
Latisha! Malangnya nasibmu!
Tito masih memperhatikan gadis sipit itu dalam diam. Kini ia mulai mengerti, kemungkinan Latisha adalah anak tiri wanita itu.
Kisahnya seperti aku dan Yoga! Tapi versi cewek dan lebih dramatis hidupnya! Gumam hati Tito.
Tito hanya bisa mengamati pergerakan Latisha yang menunduk dilempar lembaran uang lima ribuan empat buah oleh Ega.
Gadis sipit itu memungut lembaran uang yang berserakan di bawah. Lalu perlahan pergi. Sepertinya kali ini menurut lagi. Mengikuti perintah si Nona Besar, membeli takoyaki.
Tito hanya bisa menghela nafas. Ikut sedih juga prihatin. Gadis itu mengingatkan pada dirinya yang lemah. Yang tak bisa melawan tirani kekejaman Mama Tirinya.
Sedih hatinya bila mengingat motor Yamaha R15 barunya yang kini dipakai Yoga. Hhh...
DING
DING
DING
(MISI ONLINE)
Ada misi lagi? Waduh?!?
(APAKAH HOST BERSEDIA JALANKAN MISI)
(AMBIL. YA ATAU TIDAK)
Hm. Okelah kalau begitu! Oiya, boleh ga aku bertanya, Boss?
(PERTANYAAN DIPENDING. TUGAS MISI LEBIH PENTING)
Hm. Oke! Baiklah! Sebentar, aku cari tempat yang nyaman dulu, Boss!
Tito melangkah menuju gazebo yang ada di taman belakang rumahnya.
Ia merasakan kepalanya sangat sakit. Dia memencet dahi serta pelipisnya pelan. Tetapi justru semakin terasa sakit dan...
Gubrag.
Tito jatuh pingsan.
............
"Alhamdulillaah! Akhirnya kamu sadar juga, Farhan!"
Tito mengerjapkan mata. Ia melihat sekeliling. Seorang perempuan memandangnya dengan tatapan lega.
Seperti biasa, Tito menghela nafas. Mengatur peredaran darah agar detak jantungnya yang semula berdetak kencang kembali berjalan normal.
Wanita itu memberinya segelas air putih.
"Minum dulu, Han!"
Tito menurut. Ia meminumnya sampai tandas.
"Kamu baik-baik saja khan, Han?"
Tito mengangguk.
Krucuuuuk...
Tiba-tiba perutnya berbunyi. Membuat wanita itu tersenyum lebar sembari dan menatapnya lagi.
"Sebentar ya, tante beli makanan dulu di kantin rumah sakit! Apa boleh Tante tinggal sebentar, buat cari makanan? Sebentar ya?!"
Tito mengangguk pelan.
Wanita yang menyebut dirinya Tante itu pun pergi keluar kamar rawat inapnya.
Tito memperhatikan pergelangan tangan kirinya yang tersambung dengan selang infus cairan. Rupanya ia saat ini adalah seorang pasien rumah sakit yang sedang sakit.
Sakit? Sakit apa ini? Koq sebelah kanan tangannya terbalut kain kasa. Dan...
"Aduh!" Tito terpekik.
Sakit rasanya ketika ia menggerakkan pergelangan tangan kanannya.
Dengan bantuan tangan kiri, Tito mencoba membongkar sedikit luka yang terbalut. Ia penasaran. Mungkinkah ia adalah korban kecelakaan? Tetapi lukanya hanya ada di pergelangan tangan kanan saja. Tiada luka yang lain.
Eh? Koq? Seperti luka sayatan! Apa mungkin... MC saat ini juga pasien gagal bunuh diri? O-o...
DING
(BETUL. MISI HOST KALI INI HARUS MEMBANTU MENTAL MC DARI KETERPURUKAN YANG INGIN MENGAKHIRI HIDUP)
Hm. Begitu rupanya.
(SYSTEM MENDETEKSI STATUS ONLINE HOST)
NAMA HOST : TITO SULISTYO
UMUR : 26 TAHUN
JENIS KELAMIN : LAKI-LAKI
KEKUATAN : 40 %
KESEHATAN : 40 %
KEPINTARAN : 30 %
KETAMPANAN : 75 %
NOMINAL REKENING : RP. 20.600.000,00
ASET : SEBUAH SEPEDA MOTOR YAMAHA R15 DAN SEBUAH RUMAH DI MENTENG RAYA
KEMAMPUAN/SKILL : MEMILIKI TINGKAT KEMAMPUAN ILMU BELA DIRI
MISI : KE-ENAM LANJUTAN SYSTEM BERGANTI SERATUS WAJAH
"Farhan!... Kamu baik-baik aja khan?"
