SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 303


Sementara itu, di kamar yang sempit untuk para bodyguard yang melajang, Xiaoli masih duduk di kursi kayu kamarnya. Menatap pada bingkai foto yang sejak hari pertama ia berada di mess bodyguard sudah ia letakkan di sana.


itu adalah foto yang sangat ingin di ketahui oleh Jia. Siapa yang ada di dalam bingkai foto itu? Kekasihnya, kah? Begitulah pemikiran sang gadis cantik ketika pertama kali mendatangi kamar Xiaoli dan membuat keributan luar biasa.


"Kehidupan tidak selalu dan selamanya indah... Perjuangan akan selalu menyertainya. Dan pelajaran yang kita dapat adalah pengantar siapa kita di masa depan."


"Bukankah begitu, Ayah?" gumam sang bodyguard menatap potret lelaki yang baru saja ia telepon melalui bingkai kecil itu.


Ya, itu adalah foto keluarga Xiao. Di dalam foto itu, Xiaoli masih terlihat berusia sekitar 7 tahun. Dan sang adik masih berada di pangkuan sang ibu. Kurang lebih berusia 2 tahun.


"Dan aku harus menjadi lelaki yang bertanggung jawab dengan apa yang sudah Tuhan takdirkan untukku. Bukankah begitu, Ibu?" tanya nya pada potret sang Ibu yang duduk di kursi kayu berdampingan dengan sang Ayah. Sementara dirinya merangkul kedua orang tuanya dari belakang kursi.


"Maafkan putra mu ini, Ibu... Ayah..." gumamnya terdengar menahan sesak. "Tanpa sepengetahuan kalian, aku sudah melakukan hal terbodoh yang pernah di lakukan oleh seorang bodyguard rendahan seperti ku..."


"Aku dengan lancang telah jatuh cinta pada sosok bidadari surga yang di turunkan Tuhan di sebuah kerajaan terbesar di tanah Italia ini."


"Aku yang setara kacung rendahan ini, dengan tidak tau dirinya menyatakan cinta pada berlian mewah yang tidak sembarang orang bisa menyentuhnya..." lirih sang bodyguard.


"Tapi kalian tau? ternyata dia juga mencintai ku, Bu...." ucap sang bodyguard menahan gejolak cinta yang membuncah di dalam hatinya.


"Aku sangat tidak menyangka, logam tidak berguna sepertiku bisa merasakan cinta luar biasa dari berlian mewah yang tak ternilai harganya."


"Aku sangat mencintai berlian itu, Bu.. Aku sangat menginginkan dirinya untuk menjadi pendamping hidupku... Hidup seorang bodyguard yang kesejahteraan keluarganya hanya bergantung pada kebaikan leluhur sang berlian."


"Apakah itu memalukan?"


Sepasang mata sang bodyguard berkaca-kaca ketika menganggap hal itu sangat memalukan. Apa yang ia alami dan ia dapatkan selama ini bagai sebuah keajaiban yang luar biasa menakjubkan. Tidak semua bodyguard seberuntung dirinya, bukan?


"Mungkin kalian akan kecewa jika tau akuu dan nona muda Klan Black Hold menjalin hubungan seperti ini... Mungkin kalian akan marah karena menganggap aku tidak tau diri..."


"Percayalah, Ibu...Ayah... Aku tidak pernah lupa asal muasal ku. Aku tidak pernah lupa untuk menjaga harga diri kita... Walau kita hanya keluarga sekelas bodyguard."


"Tapi apapun yang akan kalian ucapkan kelak... Maafkan aku jika kelak aku harus tetap berjuang untuk cinta kami...' lirih sang bodyguard. "Semua itu tidak akan mengurangi rasa sayang ku pada kalian..."


Di saat kesenduan sang bodyguard, ponsel di atas meja yang baru saja ia letakkan setelah menghubungi keluarga, kini kembali berdering oleh sebuah notifikasi pesan.


[ Xiaoli? belum tidur kah? ]


Sebuah pesan dari nama yang baru saja ia melintas di dalam pikirannya. Segera ia meraih ponsel dan membuka pesan sang gadis.


Namun ketika jemari hendak mengetik balasan, layar sudah berubah menjadi masuknya sebuah panggilan video call.


Terhentak sedikit, namun Xiaoli langsung menarik lingkaran biru ke atas. Hingga muncullah wajah cantik sang pujaan hati yang sudah terlihat di atas tempat tidur. Berbaring miring, dengan selimut tebal yang sudah menutupi sebagian tubuhnya


"Hai, Sayang?" sapa Xiaoli. "Kenapa belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur..." jawab Jia dari sebrang. "Kamu juga kenapa belum tidur..."


