
Tito memegang tangan pemuda yang duduk disampingnya.
"Nama lu siapa? Terus cewe tadi namanya siapa?"
"Hahaha... Caaaaak!!! Astaghfirrrr..."
"Lanjutin istighfarnya! Jangan setengah-setengah gitu coz bakalan laen lagi artinya!"
"O my God!!!!! Ini beneran elu, Cak? Koq lu jadi kek bapa-bapa?"
"Gue belom jadi bapa-bapa oi!!! Umur gue baru 25 mau 26, masih muda juga!!!"
"Hahaha... Serah lu deh, Cak!!! Aaa, aaa iya, iya...ampun!! Sakit, b*go! Lu pikir maen piting tangan orang gini ga sakit, apa!?"
Bocah itu teriak kesakitan ketika Tito menarik pergelangan tangannya dan memitingnya hingga terpelanting kebelakang.
"Nama lu? Buruan... kasih gue penjelasan!"
Pemuda itu merengut. Matanya menatap Tito tajam. Ia sebenarnya terlihat sudah sangat geregetan pada Tito, tapi berusaha mengerti sepertinya meski tidak dapat ia mengerti pada apa yang tengah terjadi.
Begitupun Tito.
"Gue Yadi. Bukan Yadi Sembako! Tapi Yadi Sadako! Dan elo selalu ngelecehin nama gue jadi Yadi Sembako atau Yadi Setan Sadako. Gue ga suka itu!!! Karena itu nama pemberian emak bapak gue! Pake diselametin bubur merah bubur putih sama nasi ketan kuning! Jadi,... jan sembarangan ganti-ganti nama orang!"
"Maaf ya, Yad! Kalo mungkin selama ini, gue sering jahat... juga sering bully lu!"
"Lah??? Lu baik-baik aja khan, Cak? Lu beneran baik-baik aja khan otak lu, Cak? Jan bikin gue berfikir kalo lu beneran mau bunuh diri, Cak! Eling lu!!! Sadar woy!!!!! Muhammad Azkiel Ardian bin bapak Muhammad Dion Anggara! Anak tunggalnya ibu Sarifah! Inget dosa luuu!! Bunuh diri itu dosa, Cak! Kasian bonyok lu kalo lu mati sia-sia demi sebuah NMAX, bro!!!"
Tito tersenyum mendengarkan nasehat Yadi yang nyerocos tiada henti persis petasan yang dibakar diacara sunatan atau nikahan orang yang baru beres walimahan.
Satu poin akhirnya dia dapat. Pemuda yang tubuhnya ia pinjam ini bernama "Muhammad Azkiel Ardian" dengan nick name "Cakil". Dan mungkin karakter pribadinya yang seorang anak tunggal membuat Cakil suka berbuat sesuka hatinya termasuk ngomong asal pada teman-temannya termasuk si Yadi ini.
Tapi harusnya "Cakil" menjadi anak yang lebih bersyukur. Berbeda sangat jauh dengan dirinya yang hanya bisa memendam kepedihan kisah hidupnya sendirian tanpa ada teman berbagi cerita apalagi teman lain jenis yang mau mendengar keluh kesahnya.
Tito menghapus airmatanya yang meleleh tanpa diminta. Lagi-lagi ia ingat pada nasib dirinya yang dahulu.
Kali ini mungkin Allah ingin ia mendapatkan kehidupan lebih baik. Dengan menjadi pemuda tanggung berumur 16 tahun dengan wajah diatas rata-rata dan keluarga yang cukup stabil, bahkan memiliki seorang kekasih yang manis cantik wajahnya.
Nikmat mana lagi yang kau dustai!
Tito tersenyum sendirian membuat teman disampingnya itu mengguncang-guncang tubuhnya hingga ia tersadar pada keadaannya.
"Cakil! Istighfar woy... Eling bro, eling!!! Jan bikin gue merinding, nyuk! Tadi nangis, tiba-tiba nyengir!!! Gue harus gimana ini?"
Tito berdiri menatap Yadi.
"Kemon, bro! Waktunya sekolah khan?"