Tito terperangah. Seorang gadis manis berjilbab putih dan berseragam putih abu-abu memasuki ruangannya dengan nafas masih tersengal-sengal.
Gadis manis berkerudung putih! Kamu manis sekali!
Tito terpesona seketika. Bahkan ia sampai lupa caranya bernafas.
"Farhan! Farhan!!!"
Gadis itu mengguncang-guncangkan bahunya pelan. Matanya tampak berkaca-kaca.
Seketika Tito langsung menarik nafas panjang dan menghelanya pelan-pelan.
Tito mengangguk.
"Syakila sudah pulang sekolah?"
Wanita paruh baya tadi masuk kembali dengan membawa semangkuk bubur ayam yang terlihat masih panas mengepul.
"Sudah, Ma!" jawab gadis manis itu.
Seketika Tito menyadari. Rupanya Syakila adalah putri dari Tante ini!
"Farhan tidak apa-apa! Farhan baik-baik saja, Sayang! Iya khan Farhan?"
Tito mengangguk.
Jadi kali ini namaku adalah Farhan.
"Mama...! Bolehkah Syakila mengobrol empat mata sama Farhan? Boleh ya?"
Mamanya Syakila mengeryitkan dahinya. Senyumnya mengembang perlahan.
"Tentu saja, Sayang! Mama tunggu di luar ya? Oh iya, tolong suapi Farhan ya, biar mau makan. Farhan belum makan dari kemarin malam, Sayang!"
"Iya!"
Tito hanya bisa menatap Mama Syakila sampai menghilang di balik pintu kamar.
"Han!... Kenapa lakukan hal bodoh itu, Han? Kenapa?"
"Apanya?" Tito balik tanya.
"Itu! Untuk apa kamu sampai menyayat pergelangan tanganmu dan mengunci diri di kamar mandi? Kamu beneran kepengen mati? Hah? Kamu seriusan mau pergi dari dunia ini hanya karena Papamu menikah dengan Mamaku? Segitu bencinya kah kamu sama Mamaku? Sampai tak bisa terima kalau Mama sekarang jadi Mama tirimu?"
Deg.
"Bu_bukan begitu, Sya!"
"Lalu apa?"
Tito tertunduk. Tak berani menyaksikan kilatan amarah dan kekecewaan yang ada di mata Syakila.
Ia merasa sakit di ulu hati. Hingga tanpa sadar tangannya menekan dada sebelah kiri dan tiba-tiba hatinya sedih sekali.
"Kamu gak tau, Sya! Kamu gak tau yang sebenarnya!" gumam Tito dengan suara pelan.
"Apa? Apa yang aku gak tau, Han?..."
Tito mengusap setetes airmata yang hampir jatuh di pipi.
"Kita ini...sahabatan sejak kelas satu SMP! Kita adalah best friend. Kamu kenal Mamaku, aku tahu Papamu. Mereka berdua sama-sama single! Mereka jatuh cinta! Tidakkah kamu melihat pendaran cinta disetiap tatapan mata mereka? Apa salah jika mereka kini ingin sekali menyatukan dua keluarga menjadi,"
"Jangan diteruskan, Syakila!"
Tito menarik selimutnya. Ia membalikkan tubuhnya memunggungi Syakila.
"Untung ada Mamaku datang ke rumahmu! Papamu sedang dinas ke luar kota. Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, apa jadinya keadaan Mamaku, Farhan?"
"Stop, Sayang! Jangan terus-terusan menyalahkan Farhan!"
Mamanya Syakila rupanya sudah ada di depan pintu rawat inap Tito alias Farhan (kali ini). Beliau menatap wajah sang putri dengan tatapan mengiba. Agar Syakila tidak semakin membuat Farhan terluka.
"Makan dulu buburnya!" ujar Mama Syakila lembut sambil membuka selimut yang menutupi dada Farhan.
"Tolong tinggalkan aku sendiri! Please..."
Tito hanya bisa meminta keduanya untuk keluar dari kamarnya. Ia mengantuk dan ingin tidur. Sepertinya Tito terpengaruh obat penenang yang dokter suntikkan lewat selang infus tadi.
Tinggallah Syakila dan Mamanya yang hanya bisa terdiam. Mereka keluar kamar dengan langkah gontai.
...-BERSAMBUNG-...
.............