"Aku baru saja menghubungi keluargaku."


"Kamu... menangis?" tanyanya melihat sisa-sisa bening di mata Xiaoli.


Xiaoli memaksakan bibirnya untuk tersenyum dan menatap teduh pada wajah cantik di hadapan. "Aku hanya terharu melihat mereka. Sebelum esok kami tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama."


"Oh..." Jia tampak ikut bersedih. Terlihat dari raut wajahnya yang seketika berubah menjadi masam.


"Aku hanya takut tidak bisa melihat mereka lagi. Kedua orang tua ku sudah terllau tua, terutama Ayah ku, Bao Bao."


"Aku merasakan apa yang kamu rasakan, Sayang! Kamu tau sendiri... Aku tinggal jauh dari keluargaku selama tujuh tahun..."


"Tapi kali ini... Kita tidak akan berkomunikasi selama tiga tahun, atau bahkan lebih..." lanjutnya menghela nafas berat.


Seberat tanggung jawab yang di embankan pada pundak kokohnya.


"Semua pasti akan baik-baik saja... kita harus yakin!" sahut Jia menutupi rasa takutnya.


Xiaoli menatap lekat dan penuh rasa sayang pada sang kekasih. Untuk kemudian melanjutkan obrolan yang ringan yang membuat keduanya saling menghibur satu sama lain. Menutupi kesedihan yang tidak lama lagi akan menjadi sebuah rindu yang mendalam tanpa tau kapan akan bisa menguar.


***


"Pemuda ini sungguh misterius..." gumam Jellow membaca data Axton yang di rasa cukup ambigu untuknya.


"Hmm..." sahut Jio mengangguk. "Namanya tidak tercatat sebagai turunan bangsawan. Tapi dia memiliki kepintaran yang luar biasa sepertinya. Ketika aku mencoba untuk meretas salah satu situs yang mencatut namanya, aku justru terlibat saling serang kode dengan dia."


"Dia juga ahli di dunia coding code?" tanya Jellow.


"Sepertinya begitu..."


Jellow terdiam mengamati apa yang ada di layar laptopnya. "Dia tercatat pernah mendatangi beberapa negara dalam waktu yang tidak lama. Jika dia bukan bangsawan yang di penuhi dengan tugas perusahaan. Untuk apa dia berpindah dari satu negara ke negara ain. Bukankah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit?"


"Dia juga tidak tercatat sebagai karyawan apapun..." sahut Jio.


"Dia terlihat beberapa kali menggunakan barang mewah!" sahut Jellow.


"Aku juga mencurigai hal itu..." gumam Jio.


"Jadi apa yang ingin kamu lakukan?"


"Aku akan datang ke kampus besok! Aku harus mengetahui dia secara langsung..."


"Ah, f*ck!" umpat Jellow tiba-tiba menatap layar laptop milik Arsen.


"Ada apa?" Jio sontak menatap sang sepupu dengan tatapan penuh tanda tanya ketika sang sepupu mengetik sesuatu di atas keyboard.


"Lihat! Tiba-tiba semua informasi tentang dia menghilang begitu saja dan tidak bisa aku masuki lagi!" jawab Jellow mengarahkan monitor ke arah wajah Jio.


"Dia benar-benar misterius!" lanjutnya bergumam menatap mata Jio.


Walau Jio tidak menjawab apapun, ia bisa mengartikan jika Jio setuju dengan asumsinya.


Axton Jacob mencurigakan ...


"Aku akan membuat algoritma baru untuk menembus pertahanannya.." gumam Jio meraih laptop, dan kini laptop itu berhadapan dengan dirinya.


"Ya! Kamu adalah hacker terhebat yang pernah aku kenal. Jika kamu serius, aku yakin ini bukan masalah besar!" ujar Jellow.


***


Di belahan kota Italia yang lain, seorang pemuda duduk di balik meja belajar, sembari menatap layar laptopnya.


"Aku tidak suka privasi ku di cari-cari begini..." gerutunya mengamankan semua datanya lebih baik lagi. "Siapa sebenarnya mereka? Iseng sekali mencari data ku sampai meretas begini..."


"Untung aku pintar!" serunya tersenyum menatap layar laptop.


"Selamat memasuki halaman kosong..."


...🪴 Bersambung ... 🪴...