAN)


Tito mendapatkan kode dari pak Dedy, kalau Rihana ada di lantai atas.


Mereka bergegas meninggalkan ruangan yang penuh kepulan asap rokok dan beberapa pria sedang asyik berbincang-bincang sambil menenggak minuman keras.


"Kemana, Tuan?" tanya pria yang akhirnya Tito prediksi seorang mucik*ri. Seolah sedang mencegahnya untuk pergi dari ruangan itu.


"Ke atas!"


"Tuan Bimo, ada barang bagus!" bisiknya seraya menekan dada bidang Bimo Aryo yang kini diperankan oleh Tito.


Tito menarik tangan yang nampak gemulai itu. Ia hanya menggunakan tatapan mata tajam, namun sang mucik*ri langsung ciut dan menyingkir perlahan.


"Ke arah sini, Tuan!" kata Dedy membuat Tito semakin panas emosinya.


"Dimana?"


"Di dalam kamar itu, Tuan!"


Arahan Dedy membuat fikiran Tito bercampur dengan fikiran kalut Bimo Argo.


Seketika Tito menendang pintu kamar yang bertuliskan angka 29 sampai pintunya terbuka lebar.


"Rihana!!!"


"Ma_mas Bimo???"


"Reyhan!!!"


Panas kelopak mata Bimo Argo. Sedih, kesal bercampur amarah melihat tubuh Rihana yang pol*s tanpa sehelai benang berada di atas tubuh asisten pribadinya yang sudah dianggapnya adik sendiri.


Seperti sebuah film kehidupan yang kembali diputar ulang. Tito menyaksikan perjuangan Bimo Argo yang mengangkat Reyhan dari kubangan lumpur jalanan dan memberinya banyak fasilitas atas nama kemanusiaan.


Reyhan, bocah tanggung yang hidup terlunta-lunta karena kedua orangtuanya divorce kini hidup nyaman bagaikan Tuan Takur berkat kebaikan hati Bimo Argo.


Air mata Tito jatuh berderai.


"Bangs*at! Bisa-bisanya kau menggauli istriku setelah apa yang sudah banyak yang kulakukan padamu!"


Seperti ada kekuatan lain yang menyatu dalam tubuh Tito. Langkahnya seolah begitu ringan. Kepalan tangannya sangat cekatan.


Bug bug bug. Bug


Jotosan demi jotosan Tito mendarat telak di wajah Reyhan yang tampan tapi penuh kepalsuan.


Pekikan dan teriakan Rihana, tak jua Tito indahkan.


Baginya, melampiaskan amarah dan kesakithatian Bimo Argo adalah yang utama.


Reyhan yang masih bug*l tak mampu melawan kekuatan Tito yang luar biasa. Serangan Tito yang bertubi-tubi membuat bonyok wajah tampan yang jadi selingkuhan Rihana itu.


Bug bug bug bug


Jedug jedug


Desigh... Prak plak


Tito benar-benar emosi tingkat tinggi.


Gubrak.


Tubuh Reyhan jatuh terlentang dengan lonc*ng sakti menci*t seketika kena hajar kepalan kosong tangan Tito.


Mampus luuu!!! Makan tuh pencarian!!!


Rihana menangis meraung. Suara teriakan dan pekikannya tak mampu membuat para pengunjung lain membantunya karena suara musik jauh lebih keras lagi.


Perempuan itu hanya menutupi bagian tubuhnya dengan sprei tipis warna putih. Tapi masih terlihat siluet lekukan tubuhnya yang s*ksi.


Tito menghampirinya.


Menarik dagu Rihana dan ******* kesal bib*rnya yang keny*l dengan deraian air mata kekecewaan.


"Rihana! Aku... Bimo Argo. Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi. Aku... Mentalakmu, dan pergilah kau ke neraka jah*nam!"


"Mas Bimo! Hik hiks... Mas! Mas Bimooo!!!"


Tito berlari keluar. Meninggalkan Rihana yang menangis keras terduduk di lantai dan tubuh Reyhan yang terlentang pingsan dengan darah segar berlumuran dibagian wajah. Itulah hasil yang mereka dapatkan.


Tito sendiri seolah terbang dengan emosi tingkat tinggi.


Ia menangis dalam diam. Meraung dalam keramaian.


Kakinya berjalan cepat menuju anak tangga dengan Dedy yang tertinggal jauh mengikutinya dari belakang.


Bukannya turun ke lantai dasar, Tito justru naik ke lantai atas, naik lagi dan terus naik.


"Tuan Bimo! Tuan! Mau kemana, Tuan?" teriak Dedy mencoba mengingatkan Tito.


Tetapi hati dan fikiran Tito seperti sudah bercampur dengan kesedihan Bimo Argo.


Airmatanya tak terbendung. Hatinya kadung bingung. Galau gegana tingkat dewa. Dan sakitnya luar biasa.


Seperti menonton adegan demi adegan, tentang awal percintaan Bimo Argo dengan Rihana. Lima belas tahun yang lalu, saat umurnya masih dua puluh tahun. Awal perkenalannya dengan Rihana yang masih berusia empat belas tahun kala itu.


Bimo yang menangis di atas ketinggian jembatan penyebrangan orang ketika Mami Papinya memilih jalan perceraian waktu itu, nyaris nekad ingin terjun dari atas sana.


Merasa tak ada lagi kebahagiaan dan kebanggaan dalam hidupnya. Merasa tak ada lagi yang peduli apalagi menyayanginya. Bimo yang depresi, kecewa dan putus asa. Berhasil digagalkan terjun bebasnya ke jalanan penuh kendaraan lalu lalang.


"No, please...! Jangan begitu, Mas! Jangan lakukan hal itu!!!" teriak Rihana kala itu.


Bimo yang saat itu merasa seperti ada tarikan tangan bidadari cantik berhati malaikat, akhirnya urung bunuh diri.


Lima belas tahun, ia mendapatkan kebaikan bisa berteman dan bersama gadis yang pernah menolongnya keluar dari kegelapan. Justru kini Rihana pula lah yang mendorongnya kembali pada kegelapan itu.


Hati hancur berkeping-keping.


Cintanya terbelah, potek dan hangus terbakar menjadi abu hitam yang mengenaskan.


Rihana ... Dengan tanpa perasaan menyelingkuhinya.


Tapi kenapa justru dengan orang yang juga dia tolong dari kesakitan yang pernah ia rasakan. Reyhan, sama seperti Bimo. Nyaris nekad bunuh diri karena kedua orangtuanya memilih pergi bercerai dan tak peduli padanya.


Kejam. Kejamnya cinta.


Tito masih berurai air mata, ketika kakinya telah menjejak lantai teratas bangunan diskotik tertutup itu.


Bangunan dua belas lantai.


Dengan fikiran kalut dan semrawut, Tito menaiki tangga pembatas rooftop.


"Tuan Bimooo!!!"


Setan sudah bersekutu dengan jiwa Bimo Argo.


Tubuh Tito meluncur bebas dari ketinggian lantai dua belas. Hanya Dedy yang meraung-raung berteriak menyesal sangat dalam, tak sempat menolong Tuan Besarnya dari kematian.


DING


(HOST GAGAL MENJALANKAN MISI)


...-BERSAMBUNG-...