"I_iya sih!? Tapi,.... lu ga papa khan? Otak lu ga geser khan?"
"Hehehe... woles boy! Gue baik-baik aja, bro! Mana tas gue? Betewe kita skul dimana? sekolah umum apa kejuruan? Eh, kita sekelas khan? ... O iya, lu jangan tinggalin gue ya!? Lu harus terus dampingi gue! Kalo lu berani tinggalin gue,.. gue bakalan cari lu sampe keujung dunia sekalipun!"
"Hiks!.... Boa edan lu, bro! Makin parah gila lu, Cak!"
"Ya udah! Hayo deh, berangkat!... Lu bonceng si Lastri, gue bawa motor sendiri! Kesian tuh, anak orang nungguin diluar sendirian!"
"Hah??? Anji*rrrrrr... biasanya lu sewot kalo gue goda si Lastri ngajak dibonceng gue!"
"Sstttt!!! Dah, jan banyak bacod! Kuy skola!!!"
Ia berdiri sebentar dicermin. Menatap kembali keseluruhan wajah dan tubuh mudanya.
"Anjiiiiiii*rrrr, gue keren paraaaaah!!!" katanya membuat Yadi lagi-lagi menoyor belakang kepalanya hingga ia tertoyor kedepan.
"Kurang ajar banget ni bocah!"
"Bodo amat!!! Pusing gue, liat kelakuan dajjal lu!"
"Yadi!!! Jangan ngomong dajjal! Dunia kiamat kalo dajjal keluar! Emang lu udah siap kalo kiamat!?!"
Yadi terkekeh. Keluar lebih dulu dari kamar Tito mmm maksudnya kamar Cakil, lalu membuka pintu rumah.
Lastri masih duduk dikursi rotan yang tersedia diteras rumah Cakil.
"Cakiiiiiil...!!!!"
"Maaf ya, Lastri! Lastri berangkat dibonceng Yadi ya? Cakil pengen naek motor sendiri!"
"Cakil??? Beneran???? Kamu kenapa siiiiih?... Emang Lastri salah apaaaaaa....???? Hik hik hiks... Iiiih Cakil maaaaaah!!!!"
"Lastri ga da salah! Aku yang salah. Otakku lagi ga konek! Maaf ya!"
"Sayang! Iiiih, sayangku! Plis, apa salah aku sampe kamu koq terkesan jauhin aku? Juga keliatan banget ga senang kedatanganku!"
"Ga, Lastri sayang! Aku ga jauhin kamu. Aku cuma butuh waktu sendirian! Plis, sayang! Mohon mengerti aku!"
Tito terkejut pada ucapannya sendiri.
Hebat sekali kata-kata manisnya yang hampir mirip "Don Yuan".
Tito juga merasa bersalah melihat Lastri yang sedih sambil menghentakkan kakinya kelantai karena bingung dan kesal pada tindakan 'Cakil' yang tidak seperti biasanya.
Membuatnya segera menepuk bahu gadis itu pelan.
"Maaf ya, aku mohon pengertianmu dek Lastri!"
"Dek??? Kamu sekarang nganggap aku 'adek'???"
Tangis Lastri pecah seketika membuat Tito makin bingung. Ia hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya dan menghela nafas berat.
Tito memang pria yang mulai beranjak dewasa. Tapi untuk menenangkan perempuan yang sedang galau dan dirundung kesedihan, ia tak punya pengalaman.
Kebingungan pun menyerang hati dan jiwanya. Hanya senyuman nakal Yadi yang membuatnya geleng-geleng kepala.
Bocah itu nyengir dengan puasnya sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya pada Tito.
"Mampu*us luuuuuuu...!!! Hahaha ..."
Beginilah hidup Tito sekarang.
Hanya helaan nafas yang bisa sedikit membuatnya bisa menarik nafas lega.
Seperti ada dua bongkahan batu menghimpit dadanya yang sesak. Dan tiba-tiba, tubuhnya jatuh terjelembab hilang keseimbangan.
Dan...
-Bersambung-